Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Siapa yang tahan untuk tidak berkaca-kaca di adegan ini? Tanpa cubit tangan atau alis lho.

Nasionalisme yang Merayakan 100% ke-Indonesiaan Kita

Senam Kesegaran Jasmani (SKJ), lengkap dengan musik pengiringnya. 

Rambut poni belah tengah dan mullet ala Duran Duran.

President Taxi.

Susi Susanti.

 

Keempat hal ini adalah bagian tak terpisahkan dari Jakarta dan Indonesia era 1980 dan 1990-an. Keempat unsur ini juga menjadi bagian dari film Susi Susanti – Love All

Bagi generasi Boomers, Generasi X dan generasi millennial awal, menonton film ini adalah sebuah nostalgia. Di tangan sutradara Sim F yang sebelumnya lebih dikenal lewat karya iklan dan video klip, feel 1980 and 1990-an terasa hidup kembali. Mengingat ini adalah filmnya yang pertama, sepertinya kita akan melihat karya-karya film hebat berikutnya dari Sim F. 

Selama menonton film ini, perasaan pun seperti dicampur aduk. Antara lucu, terharu, sedih, dan bangga melihat perjuangan Susi Susanti dan kawan-kawan. 

Jujur, kalau nggak gengsi dengan teman-teman yang nonton di kursi sebelah, mata saya pasti sudah berkaca-kaca. Berbagai teknik anti mata berkaca-kaca pun saya pakai, mulai dari menarik nafas panjang sampai memutar-mutar lidah dan mencubit tangan plus alis. Untungnya lumayan berhasil. Pelajaran hidup, lain kali kalau filmnya mengharukan, cari tempat duduk yang sepi. 

Saking sukanya, saya sempatkan nonton film ini dua kali. Padahal saya sering bilang ke teman-teman yang suka nonton film yang sama dua tiga kali berturut-turut: “Get a life!!”. Pelajaran hidup selanjutnya: ada beberapa film yang memang layak ditonton lebih dari sekali, berturut-turut.

Beruntung bagi saya, di kesempatan kedua nonton film ini, saya sempat langsung bertemu dengan Susi Susanti dan suaminya Alan Budikusuma. Kebetulan keduanya adalah idola saya. Dulu dan sekarang. Karena pasangan emas Olimpiade ini dapat melewati kesulitan-kesulitan dengan keuletan luar biasa, mencapai tujuan mereka dengan kerja keras dan bersedia untuk melakukan hal-hal yang tidak dilakukan orang lain. 

Tentu kesempatan bertemu langsung dengan idola ini saya gunakan untuk bertanya beberapa hal. Mulai dari apakah logat Surabaya Alan Budikusuma dulu sekental yang digambarkan dalam film (jawabannya: aslinya bahkan lebih medok). 

Saya juga bertanya tentang peran ayah Susi Susanti dalam kariernya. Susi bilang bahwa ayahnya sangat sayang, sangat suportif, bijaksana, penuh perhatian, tapi pada saat yang bersamaan tidak memanjakan seorang Susi. Juga dapat memotivasi Susi dengan cara yang lucu dan penuh kasih. 

Susi juga bercerita bahwa kalau dulu saat ia mau bertanding, sang ayah akan menunggui semalaman. Kalau posisi tidur Susi salah, misalnya tangan di bawah kepala, sang ayah akan meluruskan tangan Susi. Posisi tangan yang salah dalam tidur ternyata sangat merusak permainan seorang atlet bulu tangkis. Mungkin efeknya mirip margin call saat kita lagi seru-serunya trading

Untuk menjaga posisi tangan Susi ini, sang ayah rela tidak tidur semalaman!

Kasih sayang yang luar biasa dari seorang ayah kepada putrinya.  

Juga ibunda Susi ternyata memang benar-benar sangat menjaga nutrisi Susi seperti yang digambarkan di film. Telaten sekali. Saya baru belajar dari Susi dan Alan bahwa kalau seorang atlet kekurangan gizi di masa kecil, kesempatan memperbaiki kondisi dan stamina tidak akan pernah datang lagi. Sudah harus cut loss dari karier atletnya.

Tanpa ayah ibunya yang luar biasa, kisah Susi Susanti sebagai Srikandi bulu tangkis Indonesia tidak akan pernah ada.  

Susi dan Alan juga menunjukkan apresiasi yang sangat besar untuk pelatih mereka Chiu Sia dan Pak Tong. Walau keduanya suka “sadis” dalam mendidik, tapi mereka juga sayang sekali sama atlet. Kedekatan Susi dan Chiu Sia tergambarkan dari interaksi mereka selama menghadiri pemutaran perdana film ini. Kelihatan sekali mereka saling sayang. Dalam bahasa dunia olahraga, memang sebenarnya tidak ada olah raga yang bukan team sport, walaupun yang turun ke lapangan hanya satu atlet. Sukses Susi dan Alan adalah juga sukses mentor dan pelatih mereka. Juga manajer mereka Mangombar Siregar, rekan berlatih, dan pelindung mereka Jenderal Try Sutrisno, ketua PBSI periode 1985-1993.  

Mengenai metode berlatih, saya bertanya pada Susi apa benar, seperti yang digambarkan dalam film, Susi rajin bikin catatan dan studi yang sangat serius untuk kemajuannya. Ternyata memang benar Susi rajin bikin catatan jurus bulu tangkisnya, lengkap dengan analisa pola permainan lawan. 

