Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Memilih Untuk Menghitung Berkat

“The ancestor of every action is a thought”

Ralph Waldo Emerson

 

Jumat lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk memberi kuliah umum di beberapa kampus di Surabaya. Salah satunya di almamater saya, Universitas Widya Mandala Surabaya. Kepada anak-anak muda yang luar biasa di sana, tim kami merasa terpanggil untuk sharing mengenai cara membangun meaningful career. Karier yang lebih merepresentasikan calling (panggilan), bukannya sekedar job (perkerjaan).

Jujur, saya terharu dengan sambutan yang diberikan di sana. Meriah. Ada banner yang bertuliskan “Welcome Home, Wuddy Warsono”. Surabaya dan Widya Mandala memang selalu menjadi home buat saya. Bagaimana tidak, di kampus inilah saya belajar tentang bagaimana memulai karier untuk pertama kalinya.

Karena keterbatasan kondisi finansial keluarga, saya harus mengimbangi kuliah dengan bekerja. Dan kesempatan bekerja datang dari seorang pengusaha muda hebat yang waktu itu baru pindah kuadran dari profesional ke entrepreneur. Bidang usahanya di supplier bahan-bahan cetak, utamanya tinta cetak.

Pada waktu itu, jadwal kuliah di Widya Mandala juga kebanyakan pada malam hari. Sehingga memungkinkan saya bekerja penuh di siang harinya. Kuliah sambil bekerja atau bekerja sambil kuliah, kurang jelas yang mana yang lebih tepat untuk mendeskripsikan kondisi saya pada saat itu.

Kadang memang ada jadwal kuliah di pagi hari. Jadi, saya usahakan untuk mampir ke kampus di sela-sela kunjungan ke para customer. Seringkali saya mampir ke kampus sambil membawa sampel tinta cetak di dalam kaleng-kaleng. Karena saya ke mana-mana naik motor, tentunya waktu di kampus kaleng-kaleng tadi terpaksa saya turunkan dulu. Kadang memang ada rasa segan sama dosen pengajar (dan mahasiswi-mahasiswi tentunya) di sana. Nanti dipikir ini anak kuliahan atau mau ngecat tembok sih, kok ke kampus bawa kaleng tinta yang mirip kaleng cat. Apalagi baju saya juga seringkali kena bercak tinta cetak.

Akhirnya ketemu akal, saya titip kaleng-kaleng itu ke perpustakaan kampus. Petugas perpustakaan Widya Mandala, untungnya, selalu berbaik hati. Tiap kali saya titip kaleng- kaleng tinta cetak di penitipan perpustakaan, selalu diterima dengan senyuman. Jadilah saya sering mampir ke perpustakaan, dan mulai tertarik membaca buku-buku. Awalnya buku berbahasa Indonesia, lama-lama juga buku-buku berbahasa Inggris.

Pada waktu bekerja sebagai salesman tinta cetak inilah, saya pertama kalinya belajar banyak tentang pentingnya the power of proximity, yaitu bagaimana kita mengelilingi diri dengan orang-orang yang bisa membuat konstruksi mental positif. Terus maju dan menjadi lebih baik.

Saat bekerja di sana, pernah saya masuk ke pusaran situasi yang begitu negatif. Ceritanya entah kenapa, para tenaga penjual di perusahaan ini punya kebiasaan untuk ngumpul lagi setelah meeting resmi perusahaan di pagi hari. Bedanya kalau meeting resmi pagi hari yang dibicarakan adalah bagaimana membangun semangat kerja, rencana kerja hari itu dan siapa visit ke mana, meeting bayangan adalah 180 derajat kebalikannya. Penuh keluh kesah soal segala hal.

Meeting bayangan yang diadakan di warung dekat kantor (perlu meeting fisik karena belum jaman WAG), tentunya tanpa setahu sales manager, berperan seperti arus negatif yang menarik kita semua ke bawah. Sebagai junior di perusahaan itu, saya tidak berani tidak ikutan karena takut dimusuhi, walau merasa energi tersedot habis setelah meeting bayangan ini.

