Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Pemenang Film of the Year di Academy Award 2020: Parasite

Parasite(s)

Presiden Amerika Serikat Donald Trump barusan bikin heboh lagi. Kali ini target serangannya bukan Cina atau Meksiko atau Iran, ataupun politisi Demokrat di Amerika. Target serangan Trump kali ini adalah film Parasite, film Korea Selatan yang baru bikin sejarah dengan menjadi film dengan bahasa non-Inggris pertama yang memenangkan penghargaan Oscar untuk film terbaik, di samping tiga penghargaan Oscar lainnya. 

“What the hell is that?” ujarnya. “We got enough problems with South Korea with trade. On top of it, they give them best movie of the year?” “Was it good? I don’t even know,” ia menambahkan.

Buat Trump, semata-mata karena Parasite bukan buatan Amerika sudah cukup menjadi alasan untuk menyerang habis-habisan film ini. Mungkin Trump akan berubah pikiran kalau sudah nonton film ini. Mungkin juga tidak, atau pura-pura masih tidak suka. Namanya juga politik. 

Buat saya, yang ironis adalah bahwa film Parasite ini sebenarnya sangat menggambarkan situasi zaman ini. Terutama di dunia sosial politik era sekarang. Zaman yang akan dikenang dengan warna politik yang khas: Trump dan Brexit. Juga Sanders/Warren sebagai proxy bangkitnya sosialisme di surga kapitalis dunia yaitu Amerika. Plus, era yang akan dikenang sebagai era sosmed. 

 

Saya akan sedikit membicarakan tentang film Parasite disini (maaf, sedikit spoiler alert). Film ini menggambarkan tentang dua keluarga, katakanlah keluarga pra sejahtera dan keluarga makmur.  Keluarga pra sejahtera menumpang hidup di keluarga makmur melalui serial kebohongan. Satu demi satu, dengan akal licik, akhirnya anggota keluarga pra sejahtera ini menjadi bagian kehidupan dari keluarga makmur.  

Menariknya, waktu saya bertanya ke beberapa teman tentang siapa yang dimaksud sebagai parasit di film tersebut, jawabnya ternyata bermacam-macam. Tentu jawaban paling jelas dan mainstream adalah keluarga pra sejahtera tukang tipu lah parasitnya. Wajar karena kita secara natural akan sangat tidak menyukai keluarga tukang tipu. 

Tapi ternyata ada juga yang bilang bahwa di film ini keluarga makmur itulah sang parasit sejati bagi masyarakat. Di mata mereka yang di kubu ini, paling tidak keluarga makmur adalah parasit yang lebih besar. Kok bisa?

Ada beberapa adegan di film Parasite yang memberi dukungan bagi opini ini. Misalnya, keluarga makmur lah yang sebenarnya lebih merusak lingkungan dengan gaya hidup dan jejak karbon (carbon footprint) yang lebih besar tapi dampak kerusakan lingkungan lebih dirasakan oleh keluarga pra sejahtera. Ada penggambaran peristiwa banjir di lingkungan pra sejahtera yang membuat warga kehilangan segalanya. Padahal carbon footprint mereka lebih kecil. 

Ada juga beberapa adegan yang menggambarkan betapa mudahnya bagi keluarga makmur untuk begitu saja mempercayai kebohongan-kebohongan tentang pegawai mereka. Juga begitu mudahnya bagi keluarga makmur untuk meminta pegawainya mengundurkan diri karena permainan fitnah dan kebohongan dari keluarga pra sejahtera. Padahal para pegawai ini sangat tergantung hidupnya dari bekerja di keluarga makmur. Juga ada adegan hirarki sosial yang bikin kita ketawa sekaligus prihatin waktu menonton film ini. Misalnya, waktu keluarga makmur pengen makan mie instan murah meriah, untuk membuat mienya masih harus ditambahkan daging harga selangit. Biar sesuai selera dan status keluarga makmur. 

Adegan menyesak  juga ada. Misalnya adegan si majikan tidak tahan dengan bau badan si driver setelah dengan sembarangan menaruh kaki dekat muka si driver. Mungkin ini metafora ketidakmampuan memandang sesama manusia sebagai setara. 

