Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

apakah benar semua hanya keberuntungan?

Serial Keberuntungan?

Waktu jaman kuliah di Surabaya dulu, saya juga sambil bekerja sebagai salesman tinta cetak. Sebenarnya, antara kuliah sambil bekerja atau bekerja sambil kuliah, batasnya tak lagi jelas.Yang penting survive

Sering saya harus datang ke kampus dengan baju kena bercak tinta. Dan harus membawa sampel tinta berkaleng-kaleng di kantongan kresek.

Karena suka malu sama rekan mahasiswa, eh mahasiswi, saya tutupi baju dengan kaos. Urusan baju selesai, tinggal urusan contoh tinta di kantong kresek.

Akhirnya saya ketemu jalan keluar. Kaleng-kaleng tinta saya titipkan ke perpustakaan kampus. Untung petugas perpustakaan berbaik hati dan pura-pura tidak tahu kalau saya cuma bermaksud menitipkan kaleng tinta cetak. 

Karena sering main ke perpustakaan, saya jadi tergoda untuk melihat-lihat buku. Akhirnya saya mulai suka membaca, bahkan jadi cinta membaca. Padahal tidak ada tradisi membaca buku dalam keluarga. 

Buku menjadi salah satu sumber pengetahuan dan motivasi saya. Sampai hari ini. Karena saya tidak punya akses berbicara langsung ke Steve Jobs, Bill Gates, Sudono Salim, Piet Yap, ataupun Robert Kuok misalnya. Tapi saya bisa membaca buku tentang mereka. Seakan-akan saya kenal dekat dan bisa belajar langsung dari orang-orang hebat ini.

Saya merasa sangat beruntung karena kebetulan suka main ke perpustakaan kampus, walau motivasi awalnya salah.

 

Juga saya merasa beruntung bahwa kebetulan berkuliah di Unika Widya Mandala Surabaya. Karena lokasi kampus dekat kantor Citibank Surabaya. Melihat karyawan Citibank yang keren, saya jadi termotivasi kerja di sana. 

Mencoba berkali-kali, akhirnya saya berhasil masuk kerja ke sana. Dengan bantuan seorang dosen Widya Mandala yang sangat saya hormati, Pak Trisno Musanto.

Saya juga merasa beruntung bahwa secara kebetulan, karier pertama saya adalah Citibank. Walau lewat jalur yang secara bergurau kita namakan jalur becak yang kemajuan kariernya suka selowww

Di Citibank, saya belajar soal mindset yang baru. Soal profesionalisme dan growth mindset, misalnya. Lalu saya tersadar ternyata penghuni jalur becak banyak yang tidak kalah dengan penghuni jalur F1, yang rata-rata lulusan luar negeri. Rasa minder saya pun hilang, untuk selamanya.

Kebetulan juga, Citibank sering menjadi yang pertama dalam banyak hal. Termasuk dalam hal jualan reksadana saham di tahun 90-an. Suatu hari di pertengahan 90-an, tim Citibank Jakarta datang dan berbicara soal pasar saham. 

Langsung saya tercengang dan jatuh cinta. Bukan pada presenter-nya, tapi pada dunia pasar saham. 

Saya bertanya-tanya apa bisa kerja di tim mereka. Ditanya bagaimana skill bahasa Inggris, saya bilang cuma bisa Inggris pasif karena dulu tiap hari main ke perpustakaan. Mereka pun menyarankan saya sekolah lagi ke luar negeri dan memperdalam bahasa Inggris dulu. Ya wes, saya turutin, namanya sudah jatuh cinta.

 

Saya merasa beruntung kebetulan ketemu tim reksadana Citibank. Jadi termotivasi sekolah lagi. Saya pilih ke Inggris karena konon jarang sekali mahasiswa/i asal Indonesia di sana, jadi terpaksa berbicara bahasa Inggris. 

Saya berangkat ke Lancaster University di Inggris pertengahan 1997, ambil kelas bahasa Inggris dulu. Kuliahnya sendiri baru mulai bulan Oktober 1997. 

Kalau perjalanan ditunda beberapa bulan, karena bahasa Inggris sudah cukup baik misalnya, pasti saya batal berangkat. Karena krismon keburu datang dan budget membengkak. Tidak mungkin sanggup membiayai sekolah ke Inggris. Permintaan beasiswa juga gatot, gagal total, mungkin karena yang baca surat permohonan saya tidak bisa memahami apa yang saya tulis dengan bahasa Inggris ala Surabaya. 

Lagi-lagi saya merasa beruntung kebetulan berangkat pertengahan 1997 sebelum krismon datang menerjang.

 

Di Inggris saya kebetulan berkenalan dengan dua teman sekelas yang sampai hari ini menjadi sahabat dekat. Satu orang Inggris keturunan Jepang. Satu lagi orang Pakistan dari keluarga elit dan berpendidikan tinggi. Berkat mereka, bahasa Inggris saya mengalami kemajuan. Saya sedang beruntung sekali, begitu pemikiran saya.