Pentingnya studi yang sangat serius ini konsisten dengan apa yang pernah saya tulis dalam tulisan Menjadi Langka dan Berharga. Di tulisan ini, pernah saya bahas bahwa pemain catur level grand master menghabiskan waktu untuk analisa dan studi yang sangat serius 5-10x lipat lebih banyak daripada pemain catur yang tidak mampu meraih level elit. Ternyata di dunia bulu tangkis juga sama. Studi dan analisa serius adalah salah satu resep sukses Susi, selain jam dan disiplin latihan yang spartan. 

Kalau studi dan analisa serius adalah kunci menjadi atlet level elit, mungkin hal yang sama bisa diterapkan di dunia lain. Misalnya di dunia yang saya tekuni, yaitu pasar saham.  Mungkin sudah selayaknya kita membuat catatan yang rapi mengenai investasi atau trade saham yang kita lakukan, sehingga kita kita bisa mempelajarinya secara serius. Dengan demikian, kita akan lebih memahami kelebihan/kekurangan kita, terus berkembang dan maju.

Dari film Susi Susanti – Love All, saya juga belajar banyak. Misalnya, saya belajar soal dedikasi luar biasa Laura Basuki pemeran Susi Susanti dan Dion Wiyoko pemeran Alan Budikusuma. Tanpa latar belakang bulu tangkis, mereka benar-benar terjun berlatih supaya dapat tampil meyakinkan. Selama 5 bulan, Laura Basuki berlatih 5 jam sehari di bawah pengawasan Chiu Sia, pelatih asli Susi Susanti. Sampai-sampai Laura tidak mau lagi melihat raket bulu tangkis setelah pembuatan film ini selesai. 

Hal lain yang saya pelajari adalah kemampuan Susi Susanti untuk menerapkan apa yang dia pelajari dari dari dunia balet ke dunia bulu tangkis. Kemampuan split ala balerina untuk menangkap shuttlecock menjadi trade mark Susi Susanti. Laura Basuki pun harus rela belajar split lewat pilates untuk memerankan adegan ini. 

Kemampuan untuk mengambil pelajaran dan analogi dari bidang lain dan mengaplikasikannya ke bidang kerja utama kita adalah kemampuan yang harus dimiliki di bidang bisnis, apalagi di era yang perubahannya begitu cepat ini. 

Dari segi strategi dan operasi, kita belajar tentang bagaimana untuk mengendalikan pikiran agar selalu fokus dan komitmen agar selalu tinggi. Tidak mudah. Apalagi ketika sedang jatuh cinta. 

Saya juga mengagumi intuisi pelatih terhadap keunggulan dan kelemahan masing-masing atlet, dan bagaimana melakukan dobrakan sehingga sang atlet dapat naik kelas. Strategi Jenderal Try Sutrisno dan Mangombar Ferdinand Siregar untuk mendatangkan pelatih Chiu Sia dan Pak Tong dengan tujuan perimbangan kekuatan kembali adalah cara berpikir yang out of the box. Salah satu resep inovasi memang adalah dengan mendatangkan new voices. Suara atau bakat baru dalam organisasi. 

Yang terakhir adalah pelajaran mengenai nasionalisme. Dengan segala masalah yang menimpa para atlet di tahun 1998 dan di tengah krisis nasionalisme yang melanda, Susi Susanti bangkit dari tempat duduk dan mengenakan jaket yang bertuliskan INDONESIA. Simbol bahwa Susi telah menjatuhkan pilihannya.

“I am Indonesian,” katanya pada reporter CNN. “I will always be.” 

Kisah pasangan emas Olimpiade Alan Budikusuma dan Susi Susanti adalah tentang nasionalisme yang merayakan 100% ke-Indonesiaan kita. Bahkan di saat yang paling sulit sekalipun.

Saya berharap kisah Susi Susanti mampu memberikan motivasi bagi anak Indonesia untuk berani bermimpi dan mengejar cita-cita. Kebetulan putri saya yang berusia 11 tahun ikut nonton film ini. Kisah Susi sangat memotivasinya untuk berjuang menjadi atlet golf yang lebih baik. Setelah nonton film ini, dia berjanji akan mendapatkan medali emas di turnamen golf dalam waktu dekat. Tentu saya bahagia sekali, walaupun kemudian istri bilang memang peserta turnamen cuma satu orang untuk kategori umur putri saya. Jadi otomatis emas memang sudah di tangan. Ya sudah, yang penting jadi sumber motivasi untuk maju.

Soal pertanyaan untuk Susi dan Alan… saya kok kelupaan nanya apakah adegan kissing di film itu akurat. Tapi biarlah, mungkin soal yang ini lebih baik tetap menjadi misteri buat saya. Kadang-kadang lebih baik begitu. 

 

“Success comes to the lowly and to the poorly talented, but the special characteristic of a great person is to triumph over the disasters and panics of human life.”

Seneca

 

Ditulis oleh Wuddy Warsono, CFA 27 Oktober 2019.

Share :

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Ketika Hening Telah Berlalu

“Conversation enriches the understanding, bu...

Tags : blog sucor, Blog Sucor Sekuritas, belajar investasi, belajar saham,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Nasionalisme yang Merayakan 100% ke-Indonesiaan Kita

Senam Kesegaran Jasmani (SKJ), lengkap dengan musi...

Tags : blog sucor, Blog Sucor Sekuritas, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Dua Puluh Tiga Tahun yang Lalu

Kalau saya ditanya pekerjaan mana yang paling berk...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar investasi, belajar saham,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Risk - Reward Terbaik

Penggemar film-film adaptasi DC Comics akan langsu...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar investasi, belajar saham,

More Information
about
about

2019 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.