Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Learning To Slow-Dance

Learning To Slow-Dance

Puisi yang sangat indah ini ditulis oleh psikolog anak David Weatherford. Selamat menikmati. And take your time.

Slow Dance

Have you ever watched kids on a merry-go-round,
or listened to rain slapping the ground?

Ever followed a butterfly's erratic flight,
or gazed at the sun fading into the night?

You better slow down, don't dance so fast,
time is short, the music won't last.

Do you run through each day on the fly,
when you ask "How are you?", do you hear the reply?

When the day is done, do you lie in your bed,
with the next hundred chores running through your head?

You better slow down, don't dance so fast,
time is short, the music won't last.

Ever told your child, we'll do it tomorrow,
and in your haste, not see his sorrow?

Ever lost touch, let a friendship die,
'cause you never had time to call and say hi?

You better slow down, don't dance so fast,
time is short, the music won't last.

When you run so fast to get somewhere,
you miss half the fun of getting there.

When you worry and hurry through your day,
it's like an unopened gift thrown away.

Life isn't a race, so take it slower,
hear the music before your song is over.

Puisi di atas begitu menyentuh relung hati saya yang paling dalam. Saya membacanya pertama kali tahun 2012 di buku “The 4-Hour Work Week” karya Tim Ferriss. Saat itu, saya masih bekerja di salah satu investment bank terbesar di Indonesia. Dan buku maupun puisi ini menjadi salah satu katalis perubahan dramatis dalam hidup saya, ke arah yang jauh lebih seimbang dan baik.

Di tahun itu, tidak jarang saya bekerja dengan jam kerja yang ultra panjang, dengan konsekuensi super mahal yaitu kesehatan saya terus menurun. Saya rajin berolahraga tetapi kesehatan saya tidak membaik. Stress dan gaya hidup yang kurang baik nampaknya tidak cukup dikompensasi dengan olah raga.

Kehidupan sebagai seorang professional memang sering seperti sebuah paradox. Dengan bekerja tekun sepuluh jam sehari, mungkin kita akan mendapatkan promosi pekerjaan.

Sebagai konsekuensi dari promosi ini, kita mungkin akan mendapatkan jabatan baru yang mengharuskan kita untuk bekerja dua belas jam sehari.

Dari sepuluh jam ke dua belas jam. Ironis?

Di Jepang, pekerja kantoran ini diberi nama sarari-man. Maksudnya tentu salary-man. Ada kata baru untuk keluar dari zona nyaman sarari-man. Namanya datsu-sara suru. Maksudnya untuk keluar dari zona nyaman sarari-man.

Keluar dari zona nyaman? Kenapa pertanyaan ini begitu penting dan relevan?

Apa itu zona nyaman? Bisa apa saja. Mungkin pekerjaan atau situasi yang terlalu nyaman untuk ditinggalkan. Tapi dalam konteks ini, zona nyaman yang dimaksud adalah walaupun nyaman, mungkin karena perasaan aman dari gaji bulanan dan pekerjaan tetap, tapi ada bagian dari diri kita yang yang menolak dan menentang “kenyamanan” ini.

Masalahnya penolakan ini akan menghasilkan energi negatif. Dan pemikiran negatif tidak akan pernah menjadi cara yang optimum untuk berinteraksi dengan situasi dan tantangan di sekeliling kita.

Bahkan energi negatif ini cenderung menular ke sekeliling kita.

Tapi jangan salah. Ini bukan ajakan untuk keluar dari perkerjaan kita. Apalagi ajakan untuk membenci pekerjaan kita. In fact, pekerjaan adalah ibadah. Wajib disyukuri dan dijalanin dengan tekun.
Keluar dari zona nyaman adalah mengakui adanya penolakan dari diri kita terhadap situasi di sekeliling diri kita dan energi negatif yang dihasilkan dari resistensi ini.

Bagaimana caranya membuang energi negatif ini? Berdasarkan pengalaman saya, dengan cara membuangnya secara bertahap. Melalui suatu proses pergeseran paradigma. Dan proses ini dimulai segera, bukan besok-besok dan bukan angan-angan belaka.

Keluar dari zona nyaman adalah bekerja karena menikmati pekerjaan. Bukan harus bekerja siang dan malam untuk membayar tagihan yang datang tanpa henti.

Dan ini juga bukan soal terlahir anak orang kaya. Keluar dari zona nyaman itu buat siapa saja.

Juga bukan soal jebolan sekolah-sekolah ternama. Ini buat siapa saja.

Kamu dan aku, kita bisa.

Oleh sebab itu, video Keluar Dari Zona Nyaman Sucor Sekuritas itu sangat mengena buat saya. Kalau belum lihat, di bawah ini adalah link-nya.

Episode 1

Episode 2

Episode 3

And by the way, Instagram Sucor juga menarik kita ikuti. Banyak masukan ke arah keluar dari zona nyaman yang bisa kita pelajari.

Jadi, bagaimana caranya Keluar Dari Zona Nyaman?

