Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Hal apa yang bikin kamu bahagia hari ini?

Kisah Dua Bankir

“Wealth is not about having a lot of money; it is about having a lot of options”
Chris Rock

Kutipan di atas saya dapatkan waktu sedang berkunjung ke IG Sucor Sekuritas. Pesan yang ingin mereka sampaikan adalah bahwa memiliki kebebasan finansial itu bukan tentang seberapa banyak uang yang kita miliki. Kebebasan finansial itu lebih mengenai memiliki banyak pilihan, termasuk di dalamnya memiliki banyak waktu untuk orang yang kita cintai.

Pertanyaan logis berikutnya adalah: bukankah kalau kita memiliki banyak uang, dengan sendirinya kita memiliki banyak pilihan? Artinya lebih banyak uang berarti kita lebih bahagia?

Ketika sedang berkontemplasi mengenai hal ini, di hari yang sama saya bertemu dengan dua bankir dari sebuah bank asing terkenal. 

Bankir yang pertama levelnya adalah Vice President (VP). Bahkan di era title inflation ini, jabatan VP ya tetap prestisius. Paling tidak, modal yang cukup buat mengesankan calon mertua, karena sudah masuk kategori juragan. Apalagi dari bank terkenal. Bagi sebagian besar dari kita, title VP di bank besar perlu perjuangan luar biasa untuk bisa mendapatkannya. 

Saya jadi teringat, waktu pertama kali diangkat jadi pegawai tetap Citibank, saya merasa terbang ke bulan. Seperti mimpi menjadi kenyataan. Padahal posisi yang ditawarkan ke saya waktu itu pegawai level klerikal, yang kalau di film perang jaman pertengahan digambarkan di posisi terdepan dan duluan kena panah. 

Itupun sudah bahagia sekali, kena panah duluan pun rela. Bayangkan seorang VP. Harusnya orang yang bisa mendapatkannya akan merasa super puas dan super bahagia, antara lain karena uangnya pasti sudah lebih dari cukup.  

Ternyata realitasnya tidak seperti itu. Sang VP menemui saya dengan ogah-ogahan. Dan gagal mengenali saya sebagai nasabahnya. Padahal saya masih ingat persis dia. Ketika saya coba membantu mengingatkan siapa saya dan kapan terakhir kami bertemu, sang VP malah sambat kalau total jumlah nasabahnya mecapai angka 1000-an. Terlalu banyak, overworked, jam kerja terlalu panjang. Malah kok curhat ke saya. Ini piye

Ya sudah, iya, saya paham, nggak apa kalau nggak ingat sama saya. 

Hanya yang paling menyedihkan adalah kok si VP ini bicara seolah-olah hidup dia penuh penderitaan dan tidak melihat melayani 1000-an klien sebagai anugerah, melainkan sebagai beban yang teramat berat. Jelas dia tidak bahagia.

Setelah sesi curhat selesai, sang VP ternyata malah lanjut dengan sesi komplain. Dia bilang lain kali kalau mau berkunjung ke cabang, lebih baik janjian dulu. Lagian, lanjut dia, alternatif online kan ada. Intinya, nasabah dia kalau bisa nggak usah datang. Padahal terakhir saya mampir ke cabang dia adalah tiga tahun yang lalu. Tiga tahun sekali juga masih dianggap terlalu sering mengganggu. Lagian buat apa ada kantor cabang kalau bukan untuk bertemu nasabah?

Pasti sang VP orang super sibuk, jadi saya iseng nanya apakah hari itu jadwal dia super sibuk. Dia bilang hari itu sebenarnya OK, tapi bukan itu poinnya. Hari itu mood iseng saya lagi tinggi, jadi saya nanya lagi, terus poinnya apa? Kali ini sang VP tidak menjawab. Mungkin mulai kesal. 

Saya coba jelaskan kalau ternyata dia sibuk atau ada meeting di luar, saya terima penuh risikonya. Saya mampir karena memang kebetulan berada di daerah itu. Dan ada urusan yang tidak bisa diselesaikan secara online. Dia setuju memang urusan ini ternyata tidak bisa diselesaikan secara online

Tapi muka sang VP masih tetap bete, masih terlihat tidak bahagia. Saya jadi teringat bahwa sikap ini tidak berbeda dengan saat kita bertemu terakhir, yaitu tiga tahun yang lalu. Ah, paling tidak dia termasuk kategori konsisten, dalam hal ketidakbahagiaannya. 

