Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Kesal? Tertawa Saja.

Lupa Tertawa

Tidak berapa lama lalu, saya dan anak pergi nonton bioskop. Ternyata ada perubahan kebijakan. Batasan usia sekarang diberlakukan dengan ketat. Karena ada anak di bawah usia 17 tahun dan film ini untuk 17 tahun ke atas, kami tidak diperbolehkan masuk ke teater. Kami baru tahu perihal kebijakan ini ketika di pintu masuk.
 
Tidak ada lagi kompromi, walau kami berargumen bahwa akhir tahun ini anak saya akan berusia 17 tahun dan tidak akan takut nonton filmnya. Filmnya memang ada banyak adegan kekerasan, tapi sebagai praktisi Brazilian Jiu Jitsu, toh anak saya sudah sering nonton UFC. Tapi ya sudahlah, kami ikuti saja demi kebaikan bersama, dan kebijakan baru ini memang bagus.
 
Kami balik ke counter untuk refund uang. Ternyata tidak bisa. Alih-alih kami diberikan pilihan untuk nonton film lain yang segala usia. Pilihannya kebetulan cuma satu. 

Masalahnya sekuel pertama film ini saja kami tidak suka. Tapi ya sudahlah, yang penting hati senang dan bisa ada waktu berkualitas bersama anak. 

Bukankah berbahagia bersama keluarga lebih penting daripada film favorit kita?
 
Satu hal yang agak tidak konsisten adalah trailer yang ada ternyata tidak sesuai dengan kategori segala umur dari film utamanya. Terlalu vulgar. Tapi ya sudahlah, wong namanya kebijakan baru wajar kalau aplikasinya belum sempurna.
 
Saya pikir, berilah kesempatan film ini. Bisa sejelek apa sih film yang punya target box office dan didukung pemodal kelas dunia ini? Tapi demi amannya, saya tetap menjaga ekspektasi supaya tidak ketinggian, mengingat kekecewaan kami setelah menonton sekuel yang pertama.
 
Setengah jam berlalu, saya merasa sudah harus menurunkan standar lebih rendah lagi. Film ini mulai terasa seperti cocktail karakter-karakter overdramatis, ada beberapa orang Asia pintar yang perannya lebih untuk memenuhi standar diversity dan komersial Hollywood, kata-kata bijak filosofis ala Jedi, dan plot yang serupa dengan sekuel pertama.
 
Titik jenuh saya terjadi di tengah film, berkat gabungan dialog datar dan pengembangan karakter yang sama sekali tidak pernah take off. Juga, kita tahu sebuah film tidak memenuhi syarat sebagai film yang baik ketika CGI adalah fitur terbaiknya. Tapi ya sudahlah...

Entah bagaimana, kami berhasil menonton film ini sampai... ehem... selesai.
 
Setelah perasaan teraduk-aduk selama dua jam lebih, kami mulai bertanya-tanya pada diri sendiri:  mengapa tidak cabut saja di tengah film? Bukankah waktu itu sangat berharga?
 
Setelah berpikir sejenak, saya menyimpulkan bahwa ada lima alasan mengapa kami tetap menonton film ini sampai garis finish.
 
Pertama, karena efek sunk cost, biaya yang sudah terjadi dan tidak bisa kembali. Kami sudah terlanjur bayar tiket dan tidak ada kebijakan refund.
 
Kedua, saya berulang kali berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa plot film ini telah mencapai titik nadir. Titik paling rendah telah tersentuh, sehingga satu-satunya kemungkinan adalah menjadi lebih baik. Anehnya tiba-tiba optimisme bangkit dan saya mulai berpikir, “Mana mungkin bisa menjadi lebih jelek daripada ini.”
 
Hal ini persis seperti saat kita merasa salah beli saham, kemudian fundamental dan harga saham menukik ke bawah. Kadang kita suka menghibur diri, meyakinkan diri sendiri bahwa kalau sudah turun banyak, selanjutnya hanya bisa membaik dan harga saham akan naik.

Padahal kita tahu saham yang harganya turun 95% adalah saham yang harganya telah turun 90%, kemudian masih turun setengah atau 50% lagi! 

Tidak ada hukum pasti yang menyatakan bahwa kalau sudah turun 90%, hanya akan membaik ke depannya. Toh kalau saham yang kita pegang sudah turun 90%, secara psikologis sulit untuk cut loss. Walaupun fundamentalnya terus memburuk.
 
Balik lagi ke film tercinta, ternyata kami harus menerima kenyataan pahit bahwa badai belum berlalu. Dialog film ini menjadi makin repetitif. Seolah skenarionya ditulis oleh penulis imajinatif yang berusia 6 tahun dengan range vocabulary Dora the Explorer.
 