Setelah kuliah selesai, saya telepon mantan bos di Citibank. Karena memang dikasih tahu kalau sudah mau lulus disuruh telepon mereka. 

Tapi itu tahun 1998 dan krismon sedang memuncak. Tidak ada kerjaan buat saya. Jadi terpaksa harus berjuang mencari pekerjaan di London.

Kalau sedang kepepet, daya juang kita akan naik berkali lipat. Walau kondisi ekonomi dunia sedang berat, saya mendapatkan pekerjaan yang ideal di bidang project finance. Di sini kemampuan analisa bisa terasah. Saya merasa sedang beruntung sekali. Lagian poundsterling kalau ditukar ke rupiah yang sedang terpuruk saat itu, ya lumayan juga.

Ternyata tidak lama setelah itu, saya harus pulang ke Indonesia karena perusahaan tempat kerja di London dibeli perusahaan lain dan saya harus mencari kerja di tempat lain. Di London tidak mungkin karena izin kerja saya eksklusif di satu perusahaan saja.

 

Di tahun 1999 pun saya pulang ke Indonesia. Melamar kerja sana sini, akhirnya mendapatkan pekerjaan di salah satu sekuritas asing. Sebagai analis saham. Pekerjaan yang sudah lama saya impikan. Karena sudah jatuh cinta pada dunia saham.

Saya merasa sangat beruntung karena kebetulan kehilangan pekerjaan di London dan terpaksa harus pulang, ternyata malah mendapatkan pekerjaan impian. Plus harga aset di Indonesia sedang murah-murahnya, saya pun antara lain bisa beli rumah. Sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Tapi tidak lama kemudian saya harus siap-siap loncat perahu lagi. Karena perusahaan sekuritas tempat kerja saya akan ditutup.

Saya terdampar di Singapura. Bekerja di sana selama 5 tahun. Sampai tahun 2004 saya baca tulisan Marc Faber dan Jim Rogers soal prediksi kebangkitan harga komoditas. 

Dan di Indonesia untuk pertama kalinya ada pemilihan presiden secara langsung, indikasi bahwa demokrasi kita telah memasuki fase yang lebih matang.

Saya kirim resume saya ke beberapa perusahaan sekuritas di Indonesia. Dan beberapa di antaranya menawari saya pekerjaan. Prosesnya cepat dan tidak ribet karena waktu itu belum banyak orang Indonesia mau balik bekerja di pasar modal. Setelah market merana selama bertahun-tahun.

Saya merasa beruntung karena kebetulan baca report soal komoditas dan akhirnya memberanikan diri mencoba lagi peruntungan di pasar saham Indonesia. Kita tahu dari tahun 2004 itu hingga tahun 2013, Indonesia mengalami bull market yang panjang. Dengan sedikit interupsi di tahun 2008 karena krisis subprime/Lehman. Tidak perlu terlalu pintar untuk punya karier moncer di periode bull market

Di tahun 2014, saya memutuskan untuk mengakhiri karier profesional saya sebagai country manager CLSA Indonesia. Tempat saya berkarier sejak balik ke Indonesia di awal 2005.

 

Dari salesman tinta cetak ke country manager CLSA Indonesia. Semuanya adalah serial keberuntungan. Bukan serial kepandaian saya. Ataupun karena skill khusus saya.

Paling tidak saya pikir begitu. Serial keberuntungan. 

Sampai dua tahun lalu saya jatuh sakit sewaktu sedang di AS. Sempat kritis menjalani masa pengobatan selama totalnya sebulan. Yang memberi kesempatan buat saya untuk berkontemplasi, merenung, berdoa, dan berpikir.

Sampai akhirnya saya sadar betapa naifnya saya selama ini. Karier dan hidup saya bukanlah satu serial kebetulan. Bahkan juga bukan satu serial blessing atau berkat. 

Melainkan satu serial karunia Tuhan atau God’s grace

Kalau blessing itu kita layak mendapatkan. Sedangkan grace itu semata-mata kemurahan hati sang pencipta. Karena kita sebenarnya tidak layak mendapatkannya.

Kalau kita sedang mengalami kondisi ekonomi atau dunia usaha atau dunia investasi pasar modal yang sedang sangat sulit karena kasus gagal bayar dan harga aset sedang turun tajam, mungkin kita harus berpikir ini akan menjadi bagian serial kebetulan dalam hidup kita suatu hari, yang akan sangat kita syukuri. Atau bahkan akan menjadi serial karunia Tuhan yang merubah hidup kita menjadi lebih baik.

 

Ditulis oleh Wuddy Warsono, CFA, 2 Maret 2020

Share :

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Tenang dan Damai

Pada bulan Februari 2018 lalu, saya sakit di neger...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Tersenyum di Depan Tembok

Kita berada pada titik di mana pandemi Covid-19 me...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Kecanduan Hutang

Kangen WFH?  Berkat WFH, saya jadi rajin b...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Kembali ke "Normal"

Kita semua tahu bahwa suatu hari badai Covid-19 ak...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
about
about

2020 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.