Sebagai manusia, kita punya kecenderungan untuk menunggu. Iya, menunggu. Sampai kapan? Selalu ada besok? Mungkin suatu hari nanti. Mungkin selamanya.

Tapi apakah kita mau terus menunggu untuk “hidup”? To live a meaningful life? Saya yakin kita tahu orang di sekeliling kita yang bilang ke kita mereka akan mencoba sesuatu yang baru dalam hidup mereka tapi selalu mau menunggu “suatu saat” untuk memulai perubahan itu.

Dalam pengalaman saya, ada dua pilar penting untuk bisa keluar dari zona nyaman.

Pilar pertama adalah mental atau mindset.

Menurut penulis, stress itu lahir karena kita di “sini” tetapi punya keinginan untuk berada di “sana”. Polarisasi sini-sana ini adalah salah satu sumber stress utama.

Kalau teman-teman di sekitar kita juga mengalami polarisasi ini, apakah membuat kita tidak stress? Tidak juga. Sama aja.

Polarisasi yang lain adalah “masa kini” dengan “masa lalu”. Kadang kita suka hidup di masa lalu. Akibatnya masa lalu ini akan menjadi jangkar dari kehidupan kita dan terus terakumulasi. Makin lama makin sulit keluar dari masa lalu.

Antitesis dari kedua tantangan di atas adalah “living in the moment” atau “mindfulness”. Saatnya untuk mulai hidup di saat ini, bukan di angan-angan masa depan dan bukan pula dalam jebakan masa lalu.

Tentu ini proses yang sulit sekali dan kita mungkin sekali tidak akan bisa pernah mencapainya secara total. Tapi paling tidak proses bertahap ini bisa kita mulai. Tentu perubahan, bagaimanapun bertahapnya, akan mengakibatkan withdrawal pains. Seperti saat kita keluar dari ketagihan. Yang paling masuk akal adalah mengerjakan dengan bertahap dan perlahan, dalam ritme kita sendiri.

Mungkin ini saatnya belajar slow dance. Learning to slow dance.

Pilar kedua: Kemerdekaan Finansial

Pilar kedua untuk keluar dari zona nyaman juga tidak kalah pentingnya: kemerdekaan finansial. Kebebasan penuh untuk mengikuti passion kita tanpa harus khawatir soal kondisi finansial.

Sulit untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba pendekatan baru dalam hidup kita kalau kita mempunyai kebiasaan berhutang sana sini. Mana mungkin bisa “living in the moment” kalau debt collector menelpon kita 10x sehari menagih hutang kita?

Warren Buffett bilang prinsip kemerdekaan finansial itu sederhana. Tapi sederhana itu bukan berarti mudah. Simple nggak sama dengan easy, kira-kira begitulah.

Pertama, jangan berhutang untuk konsumsi. Sederhana aja: kalau kita harus berhutang untuk membeli sesuatu, berarti kita membeli sesuatu yang di luar kemampuan.

Kedua, menabung. Di awal karir penulis, setiap rupiah pengeluaran dicatat. Tujuannya supaya tahu di mana kita terlalu boros. Tujuan akhirnya adalah supaya ada yang tersisa untuk ditabung. Budget kita design seputar menabung, bukan seputar konsumsi. Kebiasaan normal bahwa budget disesuaikan dengan konsumsi; kita balik total. Menabung adalah langkah awal untuk berinvestasi.

Ketiga, berinvestasi. Hukum yang sangat powerful di dunia investasi adalah “the Law of Compounding” alias “hukum bunga berbunga” atau “hukum efek bunga majemuk”. Kalau kita membiarkan hukum ini terjadi di investasi kita, efeknya ajaib. Albert Einstein pernah bilang bahwa compound interest adalah kekuatan yang paling dahsyat di kehidupan sosial kita. Banyak artikel mengenai compound interest, sangat disarankan untuk membacanya bagi yang ingin mulai berinvestasi.

Salah satu syarat untuk optimalisasi compound interest adalah memulai berinvestasi sepagi mungkin. Jadi jangan ditunda lagi untuk memulai berinvestasi dan belajar menjadi investor.

Satu hal lagi soal mencapai kemerdekaan finansial. Warren Buffett pernah bilang bahwa dalam berinvestasi, ternyata investasi yang perlahan dan pasti akan jauh lebih mungkin menjadi pemenang dalam jangka panjang. Slow dance wins.

Let’s learn to slow dance.

Written by : WW, 27 November 2018

Share :

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Setelah Melompat, Belajar dari Nyai Ontosoroh

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatn...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Balada Mati Air

To pee or not to pee? Pertanyaan ini yang ...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Memilih Untuk Menghitung Berkat

“The ancestor of every action is a thought&r...

Tags : blog sucor, Blog Sucor Sekuritas, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Membagikan Kebahagiaan

Awal Agustus lalu, dalam kunjungan ke Las Vegas, s...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
about
about

2019 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.