Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Bagaimana cara mempersiapkan diri untuk yang terburuk?

Era Terburuk?

Tahun 2020 ini diawali dengan begitu banyak cobaan. Padahal masih Februari, sudah begitu banyak tantangan. Mulai dari konflik Amerika-Iran, penembakan pesawat Ukraina, banjir di Indonesia, kasus gagal bayar di pasar modal kita, pergulatan politik di Amerika dan Rusia, gempa bumi di Turki, longsor di Kashmir, gunung meletus di Filipina, dan kebakaran di Australia. Tapi seakan-akan semua berita itu lenyap. Tenggelam bukan oleh kabar baik. Melainkan oleh kabar buruk, yaitu virus Corona. 

Ditambah dengan masalah kerusakan lingkungan dan ancaman Artificial Intelligence (AI) bagi kemanusiaan, apakah kita hidup di periode yang terburuk dalam sejarah manusia? 

 

Saya sedang membayangkan. Seandainya ada mesin waktu dan saya dibebaskan untuk memilih periode dan tempat untuk mencoba hidup, mungkin saya akan memilih periode revolusi industri, sekitar era tahun 1760-1840 di Inggris. 

Mengapa Inggris? Karena bagi saya yang pernah bersekolah dan berkarier di sana, Inggris itu seperti rumah kedua. 

Mengapa era revolusi industri? Karena bagi saya ini salah satu periode paling menarik dalam sejarah manusia. Jelas sekali bahwa revolusi industri membawa perubahan dahsyat bagi umat manusia. 

Paling gampang begini. Kalau kita lihat film zaman dulu, sebelum era revolusi industri sulit membayangkan untuk tahu bedanya kalau setting film itu tahun 900 atau tahun 1500 setelah masehi. Karena perbedaan peradaban tahun 900 dan 1500 memang relatif kecil. Setting yang sama, bisa dipakai untuk merepresentasikan tahun 900 atau tahun 1500. Suka-suka yang bikin film untuk kasih label. 

Tapi kita langsung tahu kalau latar belakang sebuah film itu tahun 1900 atau 1950, misalnya dengan memperhatikan ada mobil-mobil di jalan atau tidak. Karena perbedaan situasi kondisi di kedua tahun itu memang begitu terasa. Bahkan sekarang kita juga langsung akan tahu latar belakang sebuah film itu tahun 2010 atau tahun setelah 2015. Kalau seorang sutradara bikin film dengan latar belakang Jakarta di tahun 2010 dan di film ada banyak Gojek berseliweran di jalan, pasti dibilang sutradara kurang memperhatikan detail atau bahkan kena kejar tayang. 

Membandingkan kemajuan dunia setelah era revolusi industri memang mencengangkan. Di tahun 1870 misalnya, bangunan tertinggi di dunia sudah berumur 4.500 tahun, yaitu piramida Giza. Seratus tahun kemudian, piramida ini bahkan tidak lagi masuk ke dalam daftar 10.000 bangunan tertinggi di dunia. 

Kalau kita mau memakai teori “Knowledge Doubling Curve”, hingga tahun 1900 level pengetahuan umat manusia dobel tiap 100 tahun. Di akhir perang dunia 2, pengetahuan umat manusia dobel tiap 25 tahun. Sekarang, pengetahuan manusia dobel tiap 13 bulan. 

Semua dimulai dari era revolusi industri, yang terdengar begitu mempesona, bahkan romantis. 

 

Saya pun mencoba menengok catatan sejarah. Memang periode ini akan tercatat dalam sejarah sebagai salah satu periode paling progresif. Tapi ternyata, semakin dipelajari, semakin banyak kita menemukan fakta negatif, bahkan menakutkan dari era ini.

Sisi negatif ini misalnya dalam hal kondisi hidup para pekerja, yang harus pasrah menerima shift 12-16 jam kerja dan cukup menerima upah yang hanya pas untuk hidup. Tempat kerjanya pun super jorok dan konsep keamanan bekerja belum ada, apalagi work-life balance. Polusi super parah. Usia harapan hidup hanya 37 tahun (49.5 tahun untuk kaum ningrat). Tingkat kematian bayi di era revolusi industri sangat tinggi, di angka  43% (sekarang di bawah 5% secara global dan di bawah 1% untuk negara maju). Dan kalaupun bisa survive sebagai bayi, nasib menjadi pekerja anak pun menanti. Dengan upah setengah orang dewasa tentunya.  

