

Jam berdenting, hari silih berganti, aku pun tumbuh besar dan menemukan banyak pilihan jalan hidup yang tidak kalah menariknya. Satu hal yang tidak pernah kukubur dan tidak semua orang tahu, aku masih menyimpan hasrat untuk bisa bernyanyi di depan banyak orang. Hanya saja, aku tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk benar-benar bernyanyi hingga akhirnya aku hanya memendam keinginan ini dalam-dalam. Meski begitu, aku senang sekali bersenandung: saat sedang mandi, saat berkendara, dan setiap ada kesempatan akan kugunakan untuk sekadar bersenandung kecil.


Barulah sekitar tahun 2019, di usiaku yang menginjak 22 tahun aku memberanikan diri masuk ke ruangan karaoke dan mulai bernyanyi untuk pertama kalinya. Kala itu, lagu pertama yang kunyanyikan tentu lagu lagu hits yang lembut dan halus. Aku ingat betul, lagu pertama yang kunyanyikan adalah lagu milik Vidi Aldiano yang berjudul Nuansa Bening. Satu hal yang kuperhatikan kala bernyanyi, aku rupanya kesulitan menyanyikan lagu dengan mayoritas nada rendah tersebut. Salah seorang kawanku akhirnya menyarankan aku untuk menjajal lagu klasik milik Whitney Houston, I will Always Love You. Secara mengejutkan, aku mampu bernyanyi dengan santai dan menggapai nada yang, seharusnya, menjadi nada dasar milik seorang Wanita tanpa harus menurunkan nadanya.
Sejak saat itu, aku mulai ketagihan masuk ruangan karaoke. Setidak-tidaknya, aku akan menyempatkan waktu sekali dalam sebulan untuk bernyanyi di dalam ruangan karaoke. Disana aku bisa bernyanyi dengan lepas dan bernyanyi lagu apapun yang kusuka tanpa perlu khawatir dikritik atau ditegur karena terlalu berisik. Semakin lama, salah seorang sahabatku menyadari bahwa sebenarnya suaraku cukup unik dan bisa diasah. Ia yang akhirnya rutin mengajakku untuk bernyanyi sambil melepas penat. Ia juga yang menyarankan lagu jenis apa yang sekiranya cocok untuk jenis suara sepertiku. Semakin lama, aku semakin luwes dan relaks saat bernyanyi. Tidak perlu waktu lama untuk aku akhirnya menjajal panggung kecil di hadapan orang asing. Tahun 2019 akhir, aku disodori microphone oleh seorang penyanyi kafe dan kami berujung bernyanyi bersama. Gemuruh tepuk tangan dari para pengunjung yang notabene merupakan orang asing mengakhiri performa dadakan tersebut. Ego-ku mulai naik, aku merasa sepertinya aku bisa untuk bernyanyi. Sejak saat itu, frekuensi aku dan sahabatku untuk bernyanyi di ruang karaoke semakin intens. Setidaknya dua hingga tiga kali sebulan aku menyewa ruangan dan bernyanyi selama satu jam. Semua itu rutin kulakukan hingga aku mulai percaya diri bernyanyi di ruang publik. Siapa sangka, aku yang memulai bernyanyi di usia 22—yang orang bilang sudah terlambat, bisa lambat laun bernyanyi bersama penyanyi terkenal dan mulai mendapatkan spotlight? Fiersa Besari, Brisia Jodie, Yura Yunita, hingga Hedi Yunus sudah pernah kujajal untuk bernyanyi bersama. Gemetaran? Tentu saja, tapi kalau tidak dihajar, aku tidak akan punya kenangan yang bisa kutulis dan kuceritakan.


Lantas aku berpikir, mimpi apa lagi yang selanjutya harus kujajal? Apakah ini saatnya aku masuk ke dunia pasar modal? Apakah ini saatnya menghapus pikiran bahwa investasi hanya untuk orang-orang berduit?