Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Akankah kita merindukan WFH?

Kecanduan Hutang

Kangen WFH? 

Berkat WFH, saya jadi rajin buka beberapa buku lama yang menjadi bagian dari inspirasi saya. Salah satunya adalah Out of Our Minds, Learning to be Creative, karya pakar pendidikan ternama Inggris, Sir Ken Robinson. 

Di buku itu ada cerita mengenai Dave, seorang aktor Inggris. Hobinya minum bir Abbot Ale. Bir Inggris yang terkenal nendang. Saking hobinya minum, Dave minum 12 pint sehari. Serius. 

Suatu hari, Dave kena sakit tulang belakang dan menemui dokter, yang kemudian mereferensikan Dave untuk menemui dokter ahli ginjal. Dicari-cari, akhirnya ditemukan akar permasalahan problem ginjal Dave, yaitu terlalu banyak minum bir Abbot Ale. 

Dokter ahli ginjal pun menyarankan Dave untuk berhenti minum bir. Tapi Dave bilang tidak mungkin bisa berhenti minum bir karena profesinya sebagai aktor. Masak aktor nggak gaul. 

Menghela nafas, dokter ahli ginjal menawarkan sebuah solusi. Bagaimana kalau Dave berpindah ke minum spirit, sebagai alternatif dari bir. Karena bingung, Dave bertanya bukankah minum jenis spirit jelek buat livernya. Kan kadar alkohol spirit lebih tinggi? 

Dokter ahli ginjal pun menjawab bahwa Dave datang ke dia soal ginjal, bukan soal liver!

“Solusi” yang ditawarkan si dokter hanya melihat problem Dave secara terkotak-kotak. Di matanya, Dave datang untuk berkonsultasi soal ginjal, dan “solusi” yang ditawarkan sudah tepat, walau efek samping spiritke liver akan sangat merusak. 

Konteksnya secara keseluruhan nggak dapat. Di dunia kedokteran, pendekatan ini dinamakan septic focus. Pendekatan septic focus adalah kebalikan dari pendekatan holistik, yang akan melihat problem Dave sebagai konsekuensi gaya hidupnya, bukan semata soal bir-ginjal. 

Septic focus, sayangnya,  juga sering menjadi pendekatan yang dipakai oleh pembuat kebijakan. Di zaman Global Financial Crisis (GFC) 12 tahun yang lalu misalnya. Di Amerika Serikat, terjadi krisis sektor perumahan yang sangat memukul sektor finansial, karena banyaknya eksposur sektor finansial ke produk derivatif sektor properti. Untuk menyelamatkan sektor finansial, Bank Sentral Amerika (Fed) dan beberapa bank sentral dunia mencetak uang (Quantitative Easing atau QE) secara sangat masif. 

Problem yang terjadi karena terlalu banyak hutang di sistem, diobati dengan cara berhutang lebih banyak lagi. Seperti mengobati kecanduan alkohol dengan konsumsi alkohol yang lebih banyak lagi. 

Sakit ginjal, atau krisis sektor keuangan, “diobati” dengan mengganti bir dengan spirit. Dan spirit dalam hal ini adalah QE yang merusak liver. Kerusakan dipindahkan dari perusahaan finansial (ginjal) ke neraca keuangan bank sentral global (liver), dan kecanduaan alkoholnya naik luar biasa. 

Sebagai gambaran bagaimana kecanduan alkohol (alias hutang) naik sangat dahsyat, total aset bank-bank sentral utama dunia naik 4x lipat sejak 2007 hingga Februari 2020 (sebelum Corona), dari USD 5 triliun menjadi hampir USD 20 triliun. 

Argumen yang sering saya dengar pada waktu itu adalah nanti kalau semua sudah kembali normal, pasiennya bisa berangsur-angsur mengurangi minum spiritBalance sheet bank sentral dunia bisa secara berkala disusutkan lagi. Teorinya begitu. 

Kenyataannya ternyata berbeda. Kecanduan akan hutang makin parah. Walau dampak negatif sangat jelas terlihat (selain bull market di hampir semua hal dalam 12 tahun terakhir ini). Yang paling jelas adalah gap kaya-miskin yang semakin melebar di mana-mana, karena uang hasil QE hanya bisa dinikmati oleh kalangan investor. Sementara kalangan non-investor melihat pendapatan mereka tidak naik secara berarti, bahkan menurun. Kesenjangan kekayaan terkaya 10% vs bottom 90% di Amerika Serikat ini dapat dilihat jelas di chart berikut:

*Sumber: Survey of Cunsumer Finances and Financial Accounts of the US

Kita juga dapat melihat beberapa tren aneh dunia, misalnya banyak demo di tempat-tempat yang dianggap makmur, seperti Hong Kong (kebetulan salah satu tempat dengan harga properti paling tidak terjangkau bagi kebanyakan orang). Dan fenomena Hong Kong juga tidak sepenuhnya unik. Kesenjangan yang besar juga berbuah keributan di Chile, Lebanon, dan Paris. Mungkin karena kemakmuran hanya dirasakan oleh sebagian kecil masyarakat. Medan politik juga bergeser secara radikal. 

Sesuatu yang sebelumnya tidak terbayangkan seperti fenomena Brexit dan Trump ternyata terjadi. Padahal selama kampanye Presiden tahun 2016, tercatat Trump mengeluarkan tidak kurang dari 155 pernyataan kontroversial. Toh terpilih menjadi Presiden AS ke-45. Tidak mungkin hal ini dapat terjadi di era normal. 