Di tengah kebimbangan itu, saya berdiskusi dengan ayah sahabat. Nama ayah teman saya ini Pak Ario Karijanto, seorang pengusaha yang dihormati di Surabaya. Nasihat Om Ario, demikian saya memanggil beliau, sangat tegas: keluar dari lingkungan dan arus negatif, berhenti menghadiri meeting bayangan dengan segala konsekuensinya. Daripada larut dalam segala arus negatif, mendingan menghitung berkat yang saya nikmati dengan bekerja di perusahaan tersebut. Dengan demikian, konstruksi mental saya akan terfokus kepada hal-hal yang positif, yang bermuara pada optimisme, kebahagiaan, dan rasa syukur.

Nasihat ini saya ikuti dan tidak lama kemudian, angka penjualan saya menjadi yang tertinggi di kantor, walaupun tergolong orang baru di industri. Statistik riset memang menunjukkan tenaga penjual yang mood-nya positif menjual 56% lebih banyak daripada mereka yang negatif. Wajar saja sebenarnya, siapa sih yang suka dilayani tenaga penjual yang ceritanya keluh kesah terus. Sekali dua kali, jurus welas asih alias jurus minta simpati di dunia sales ini bisa berhasil, tapi tentunya tidak bisa dipakai secara ekstrem dan terus-menerus.

Untungnya juga, teman-teman peserta meeting bayangan ternyata tidak memusuhi saya. Mereka sebenarnya orang-orang yang reasonable, paham saya perlu cari uang untuk mendukung kuliah. Apa yang saya takuti ternyata tidak terjadi.

Pertanyaan saya: apakah peserta meeting bayangan dalam contoh di atas sengaja untuk manjadi orang yang “sulit”, suka berkeluh-kesah, dan ingin menjadi penghambat kemajuan perusahaan dan diri mereka sendiri?

Untuk mencoba menjawab pertanyaan ini, saya mengacu kepada buku tentang Positive Psychology yang berjudul The Happiness Advantage. Ditulis oleh Shawn Achor, buku ini bercerita tentang bagaimana meraih manfaat dari pola pikir yang lebih positif dan lebih bahagia. Presentasi Shawn mengenai happiness di TED adalah salah satu yang paling banyak ditonton dalam sejarah TED Talk.

Banyak cerita menarik di buku Shawn ini. Misalnya cerita mengenai Faiz Chopdat. Di bulan September 2002, pria yang waktu itu berusia 22 tahun dijatuhi hukuman penjara selama 4 bulan karena menolak untuk mematikan HP-nya dalam penerbangan dari Mesir ke Inggris. Alih-alih mematikan HP, Faiz justru tidak mempedulikan permintaan awak pesawat. Penyebabnya? Faiz kecanduan Tetris!

Game Tetris yang sederhana ternyata sangat membuat efek kecanduan yang dahsyat. Dalam sebuah studi di Harvard, 27 orang diminta untuk main Tetris selama selama beberapa jam sehari, 3 hari berturut-turut. Efek sampingnya ternyata luar biasa. Selama berhari-hari setelahnya, ada di antara 27 orang ini yang benar-benar tidak mampu untuk berhenti bermimpi tentang shapes yang jatuh dari langit, ala Tetris. Buat yang lain, di saat mereka tidak tidur pun, mereka melihat shapes Tetris di mana-mana. Tiba-tiba, hidup berubah menjadi blok-blok Tetris!

Efek Tetris ini ternyata berasal dari suatu proses psikologis yang sangat normal, yang berulang-ulang memicu otak mereka. Istilah psikologisnya “cognitive after image”. Setelah main Tetris secara super intensif dalam waktu yang cukup lama, mereka terjebak dalam dunia Tetris. Pola kognitif inipun memaksa mereka untuk melihat shapes Tetris di mana- mana.

Dan yang penting, ternyata hal ini tidak hanya terbatas soal Tetris. Cara otak kita memandang dunia seringkali mirip-mirip dengan efek Tetris ini.

Pola-pola ala Tetris ini seringkali negatif. Misalnya juara komplain di kantor kita. Selalu saja ketemu alasan buat mengeluh. Ataupun bos yang selalu saja bisa menemukan kesalahan anak buahnya. Juga selalu ada saja. Mungkin karena di dunia kerja kita dilatih untuk terlalu berfokus buat menemukan “permasalahan yang perlu diselesaikan”? Sampai lupa pada hal-hal yang positif dan indah.

