Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Sedikit waktu untuk diri sendiri

Memilih Hidup

Di awal Februari tahun ini, saya sempat menulis mengenai Reon Schutte (klik DI SINI), yang secara luar biasa dapat meloloskan diri dari neraka penjara Chikurubi di Zimbabwe. Padahal secara statistik, kemungkinannya untuk survive adalah hampir 0%.

Setelah berada di Chikurubi selama 12 tahun 8 bulan, Reon akhirnya berhasil keluar dari penjara super brutal ini. Kisah Reon adalah kisah tentang memilih state of mind, yang pada akhirnya memerdekakan kita. 

Sengaja saya sekali lagi memilih untuk mengangkat kisah Reon ini karena relevansinya dengan kondisi kita saat ini, yaitu berhadapan dengan krisis virus Covid-19.

Level ketakutan dan kekhawatiran yang sedang kita hadapi begitu dahsyat. Apalagi sebagai makhluk sosial, tiba-tiba kita merasa harus menghadapi ketakutan ini seorang diri dalam isolasi. Kita bahkan tidak yakin apakah sosial media meringankan beban atau malah membuat kita makin dicekam ketakutan. Rasa tak berdaya ini makin besar tatkala memikirkan orang-orang tercinta di hidup kita, belum lagi kondisi ekonomi dan pekerjaan. Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan situasi yang sedang kita hadapi.

Rasa takut dan khawatir ini wajar karena kita memang desain DNA kita memang sudah terlatih untuk takut, demi survival. Fight or flight, yang kita warisi dari nenek moyang kita sejak jaman kita masih tinggal di gua dan masih diburu-buru harimau.  

Saya belajar dari cerita hidup Reon Schutte, bahwa ia mampu merekonstruksi kondisinya, apa yang disebut oleh Tony Robbins sebagai “state”. Salah satu cara termudah untuk mendekatkan diri ke kondisi peak state adalah dengan memperbaiki kondisi fisik kita. Dalam konteks Reon di Chikurubi, salah satu yang urgen adalah mencegah kondisi fisiknya dihancurkan lebih lanjut dengan siksaan tiap hari. 

Menghadapi teror penyiksaan saban hari, Reon terus mengatakan pada dirinya sendiri: “Tenang. Toh saya tidak bisa lari. Saya juga tidak bisa bersembunyi, Semua akan terjadi, jadi tidak usah dibikin stres.”  

Tiba-tiba Reon tidak lagi takut pada para tukang gebuk ini. Kata-katanya berfungsi seperti incantation, sesuatu yang diucapkan berkali-kali yang akhirnya sukses mengubah bagaimana bagaimana Reon berpikir, bagaimana perasaan Reon, dan bagaimana dia hidup. Sungguh suatu relationship yang dalam dan passionate

Suatu hari, ketika para tukang gebuk itu datang, mereka memilih untuk melewatkan Reon. Keesokan harinya, hal yang sama terjadi. Dan seterusnya, dan seterusnya. 

Rupanya kenyataan bahwa Reon tidak lagi takut tersebut dapat ditransfer ke psikologi para tukang gebuk. Tiba-tiba, tidak lagi fun untuk menggebuki Reon yang sudah tidak lagi takut. It takes two to tango. 

Seperti halnya Reon, kita bisa memilih bahwa hidup dikontrol ketakutan dan kecemasan bukanlah hidup. Sama seperti Reon di Chikurubi, kita bisa memilih untuk mulai mengatakan pada diri kita sendiri bahwa kita tidak takut, dan memilih untuk berfokus pada iman atau faith kita.

Mengutip Tony Robbins, faith membantu kita untuk tetap kuat di saat penuh ketakutan dan ketidakpastian. Faith lebih kuat daripada segala emosi manusia, bahkan lebih kuat daripada ketakutan. Faith adalah mengetahui bahwa yang paling sentral dalam hidup kita, dengan iman, kita lebih besar daripada apa yang sedang kita hadapi. Di saat mencekam seperti saat ini, faith membantu kita untuk menemukan makna hidup kita. 

