Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Kreativitas Tanpa Batas

Super Kreatif Tanpa Sekolah Formal

Salah satu bagian perjalanan karier saya adalah periode satu dekade di sebuah perusahaan broker saham - investment bank multinasional. Tentu banyak kisah tawa dan air mata selama perjalanan karier tersebut. 

Bagian yang paling membuat bahagia adalah ketika ada anggota tim saya yang bisa membangun karier luar biasa, yang dibicarakan dengan nada kagum di pasar saham. Lebih-lebih kalau yang latar belakang pendidikannya dianggap “biasa-biasa saja”. Mungkin karena latar belakang pendidikan saya juga sama biasanya. 

Salah satunya adalah cerita mengenai Rina (nama lain yang sebenarnya jarang dia pakai sehari-hari, tapi dia lebih memilih untuk pakai Rina dalam tulisan ini). Pertemuan pertama saya dan Rina terjadi di sebuah forum untuk jurnalis. Kebetulan ia duduk di sebelah saya. Kesan pertama. orang ini kok agresif sekali. Persistensinya luar biasa. Pantang mundur. Fearless khas jurnalis. Kita kemudian berkenalan (atau tepatnya ia yang agresif memperkenalkan diri) dan singkat cerita, Rina akhirnya bergabung dengan perusahaan broker saham kami. 

Layaknya seorang jurnalis investigatif, Rina akan menggali secara dalam mengenai suatu topik. Karena di dunia pasar saham, tentu fokusnya adalah hal-hal yang mempunyai potensi besar untuk memengaruhi harga saham namun belum diapresiasi oleh pasar. Istilah teknisnya on-the-ground-stock-research. 

Tentu latar belakang Rina yang nggak mainstream, bukan CFA (Chartered Financial Analyst) dan bukan pula sekolah bisnis, sering dipertanyakan oleh kolega maupun klien. Bahkan Rina sendiri sempat minta untuk mencoba belajar CFA. Saya persilakan mencoba. Ternyata hanya dengan mengikuti satu kelas saja Rina tahu bahwa CFA bukan untuknya. CFA jelas bukan untuk semua orang dan manfaatnya berbeda-beda untuk tiap individu.

Dengan segala “keterbatasan” yang ada, ternyata produk Rina menjadi salah satu produk yang paling populer di pasar. Semua membicarakannya. Sudut pandangnya sangat unik. Remarkable, sapi ungu, viral. Konsekuensinya, klien bersedia bayar untuk produk ini. 

Tanpa pendidikan formal sebagai bekal seorang analis saham, Rina sukses berat di dunia riset saham. Apa yang terjadi? 

Untuk mencoba menjawab pertanyaan ini, saya coba untuk menggali kisah-kisah serupa, tapi di bidang yang lain. Orang-orang yang tanpa bekal pendidikan formal di bidangnya, namun bisa sukses luar biasa. 

Arsitek superstar Tadao Ando dari Jepang adalah seorang pemenang hadiah bergengsi di dunia arsitektur yaitu Pritzker Architecture Prize. Hadiah ini sering dibilang Nobel Prize-nya dunia arsitektur. Yang lebih luar biasa adalah Ando memulai kariernya sebagai seorang ….. petinju profesional.

Walaupun telah menghasilkan desain bangunan-bangunan yang menjadi ikon dunia, Ando sebenarnya tidak pernah belajar prinsip dasar arsitektur. Memang arsitektur bukanlah kumpulan prosedur textbook dan standar operasi, namun tetap saja sekolah arsitektur mengajarkan banyak hal dasar yang penting. Misalnya, bagaimana memulai konstruksi sebuah bangunan dan cara matematis untuk merencanakan sebuah desain. 

Memulai karier tanpa kaitan dengan arsitektur dan desain, bagaimana cara Ando mengubah total fungsi kerja tangannya dari tinju ke arsitektur?