Seorang Vice President, yang sudah masuk kategori juragan di dunia perbankan, ternyata sangat tidak bahagia. Juga tidak ada solusi yang efektif untuk permasalahan yang saya hadapi. 

Tapi saya belum mau menyerah. Selain mood iseng, hari itu saya juga sedang ada fighter mood. Pantang menyerah. 

Saya coba mampir ke bagian kasir. Yang membantu saya seorang anak muda, kasir yang levelnya mustinya masih klerikal. Bukan VP. Bukan kaum juragan. Dengan sabar, dia mendengarkan permasalahan yang saya hadapi. Setelah itu, dia memberi saya dua alternatif. Salah satu alternatif ini ternyata sangat sederhana dan efektif. Saya ambil alternatif itu. Semua beres dalam waktu kurang dari 5 menit. 

Si kasir, tidak seperti sang VP, mukanya bahagia penuh senyum tanpa bete. Rasanya ingin langsung saya tawarin kerjaan. 

Sang VP dengan kantornya yang kinclong vs. staf kasir yang masih junior pangkatnya. 

Padahal saya melihat si kasir yang penuh semangat dan senyum ini diukur dengan timer, dimonitor berapa waktu yang dia habiskan untuk melayani seorang nasabah. Toh masih dengan sangat sabar mendengarkan permasalahan saya, dan dengan cepat menghasilkan solusi. 

Saya yakin kasir ini punya masa depan yang gemilang. Karena dia berhasil melatih otaknya untuk berfokus pada hal-hal yang positif dan indah dalam hidup. 

Konstruksi mentalnya positif. Dan ini akan bermuara pada optimisme, kebahagiaan, dan rasa syukur. Kebahagiaan datang dari dalam dan mempunyai segalanya bukan resep kebahagiaan. Dalam cerita wayang, kita belajar bagaimana Rahwana yang mempunyai segalanya sebagai Raja Alengka ternyata tidak bahagia dan tidak mampu menahan kecemburuan terhadap Raden Rama yang tidak mempunyai apa-apa selain istrinya Sinta yang cantik jelita. 

Lantas bagaimana dengan urusan uang setelah kita mempunyai konstruksi mental yang positif? Dengan memiliki banyak uang, bukankah kita akan memiliki banyak pilihan? 

Statistik riset menunjukkan tenaga penjual yang mood-nya positif menjual 56% lebih banyak daripada mereka yang negatif. Wajar saja sebenarnya, siapa sih yang suka dilayani tenaga penjual yang ceritanya keluh kesah terus. Sekali dua kali, jurus welas asih alias jurus minta simpati di dunia sales ini bisa berhasil, tapi tentunya tidak sustainable

Kita sukses dalam karier karena kita bahagia, bukan sebaliknya. Kasir muda ini lebih bahagia daripada sang VP. Kalau dia bisa mempertahankan karakter bahagia-nya, saya yakin karir yang hebat akan menjadi miliknya. 

Ada dua harapan saya. 

Yang pertama, tiga tahun lagi saya akan coba mampir untuk bertemu lagi dengan Sang VP. Saya berharap dia sudah menemukan kebahagiannya. Sudah bisa menghitung berkatnya.

Yang kedua, saya berharap kalau si kasir muda tadi suatu hari menjadi VP, dia tetap akan bahagia. 

Juga, bahagia itu penting karena setiap hari adalah kesempatan untuk membagikan compassion yang mendefinisikan kemanusiaan kita. Anggap saja setiap senyuman dan kebaikan yang kita tebarkan ke orang di sekitar kita adalah uang sewa yang harus kita bayar untuk menghuni planet bumi.  

 

“Every day, be kind to a stranger.”
Robin Sharma, Life Lessons From The Monk Who Sold His Ferrari is

 

Ditulis oleh Wuddy Warsono, CFA, 9 Desember 2019.

Share :

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Membuat Hidup Lebih Hidup

Beberapa hari yang lalu, saya ikut berpartisipasi ...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Tahun Baru vs. Dekade Baru

Setelah tahun 2019 ditutup dengan kasus gagal baya...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Kisah Dua Bankir

“Wealth is not about having a lot of money; ...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono 258

Dalam rangka menulis report, belum lama ini saya m...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
about
about

2020 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.