Ketiga, efek dari the law of diminishing return. Mungkin dalam kasus ini, lebih tepat dibilang the law of diminishing pain. 

The law of diminishing return adalah hukum ekonomi yang menjelaskan bahwa salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan output (return) adalah dengan menambah jumlah faktor-faktor produksi (input). Jika ini dilakukan secara terus menerus, maka hasil produksi akan terus meningkat. Menariknya, ternyata ada yang namanya titik jenuh. Yaitu suatu titik di mana akhirnya jika penambahan input terus dilakukan setelah melewati titik jenuh ini, maka output-nya justru akan menurun. Diminishing return.
 
Mungkin dalam kasus film ini, kami telah mencapai titik jenuh yang dimaksud. Akibatnya, tambahan input (tambahan menit siksaan menonton film ini) tidak akan menambah penderitaan (pain) kami lagi. Sehingga akhirnya kami menonton film ini sampai selesai.
 
Keempat, mungkin karena dalam kehidupan sehari-hari, kita dibombardir dengan begitu banyak image dan foto dari media sosial yang memperlihatkan “betapa bahagianya kehidupan orang lain”. Mereka kok terus-menerus tertawa, terus-menerus traveling, terus-menerus beli mobil dan mainan baru. 

Perasaan kagum ada. Tapi jujur, ada juga perasaan iri, kalau kita terlalu peduli dengan semua itu. Tiba-tiba kita merasa ada yang kurang dengan hidup. Kenapa saya terjebak di meja kerja sedangkan teman lagi diving di Raja Empat, setelah minggu sebelumnya diving di Pulau Komodo?
 
Paling tidak dengan menonton film jelek ini, kita lebih mensyukuri hidup. Aneh tapi nyata, ada rasa senang melihat tidak semua di sekitar kita adalah sempurna.
 
Alasan kelima mengapa kami menonton film ini sampai selesai mungkin lebih pantas dan uplifting untuk menjadi bahan tulisan. Saya percaya ini adalah alasan yang paling dominan hari itu.
 
Sebenarnya setelah titik jenuh tercapai, setiap adegan yang layaknya membuat marah malah terasa lucu. Kami mulai tertawa dan melihat semuanya sebagai humor. Kok bisa bikin film sejelek ini dengan budget sebesar itu. Tentunya tidak mudah.
 
Sebagai manusia dewasa, kita telah kehilangan kemampuan untuk tertawa. Rata-rata anak berusia 4 tahun tertawa 300 kali sehari. Sedangkan rata-rata orang dewasa hanya sanggup tertawa 15 kali sehari. Seakan kita sudah lupa bagaimana caranya tertawa karena beban hidup dan stres.
 
Padahal tertawa adalah elemen yang sangat penting bagi untuk memberi energi, dan membuat mood menjadi lebih baik. Dengan energi dan mood yang positif, kita akan menjadi lebih kreatif. 

Juga dengan tertawa kita akan melihat sisi lain dari permasalahan, yaitu sisi yang lebih ringan dan menyenangkan. Stres akan berkurang secara drastis karena tertawa memiki daya pembersih yang dahsyat. Tidak heran kalau teman kita yang sering tertawa jarang sakit.
 
Kita semua tahu itu, tapi sering lupa untuk tertawa. Kita tertawa bukan karena bahagia. Kita bahagia karena tertawa.
 
Tapi kan filmnya jelek banget? Bandwidth di pikiran kita terbatas, jadi tidak perlu diboroskan untuk memikirkan hal-hal yang tidak penting. Saya suka memberitahu diri sendiri: berhenti mengeluh dan mulailah hidup. Pikiran kita lebih baik direservasi untuk perkara besar dalam hidup. Selain perkara besar? Kita pakai sebagai bahan tertawa saja. 

 

“Nurture your mind with great thoughts, for you will never go any higher than you think”
-Benjamin Disraeli-

 

Ditulis oleh Wuddy Warsono, CFA, 20 Juni 2019

Share :

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Brazilian Jiu Jitsu dan Sapi Ungu

Sekitar lima tahun yang lalu, di antara lompatan (...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, Investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Hidup Tanpa Dasi

Belum lama, saya mendapatkan undangan ke satu acar...

Tags : Investasi, Blog Sucor Sekuritas,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Waiter Ajaib dan Bayangannya

Minggu lalu, saya ke Bali untuk menghadiri sebuah ...

Tags : Investasi, Blog Sucor Sekuritas,

More Information
Posted by Wuddy Warsono EMH dalam Kehidupan Nyata

Tahun ini BII Maybank Bali Marathon akan kembali d...

Tags : Investasi, Blog Sucor Sekuritas,

More Information
about
about

2019 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.