Bukankah tinju sama sekali tidak berkaitan dengan desain dan arsitektur? Atau mungkin kaitan itu sebenarnya ada? Mungkin tinju telah mengajarkan Ando untuk menjadi seorang yang tangguh, baik fisik maupun mental. Setelah memutuskan untuk menggapai mimpinya di arsitektur, Ando mendorong diri sedemikian keras untuk memperoleh kesempatan yang berharga untuk menggantikan pendidikan formal arsitektur yang tidak pernah dia peroleh. 

Dalam proses transisinya, Ando rajin mendatangi bangunan-bangunan tua di kotanya Osaka, dan dia pelajari dengan tekun. Ando juga habis-habisan belajar arsitektur, datang ke kelas malam, dan membaca buku-buku arsitektur. Sebagai atlet, Ando memperoleh kesempatan untuk bepergian ke berbagai penjuru dunia. Sebenarnya untuk bertanding tinju, tapi Ando juga memanfaatkan waktunya untuk mendapatkan exposure ke berbagai macam budaya arsitektur dunia. 

Ando ternyata tidak sendirian. Arsitek legendaris Frank Lloyd Wright juga tidak mempunyai training formal yang cukup untuk menjadi arsitek. Toh hari ini tidak ada arsitek di dunia yang tidak mengenal namanya. 

Baik Ando maupun Wright memang tidak pernah mendapatkan akses ke training formal arsitek. Bukannya marah-marah atas situasi yang tidak menguntungkan ini, mereka justru sanggup merubah situasi ini menjadi keuntungan mereka, bahkan menjadi hal terbaik di hidup mereka. 

Kalau saja Ando and Wright penah ke sekolah arsitek mainstream, mungkin dosen mereka akan memberitahu hal-hal apa yang aman untuk dilakukan dan apa yang tidak aman. Buat Ando dan Wright, batasan aman-tidak aman ini tidak pernah ada. Dan ini adalah keuntungan luar biasa bagi mereka karena mereka tidak pernah didoktrin bahwa tidak akan pernah ada klien yang akan menerima gagasan desain mereka yang terlalu “liar”. Hasilnya adalah ide-ide yang begitu baru dan orisinal. Dan ide-ide ini menarik banyak penggemar dan pengkritik sekaligus. Heboh. 

Kalau Ando dan Wright telah memperlihatkan ke kita bahwa kreativitas arsitek tidak selalu lahir dari kumpulan catatan kuliah, bagaimana dengan bidang kreatif lain?

Dalam buku “Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World”, penulis David Eipstein berbagi cerita mengenai Jack Cecchini. 

Cecchini sangat langka dan unik karena dia adalah musisi kelas dunia untuk Jazz dan Klasik sekaligus. Yang juga sangat unik adalah Cecchini tidak mempunyai latar belakang pendidikan musik formal. Di masa mudanya, Cecchini yang sangat tertarik pada gitar harus memutar terlebih dahulu untuk belajar klarinet. Mengapa? Karena dia mempunyai kesempatan untuk belajar klarinet secara gratis. Baru dari sana, apa yang dia pelajari di klarinet ditransfer ke gitar!

Toh Cecchini bisa tur bareng Frank Sinatra, Miriam Makeba, dan Harry Belafonte. Cecchini juga dikenal sebagai salah satu guru gitar Jazz dan Klasik yang paling banyak dicari. Dan satu-satunya pendidikan formal musiknya adalah kelas gratis klarinet. Cecchini pernah bilang bahwa 98% skill dan pengetahuan dia adalah hasil dari belajar sendiri (independent learning). 

Soal musisi kelas dunia yang tidak punya latar belakang training formal, Cecchini tidak sendirian. Ada beberapa contoh yang lain. Jagoan improvisasi Django Reinhardt, yang lahir di sebuah karavan kaum gipsi di Belgia di tahun 1910, bahkan buta membaca musik. Django belajar musik secara call-and-response style, di mana satu frase musik sebagai “call” akan dijawab dengan frase musik yag berbeda sebagai jawabannya. Alat musik favorit Django adalah campuran banjo dan gitar. Tanpa latar belakang sekolah musik, Django di usia lima belasan tahun sudah membuat heboh musisi senior Paris dengan improvisasinya.  