 

Mengenai makna hidup, ada beberapa hal yang buat saya adalah pelajaran penting dari krisis ini. Mungkin ini saatnya untuk sekali lagi belajar rendah hati. Kita begitu terbiasa dengan segala financial modeling dan forecasting, misalnya. Seolah-olah modeling kita begitu sakti. Di awal Januari 2020, misalnya. Barron’s annual roundtable yang terdiri dari 10 ekonom dan investor ternama dunia mendeklarasikan bahwa tidak ada kemungkinan untuk resesi di tahun 2020. Now we know….

Juga ada periode di tahun 2019, banyak dari kita (termasuk saya) berharap bahwa tingkat polusi udara akan berkurang. Sekarang polusi udara benar-benar turun tajam karena dampak krisis….hmmm….be careful what we wish for. 

Mungkin saatnya saya belajar lagi bahwa musim selalu berganti dan kita tidak dapat memilih. Tugas kita adalah nrimo musim yang ada di depan mata dan membuat musim itu sebagai musim kita. 

Krisis ini memberi kesempatan untuk bertanya pada diri sendiri, manusia macam apakah kita. Carrier dari virus ini bukan nyamuk atau binatang lain, melainkan diri kita manusia. Sehingga kita perlu proses universal untuk berdisiplin dan tidak meneruskan  virus ini ke orang lain. Satu-satunya yang diminta dari diri kita adalah tidak berbuat apapun. Pengorbanan yang relatif kecil dibandingkan dengan apa yang dilalui Reon, misalnya. Tiba-tiba the art of doing nothing menjadi begitu penting. Dengan tidak berbuat apa-apa, kita memberi kontribusi besar bagi kemanusiaan? Benar-benar kesempatan yang unik. 

Kita bisa memilih untuk membangun tembok dan bersembunyi rapat-rapat dalam krisis ini. Tapi kita juga bisa memilih untuk melakukan sesuatu bagi kemanusiaan, selain dengan isolasi total. Misalnya kita punya begitu banyak waktu untuk menghubungi sahabat-sahabat lama yang tidak sempat dihubungi karena kesibukan begitu luar biasa. 

Atau melakukan small acts of kindness. Saya tahu beberapa sahabat yang aktif membantu para pahlawan healthcare untuk mendapatkan perlengkapan yang lebih memadai. Juga ada little kindness yang kelihatan kecil tapi dampaknya besar. Misalnya, pesan makanan lewat GoFood atau GrabFood dan menyumbangkan makanan untuk driver ojol yang juga sedang menghadapi masa-masa berat. Solidaritas kemanusiaan yang luar biasa dan saya percaya kebaikan semacam ini akan menular, bahkan di saat tersulit seperti sekarang. 

Dari krisis ini kita juga belajar, betapa istimewanya kesempatan untuk mengunjungi tempat ibadah, yang sementara ini sulit dilakukan. Kita menyadari betapa gelapnya dunia tanpa tempat beribadah. Hal-hal yang tadinya kita took for granted.

Kita juga sering mengeluh tidak punya cukup waktu untuk tidur. Tidak punya cukup waktu untuk keluarga. Tidak punya waktu untuk membaca dan upgrade pengetahuan kita. Tidak punya cukup waktu untuk berolahraga. Tiba-tiba kita punya waktu untuk semua itu. Punya waktu untuk secara aktif membuat diri lebih relaks, observasi dunia sekitar, dan menyadari tempat kita di alam semesta.

Untuk berpura-pura sibuk pun sudah tidak memungkinkan. Misalnya, saya juga tidak mungkin bilang ke editor Blog ini kalau saya sedang tidak punya waktu untuk menulis. 


 

Ditulis oleh Wuddy Warsono, CFA, 24 Maret 2020

Share :

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Tersenyum di Depan Tembok

Kita berada pada titik di mana pandemi Covid-19 me...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Kecanduan Hutang

Kangen WFH?  Berkat WFH, saya jadi rajin b...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Kembali ke "Normal"

Kita semua tahu bahwa suatu hari badai Covid-19 ak...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Nrimo Musim

Dua minggu working from home, rasanya seperti suda...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
about
about

2020 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.