Supaya tidak menjadi spoiler berlebihan, lebih baik pembahasan tentang film Parasite saya akhiri sampai di sini. Namanya juga film, tentu banyak hal cenderung dilebih-lebihkan. Biar dramatis. Tapi pesan dari film ini begitu dalam dan berlapis-lapis. Khas Asia. 

Intinya, begitu banyak bukti dari kedua sisi untuk sampai pada kesimpulan bahwa salah satu pihak adalah parasit terbesar. Film ini dapat disimpulkan ke arah kedua sisi. Tergantung pemahaman dan pemikiran masing-masing. 

Film Parasite seolah mengingatkan saya bahwa content yang sama dapat dipahami secara sangat berbeda oleh orang yang berbeda. Dan setiap kubu, baik keluarga pra sejahtera maupun keluarga makmur,  sama-sama bisa melihat dirinya sebagai korban.

Dalam hal ini, saya ingin sedikit mengutip buku Mark Manson, The Subtle Art of Not Giving A F*uck. Di buku keren ini, Mark berpendapat bahwa di era internet dan sosmed ini, makin mudah untuk mengambil peran sebagai korban dan mengalihkan beban tanggung jawab kita ke orang lain. 

Menyalahkan orang  atau kelompok lain bahkan dilihat sebagai sesuatu yang cool. Menyerang “ketidakadilan” yang dilakukan oleh “kelompok lain” dan bermain sebagai korban dapat menghasilkan panen likes di sosmed. 

Di jaman ini, seringkali kalau seseorang sedang tersinggung soal apapun, orang tersebut akan merasa diperlakukan tidak adil dan berhak marah-marah di sosmed. Lama-lama kita makin kecanduan untuk merasa tersinggung. Kecanduan menjadi korban. Karena tersinggung itu keren dan menarik perhatian. 

Penulis dan komentator media Ryan Holiday berpendapat bahwa daripada berfokus ke isu yang lebih riil, seringkali lebih mudah dan menguntungkan bagi media untuk menemukan sebuah isu yang dirasa akan bikin suasana panas, broadcast ke audience yang luas, memanen kemarahan, lalu broadcast kemarahan tadi balik ke kubu yang lain. Akibatnya akan terjadi ping-pong kemarahan yang mempertajam permusuhan. 

Saking tajamnya permusuhan tersebut, sampai-sampai lupa isu riil sebenarnya itu apa. Makanya kita melihat tren yang sama di seluruh dunia, yaitu polarisasi sosial politik yang makin tajam.  

Problem yang lain adalah saking seringnya kita mendengar tentang “korban-korban” di sosmed, termasuk politikus top dunia yang juga memposisikan diri sebagai korban - the boy who cried wolf, kita jadi sering melupakan dan tidak peka akan korban yang sesungguhnya. Yang pantas kita tolong tapi tidak menarik perhatian di media konvensional, apalagi di sosmed. 

Yang laku di sosmed adalah berita soal perang dagang, dan semua pihak menempatkan diri sebagai korban. Berita soal Brexit yang menjual ketakutan. Juga soal virus, termasuk segala teori konspirasinya. Soal Bernie Sanders dan berita-berita yang membuat korporasi seakan-akan seperti the Sith di Star Wars. Atau kisah seputar selebriti yang sedang jadi korban bully. Menjadi korban memang sedang cool

Dan konsekuensinya, karena politikus sedang senang bermain sebagai korban, akan lebih mudah untuk terus menjustifikasikan untuk terus mencetak uang. Kan kondisi lagi susah dan sama sekali bukan salah mereka, kurang lebih begitu. 

Di tahun 2020, misalnya, lima bank sentral terbesar dunia akan memompa uang US$ 1,2 triliun ke pasar, atau dua kali lipat lebih banyak daripada di tahun 2019. 

Pemerintah AS sendiri juga akan punya budget tahunan sekitar US$ 5 triliun untuk tahun fiskal 2021 (yang akan mulai berlaku bulan Oktober 2020). Ini rekor dunia, belum pernah ada. Dan akan disertai dengan defisit anggaran US$ 1 triliun! Tentu ini angka-angka ajaib. Karena penggelontoran dana terjadi di saat ekonomi AS, meminjam istilah Trump: “the best ever”. Kebayang kalau di saat best ever saja perlu defisit begini banyak, bagaimana nanti kalau sampai ekonomi AS memasuki periode resesi?