Django juga tahan banting. Di usia 18 tahun, bencana api membakar setengah tubuhnya. Django harus istirahat selama 18 bulan dan dipaksa untuk bisa bermain musik hanya dengan jempol dan dua jarinya. Bukannya menyerah, Django malah muncul kembali di dunia musik dengan cara baru memegang alat musiknya. Kreativitasnya pun makin dahsyat. 

Jauh hari sebelum Jimi Hendrix berimprovisasi dengan “The Star-Spangled Banner”, Django melakukan hal serupa dengan lagu kebangsaan Prancis “La Marseillaise”.  Django juga seorang komposer simfoni, walaupun tidak bisa membaca musik. Di pop culture pun, karya Django masih banyak dipakai, misalnya di film The Matrix dan The Aviator

Pakar improvisasi, seperti cerita-cerita di atas, belajar seperti bayi. Nyemplung dulu, meniru dan improvisasi  dulu. Baru belajar aturan formal belakangan. Cecchini pernah bilang, seperti halnya kita belajar mambaca buku, pada awalnya kita belajar bagaimana bunyinya dulu baru grammar-nya belakangan. Cecchini juga bilang banyak murid dia datang dari sekolah musik Jazz, dan mereka semua terdengar sama persis. Tidak kreatif. Tidak mempunyai voice-nya sendiri. 

Joke-nya di antara musisi Jazz “Kamu bisa membaca musik?” Jawabannya “Tidak sampai membuat permainan saya rusak”. Mungkin joke ini ada benarnya. Kurangnya training formal memaksa orang-orang di atas tadi untuk belajar sendiri (independent learning) dan mengaplikasikan pengetahuannya ke situasi yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Bukankah ini adalah esensi dari kreativitas?

Thought leader Adam Grant, penulis buku Originals, pernah menunjukkan bahwa di rumah tangga dengan anak-anak super kreatif, aturan dalam rumah itu jauh lebih sedikit. Hanya satu aturan dibanding rata-rata enam aturan untuk anak-anak pada umumnya. Orang tua dari anak-anak kreatif memberitahu opini mereka setelah anak-anak berbuat sesuatu yang tidak mereka sukai. Bukannya bikin banyak larangan dan aturan. 

Dengan nabrak-nabrak kesana kemari dan independent learning, baik dalam dunia riset saham, arsitektur, musik, dan saya yakin banyak bidang yang lain, kita akan belajar untuk mencari voice, musik, desain, dan tulisan kita di tempat-tempat yang berbeda. Dan dalam prosesnya, kita akan belajar untuk memecahkan masalah. Memang akan lebih menyakitkan dan lebih lambat untuk belajar dengan cara ini. Tapi seperti contoh-contoh di atas, hasilnya bisa luar biasa. Langka dan berharga. 

Jadi bagi kita yang tidak pernah memperoleh kesempatan mendapatkan edukasi formal untuk bidang yang kita ingin tekuni, tidak perlu berkecil hati. Kita bisa mengubahnya menjadi keuntungan dan kreativitas luar biasa, seperti yang telah ditunjukkan oleh Rina, Ando, Wright, Cecchini, dan Reinhardt.

Selama kita mencurahkan seluruh hati, mimpi dan semangat kita, semua hal itu... possible!

 

Ditulis oleh Wuddy Warsono, CFA, 5 Agustus 2019.

Share :

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Membagikan Kebahagiaan

Awal Agustus lalu, dalam kunjungan ke Las Vegas, s...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, Blog Sucor, Belajar Investasi, Belajar Saham,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Merdeka Untuk Memilih

Baru-baru ini saya berkunjung ke Los Angeles, Amer...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, Blog Sucor, Investasi, Belajar Investasi, Belajar Saham,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Super Kreatif Tanpa Sekolah Formal

Salah satu bagian perjalanan karier saya adalah pe...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, Blog Sucor,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Circuit Breaker

Di awal Mei tahun ini, saya beruntung bisa menghad...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, Blog Sucor,

More Information
about
about

2019 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.