Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Akankah masyarakat kembali belanja?

Kembali ke "Normal"

Kita semua tahu bahwa suatu hari badai Covid-19 akan berlalu. This too shall pass. 

Yang kita belum tahu, kapan dan bagaimana semua ini akan berlalu. Dan bagaimana dampak sosial politik ekonomi bagi dunia. 

Untuk urusan ekonomi, salah satu ide yang banyak beredar adalah semua ini akan berlalu seperti kedipan mata dan segalanya akan balik normal di kuartal ketiga. 

Kalau bicara kurva, bentuk pemulihannya akan seperti huruf V. Alasannya masuk akal. Orang telah terkurung begitu lama dan mengalami kejenuhan yang luar biasa. Sehingga suatu saat nanti, begitu larangan keluar dicabut, semua akan “balas dendam” dan secara all outmau menebus waktu-waktu funyang hilang. Menyerbu restoran, bioskop, dan pergi berwisata.

Tentu skenario V ini ideal. Dan ada beberapa penelitian yang menunjukkan betapa hebat kemampuan manusia untuk bertahan. Riset menunjukkan bahwa orang yang harus kehilangan anggota tubuh karena amputasi bisa memperoleh lagi kepuasan hidup, balik ke level awal dalam beberapa bulan.

Namun sebagai investor, mungkin kita harus bersediaopen mindedsoal segala skenario alternatif. Supaya waktu mengalokasikan cash untuk beli saham, kita bisa siap secara mental kalau ternyata pemulihan ekonominya berbentuk U atau W, misalnya. 

Barusan saya nanya ke putri remaja saya, bagaimana pengaruh Covid-19 ke pandangan hidupnya. Menjawab pertanyaan saya, ia membagikan bagian dari diary-nya ke saya, sebagai berikut:

 

These uncertain times will unquestionably shake the confidence of the people. People are losing their jobs. Those who manage to hang on may be taking a hefty pay cut. When chaos ensues, why would anybody be thinking about buying that new flat screen TV? Society has gotten used to overspending and over consumption. All of a sudden, this habit suddenly proves to be unsustainable. 

Minimalism can be a solution to this. 

While in quarantine, you have the inevitable opportunity to learn about yourself. Things can get boring being alone in the house, and you suddenly learn your own patterns in a situation you would most likely have never been in. One thing that being in quarantine takes away from us is the luxury to complete some of our daily activities, as all of a sudden, we need to change up our daily routines and be able to complete them in the comfort of our own homes. 

During these trying times, we all have to resort to some form of escapism. Mine was to declutter my room to somehow find the feeling of having my life together. What I’ve learnt from organising my room, is that, between the moments where under the piles of paper on my desk I find knick knacks I haven’t seen in years, I mostly find things that are borderline useless. We all have that one chair we pile half dirty clothes on-I’ve gotten to the point where I actually dug out clothes that haven’t seen the light of day! 

There might be people who experience the same thing, that after spending all that time in quarantine, they realise that they don’t need much things to go on with daily life. Instead of going all out and letting out the repressed feelings of getting stripped away from their previously normal habits, some people might choose to live in the sphere of minimalism. 

Going forward from however many months we need to self isolate, many may come out of this hibernation period with a different mindset. Maybe, it's because of the trauma the economic recession brought. Or maybe, it is the epiphany of not needing the physical things we have as much as we have previously thought. 
 

Tulisan catatan harian di atas seolah mengingatkan saya bahwa belum tentu semua orang akan melakukan program balas dendam belanja habis-habisan setelah badai Covid-19 berlalu. Bukan tidak mungkin kalau banyak di antara kita yang menemukan kembali makna hidup, mengevaluasi segala kebiasaan, dan merasa terhubung ke orang-orang tercinta tanpa melalui konsumsi yang berlebihan. Covid-19 mungkin akan menjadi katalis gerakan baru yang memberi ruang bagi habitat kita, planet bumi, untuk lebih bisa bernafas. 