Kembali ke konteks internasional: sejak tahun 2007, bank sentral utama dunia telah menambah kurang lebih US$ 15 triliun aset ke balance sheet mereka. Dan saat ini bank sentral utama dunia memiliki kurang lebih 20-an % obligasi pemerintah dan perusahaan yang ada di pasar. Risiko konsentrasi yang amat besar dan perlu sekali untuk diversifikasi. Tidak heran, mengetahui isi perut mereka sendiri, bank sentral dunia rajin belanja emas beberapa tahun terakhir.

Sayangnya supply emas sedang terbatas. Setelah perusahaan tambang emas babak belur karena belanja modal yang agresif di bull market emas yang lalu. Data McKinsey menunjukkan bahwa di antara tahun 2000 dan 2010, perusahaan tambang emas telah melakukan 1,000 transaksi jual beli aset dengan nilai US$ 121 miliar, atau 4x lipat dekade sebelumnya. Plus, pengeluaran belanja modal tahunan juga tumbuh 10x lipat di antara tahun 2000 dan 2010, dengan jumlah agregat US$ 125 miliar. Dan 67% proyek melebihi budget sebanyak 60% dari angka estimasi.

Hasilnya? Setelah emas memasuki bear market sejak tahun 2011, sektor pertambangan emas perlu melakukan penghapusan nilai buku sebesar US$129 milar. Babak belur dan mereka sudah belajar dari pengalaman sangat pahit ini. 

Budget eksplorasi emas pun turun 60% dibandingkan dengan periode emas bisnis emas. Transaksi jual beli tambang emas pun menggunakan asumsi harga emas yang tinggi. Semua bermuara pada supply emas yang seret. Contohnya dalam 3 tahun terakhir, jumlah pertambahan supply emas hanya 0,6% per tahun, jauh di bawah angka 3,6% di tahun 2010-2016. 

Waktu kuliah, saya belajar kalau permintaan/demand > penawaran/supply, harga akan akan cenderung naik. Setelah banyak kasus gagal bayar di market, mungkin sudah saatnya ingat-ingat kembali pelajaran fundamental ini. Sehingga kita ingat beli saham produsen emas saat harga sedang terkoreksi. 

Saya ingin berterima kasih pada pembuat film Parasite dan Trump yang melalui komentarnya membuat saya tertarik nonton ulang film ini. Karena film ini mengingatkan kita bahwa hal yang sama dapat dipahami secara sangat berbeda oleh pemirsa yang berbeda. Akibatnya, setiap orang sama-sama bisa melihat dirinya sebagai korban, dan bermuara pada perbedaan yang makin hari makin tajam. 

Padahal mungkin kita semua sama-sama ada porsi benarnya dan ada porsi salahnya. Tidak mungkin 100% benar atau 100% salah. Namanya juga manusia. Dan kita dilahirkan sebagai makhluk sosial, untuk saling menolong, bukan untuk berfokus pada perbedaan kita. Tanpa sifat baik dan suka saling menolong ini, kita tidak akan survive sebagai spesies manusia, apalagi menguasai planet bumi.

Juga, dengan satu dan lain cara, kita harus bersedia mengambil tanggung jawab atas hidup kita. Dan berhenti menyalahkan orang lain dan terus merasa sebagai korban. 

Mungkin judul film ini perlu diganti. Bukan Parasite, melainkan Parasites


 

Ditulis oleh Wuddy Warsono, CFA, 24 Februari 2020

 

“The human being is born with an inclination toward virtue.”

Musonius Rufus

Share :

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Nrimo Musim

Dua minggu working from home, rasanya seperti suda...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Memilih Hidup

Di awal Februari tahun ini, saya sempat menulis me...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Serial Keberuntungan?

Waktu jaman kuliah di Surabaya dulu, saya juga sam...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Parasite(s)

Presiden Amerika Serikat Donald Trump barusan biki...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar investasi, belajar saham,

More Information
about
about

2020 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.