Sebagian dari efek Tetris ini sebenarnya hasil efek samping profesi ataupun latar belakang pendidikan kita. Misalnya, seorang auditor yang baik dituntut oleh profesinya untuk menjadi ahli dalam menemukan kesalahan. Tentu tidak ada yang salah dalam hal ini. Sampai pada tahap di mana kebiasaan menemukan kesalahan ini mulai merembes ke area lain dalam hidupnya. Seperti efek Tetris, si auditor tidak lagi mampu melihat nilai A di rapor anaknya, cuman bisa ketemu yang C. Atau tidak mampu melihat bumbu gado-gado yang sempurna di restoran karena terlalu terfokus pada kentang yang kurang matang.

Tentunya efek Tetris ini tidak hanya terbatas untuk auditor. Semua profesi dan latar belakang pendidikan tidak ada yang kebal dari efek Tetris ini. Misalnya mereka yang ke law school akan terlatih untuk menemukan cacat dalam sebuah argumen, dan terlatih untuk sangat kritis. Tentu ini elemen yang sangat dibutuhkan untuk menjadi seorang lawyer yang sukses. Masalahnya timbul ketika kebiasaan untuk mencari kelemahan di setiap pendapat ini menjadi kebablasan. Tidak lagi produktif mencari solusi.

Mereka yang punya latar belakang atlet mungkin akan menganggap semua hal sebagai kompetisi. Termasuk dengan teman dan keluarga. Kalau diteruskan, akan sulit berteman dan sulit maju. Atau trader di pasar saham yang berpikir semua hal dalam hidup secara risk vs. reward, bahkan cuma dalam urusan makan bakso. Intinya efek Tetris ini berlaku buat kita semua.

Balik lagi dalam contoh kasus mantan kolega saya yang super kritikal ke perusahan tempat mereka bekerja, sebenarnya juga bagian dari efek Tetris. Sebagai tenaga penjual di bidang barang industrial tinta cetak, mereka telah sangat terlatih untuk menemukan celah kelemahan barang kompetitor mereka. Mulai dari tinta kompetitor keringnya terlalu lama sampai support staff di bagian pencampuran tintanya kurang kompeten misalnya. Ada saja kelemahan setiap produk lain yang bisa mereka temukan secara kreatif. Sayangnya mereka lupa untuk tidak melakukan exercise yang sama, tidak mencari-cari hal negatif untuk mereka eksplotasi, di perusahaan tempat mereka bekerja.

Mereka bukan orang jelek. Sebaliknya, saya tahu mereka sebenarnya orang-orang yang hebat dengan dedikasi yang tinggi. Hanya saja menjadi korban efek Tetris karena lama bekerja di bidang kerja mereka dan lupa untuk memilah-milah mana yang perlu dianalisa sisi negatifnya mana yang tidak perlu.

Kabar baiknya, seperti yang Om Ario pernah bilang ke saya di awal karier, kita bisa melatih kembali otak untuk berfokus ke hal-hal yang positif dan indah dalam hidup, termasuk di industri dan tempat kerja kita.

Konstruksi mental yang positif akan bermuara pada optimisme, kebahagiaan, dan rasa syukur. Tentu ini bukan berarti kita menutup diri sepenuhnya dari hal-hal yang negatif karena optimisme berlebihan pun bisa berbahaya, apalagi sebagai investor di pasar saham.

Dalam hal ini kita berbicara mengenai optimisme yang sehat, dan yang tetap memberi prioritas pada hal-hal yang positif dan indah. Karena berfokus pada hal-hal yang positif dan indah bukan hanya membuat kita lebih bahagia, tetapi juga mengundang masuk datangnya hal-hal yang positif dan indah lainnya. Bahkan di saat yield curve mulai inverted, di saat winter-nya pasar saham datang, kita bisa melihatnya sebagai kesempatan dan mengambil sikap seperti thought leader kelas dunia Tony Robbins:

Winter is My Season.

 

Ditulis oleh Wuddy Warsono, CFA

Share :

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Setelah Melompat, Belajar dari Nyai Ontosoroh

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatn...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Balada Mati Air

To pee or not to pee? Pertanyaan ini yang ...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Memilih Untuk Menghitung Berkat

“The ancestor of every action is a thought&r...

Tags : blog sucor, Blog Sucor Sekuritas, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Membagikan Kebahagiaan

Awal Agustus lalu, dalam kunjungan ke Las Vegas, s...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
about
about

2019 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.