Satu hal yang saya pelajari dari krisis Covid-19 ini adalah kemampuan virus untuk menyesuaikan diri supaya bisa survivedan berkembang biak. Pendahulu Covid-19, SARS terbukti terlalu ganas dan melukai host-nya terlalu dahsyat. Begitu dahsyat daya rusak terhadap habitatnya, sampai-sampai SARS tidak mampu berkembang biak secara efektif. Host-nya keburu meninggal. Sedangkan generasi Covid-19 telah bermutasi sedemikian rupa sampai-sampai daya menularnya begitu menakutkan dan sebagian besar host-nya selamat tapi tetap secara keseluruhan sangat merusak.

Mungkin satu-satunya makhluk di dunia yang dengan sengaja merusak habitatnya adalah kita,  manusia. Mungkin hanya kita yang dengan sadar terus merusak rumah kita, yaitu planet bumi. Dan mungkin krisis ini memberi kita kesempatan untuk mengevaluasi hidup. Paling tidak, untuk sementara waktu. Mungkin untuk beberapa saat, fokus umat manusia adalah upaya pemulihan kondisi ekonomi dan menemukan kembali makna hidup kita. 

Dan selama itu terjadi, mungkin pemulihan ekonomi dunia bukan V. Mungkin W. Mungkin U. Alternatif yang perlu kita pikirkan sebagai investor. 

 

Soal pent-up demand setelah menahan nafsu belanja selama masa isolasi, katakanlah makan malam di resto favorit atau gunting rambut di barberlangganan. Tapi apa iya kita akan makan malam di resto favorit dan gunting rambut beberapa hari berturut-turut untuk menggantikan konsumsi yang hilang selama periode isolasi? Konsumsi serviceyang hilang selama periode isolasi adalah konsumsi yang hilang selamanya. Sifat kerusakan yang terjadi saat ini adalah permanen, tidak bisa dikompensasikan oleh konsumsi masa depan.  

Selain itu, kerusakan juga bisa lebih lama dari yang kita sangka. Kalau melihat pengalaman Ebola, kunjungan turis ke Sierra Leone masih belum balik ke level sebelum ada wabah Ebola. Padahal sudah bertahun-tahun Sierra Leone dinyatakan bebas Ebola. 

Juga melihat kasus Wuhan, banyak penduduk Wuhan yang heran dengan prediksi hidup setelah badai Covid-19 akan langsung normal dan semua akan langsung baik-baik saja. Padahal KPR dan tagihan kartu kredit yang tertunggak masih harus dibayar dan kepastian pekerjaan juga jauh dari pasti. 

Kemungkinan besar beberapa saat setelah badai berlalu, semua akan lupa lagi. Sebagian besar akan balik “normal” lagi. Karena kekuatan persuasi iklan konsumerisme seringkali lebih kuat daripada kekuatan mental manusia. 

Mungkin ada baiknya kalau saat “normal” telah kembali tiba, kita saling mengingatkan: apakah kita benar-benar mau balik ke titik “normal” sebelum pandemi Covid-19? Mungkin pada saat itu kita bisa mengingat-ingat kembali, apa yang telah dipelajari selama masa isolasi. 

Sebenarnya masa isolasi banyak hikmahnya. Misalnya, dengan berkurangnya level interaksi antara sesama manusia selama masa isolasi, mungkin kita sedang belajar lagi dan sedang diingatkan bahwa hening adalah bahasa terbaik. Karena hening membantu kita untuk memahami diri sendiri. 

Dalam hening, kita tidak terfokus pada diri dan ucapan kita sendiri, melainkan pada pesan ilahi yang akan membantu kita memahami arti hidup kita. Hening memberi kita kemampuan untuk mengekspresikan secara tulus nilai-nilai kedamaian, cinta, dan suka cita. 

 

Ditulis oleh Wuddy Warsono, CFA, 13 April 2020

Share :

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Tersenyum di Depan Tembok

Kita berada pada titik di mana pandemi Covid-19 me...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Kecanduan Hutang

Kangen WFH?  Berkat WFH, saya jadi rajin b...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Kembali ke "Normal"

Kita semua tahu bahwa suatu hari badai Covid-19 ak...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Nrimo Musim

Dua minggu working from home, rasanya seperti suda...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
about
about

2020 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.