Akar dari semua ini adalah septic focus. Mengganti bir dengan spirit, yang intinya mengobati kecanduan alkohol dengan konsumsi alkohol yang lebih besar. Mengobati kecanduan hutang dengan hutang yang jauh lebih besar. 

Soal argumen bahwa nanti kalau semua sudah kembali normal, pasien toh bisa berangsur-angsur mengurangi konsumsi spirit. Aset bank sentral bisa disusutkan lagi. Kenyataan ternyata jauh berbeda. Ambil contoh kasus the US Federal Reserve, bank sentral AS.

Sejak Quantitative Tightening (program detoks alkohol, kebalikan dari Quantitative Easing) bulan September 2017, total aset yang berhasil ditarik kembali adalah USD 679 miliar. Total masa penarikan ini adalah 22 bulan. 

Menariknya, sejak bulan Agustus 2019 Fed mulai melakukan QE lagi, membesarkan asetnya lagi, mengkonsumsi alkohol lagi. Jumlah asetnya bertambah dalam jumlah yang mencengangkan, USD 1,5 triliun hanya dalam waktu 7 bulan hingga bulan Februari 2020. Karena pasar mulai gelisah dengan penciutan jumlah aset the Fed. Pasar masuk periode sakau, withdrawal symptom. Menuntut penggelontoran likuiditas lagi. Dan ini sebelum periode krisis Covid-19. 

Jumlah yang ditarik USD 679 miliar, dalam waktu 22 bulan. 

Jumlah yang ditambahkan kembali adalah USD 1,5 triliun hanya dalam waktu 7 bulan. 

Belum lagi kalau jumlah penambahan likuiditas di pasar setelah periode covid-19 dimulai. Aset bank sentral diperkirakan akan naik berkali-kali lipat setelah krisis ini selesai. 

Ternyata tidak semudah itu untuk untuk mengurangi konsumsi alkohol. Ternyata tidak semudah itu buat aset bank sentral untuk bisa disusutkan lagi. 

Metode penambahan aset bank sentral dunia kali ini berbeda dengan waktu krisis 2008. Kali ini banyak helicopter money di mana-mana. Ada jenis kebijakan yang namanya MMT atau Modern Monetary Theory. Namanya boleh keren tapi intinya adalah pembelian aset-aset oleh bank sentral dan belanja fiskal tanpa batas yang dibiayai oleh bank sentral dalam mata uang masing-masing negara. Ini ibarat alkohol dosis super yang membuat kita bingung di mana batas kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Teori Manajemen Ekonomi Makro yang pernah saya pelajari di kampus tiba-tiba sudah basi. 

Kombinasi QE/MMT dan rusaknya mata rantai supply dunia akibat Covid-19 dan ancaman perang dagang, dalam pandangan saya, menyebabkan ancaman inflasi yang serius kedepannya. Secara pribadi, saya berpendapat periode deflasi dunia saat ini akan diikuti dengan periode inflasi tinggi. Nanti setelah periode lockdown berakhir, perputaran uang akan kembali naik dan jumlah uang yang beredar bertambah secara masif. 

Hal ini membuat saya berpikir, apa konsekuensinya buat kita sebagai manusia biasa yang ingin mempertahankan nilai uang yang dengan susah payah kita tabung. 

Salah satu caranya adalah mempunyai alokasi yang cukup ke sektor tambang emas. Cara yang lain adalah mengalokasikan pembelian saham ke saham-saham perusahaan yang akan keluar dari krisis ini lebih kuat daripada sebelumnya. Juga perusahaan yang mempunyai pricing power yang tinggi. Perusahaan dengan franchise yang kuat, yang bisa meneruskan kenaikan harga bahan baku ke konsumen. 

Melindungi tabungan kita adalah langkah penting dan bertanggung jawab. Siapa tahu, mungkin suatu hari nanti, kita akan melihat periode WFH ini dengan rasa kangen. Bukan hanya karena kesempatan luar biasa yang diberikan ke kita untuk mengendalikan nafsu (apalagi pas bulan puasa), pencarian jiwa, berkumpul dengan orang-orang yang kita kasihi, tetapi kita juga akan kangen dengan periode ini karena ini kesempatan luar biasa untuk menata ulang portofolio kita. 

Akhir kata, saya ucapkan selamat berpuasa buat teman-teman yang sedang melaksanakan ibadah puasa. Salah satu sahabat bilang ke saya kalau ternyata ibadah puasanya bisa menjadi lebih khusyuk bersama keluarga. Juga lebih hemat dan budget ajakan berbuka puasa yang biasanya datang terus-menerus bisa ditabung. Juga karena tidak ada acara tarawih bareng, teman saya jadi sangat kangen kesempatan itu, yang di situasi normal sering kita take for granted

Siapa tahu, kita bisa kangen dengan masa WFH ini. Siapa tahu. 
 

Ditulis oleh Wuddy Warsono, CFA, 4 Mei 2020

Share :

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Tersenyum di Depan Tembok

Kita berada pada titik di mana pandemi Covid-19 me...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Kecanduan Hutang

Kangen WFH?  Berkat WFH, saya jadi rajin b...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Kembali ke "Normal"

Kita semua tahu bahwa suatu hari badai Covid-19 ak...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Nrimo Musim

Dua minggu working from home, rasanya seperti suda...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
about
about

2020 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.