Sanitasi juga tidak memenuhi syarat. Plumbing dan toilet modern belum ada, di mana-mana tercium bau tak sedap. Kondisi jalan-jalan tidak seperti yang digambarkan di banyak film, karena kotoran manusia akan dibuang begitu saja, dari jendela ke jalan-jalan. Kolera dan tifus menjadi kombo yang sangat berbahaya.  

Seandainya mesin waktu memungkinkan saya berkunjung ke era revolusi industri di pusat dunia saat itu di London, sepertinya saya akan kecewa dan cepat-cepat minta balik ke era sekarang. Di Jakarta di bulan Februari tahun 2020. Tiba-tiba semua yang ada di Jakarta menjadi tampak indah. Meskipun banjir dan macet rajin mengancam. 

Kita hidup di era yang hebat, di mana untuk pertama kalinya lebih banyak orang meninggal tiap tahun karena terlalu banyak makan daripada karena kekurangan makan. Memang secara berkala masih ada kasus pandemi seperti Corona saat ini. Tapi ada banyak alasan untuk tetap optimis. 

Barusan saya nonton film dokumenter Pandemic di Netflix. Sangat uplifting melihat perjuangan luar biasa manusia untuk membuat flu menjadi penyakit masa lalu yang akan musnah dari muka bumi. 

Kemajuan pengetahuan vaksinasi, antibiotik, kondisi higienis, dan infrastruktur kesehatan yang lebih baik telah merubah wajah kemanusiaan. Memang tantangan masih begitu banyak, tetapi secara keseluruhan tidak berlebihan kalau dibilang ini adalah era terbaik yang pernah ada bagi manusia.

 

Lantas mengapa, dengan situasi yang jauh lebih baik saat ini, seakan-akan dunia terasa lebih kacau balau? Seakan-akan ini era terburuk dalam sejarah? Mungkin karena media memang lebih banyak memberitakan yang negatif daripada yang positif. 

Atau yang lebih mungkin, karena pikiran kita sendiri yang sibuk. Mungkin pikiran kita menjadi sibuk karena terlalu banyak bekerja, terlalu banyak multi-tasking, dan jadwal meeting dan travel yang terlalu padat. Juga karena terlalu banyak menghabiskan waktu di ponsel dan apps. Pikiran yang sibuk menyukai kecanduan akan distraksi. 

Pikiran yang sibuk juga akan membuat kita tidak lagi mampu berpikir, tidak lagi mampu mendengar suara alam semesta. Sampai kita melewatkan kenyataan besar bahwa hari ini adalah era terbaik yang pernah ada bagi manusia, dan esok kemungkinan besar akan lebih baik baik lagi. Hanya pikiran yang tenang yang memungkinkan kita untuk bersyukur, untuk seirama dengan semesta, dan mengakses seluruh kapabilitas kita bahkan di saat tersulit sekalipun. 

Pikiran yang tenang di saat kondisi market yang sulit  juga memungkinkan kita untuk melihat tren yang lebih besar dalam urusan investasi dan trading. Mungkin saatnya untuk menyeduh kopi, duduk tenang, dan membaca ulang catatan kenapa kita beli saham-saham yang ada di portofolio kita. Juga membaca buah pikiran orang-orang hebat bisa membantu membuat pikiran kita menjadi tenang. Tidak perlu mesin waktu untuk bisa mengakses pikiran orang-orang hebat, karena kita beruntung di era ini banyak orang hebat yang bersedia menulis buku dan berbagi buah pikirannya.

Mendiang Piet Yap adalah salah satu pengusaha nasional yang saya kagumi. Hasil karyanya berwujud dalam bentuk perusahaan nasional Bogasari Flour Mills. Putri beliau Wendy Yap adalah co-founder dan CEO Sari Roti, salah satu perusahaan konsumer di Indonesia dengan pertumbuhan tertinggi di situasi sulit seperti saat ini dan telah berperan menciptakan lebih dari 10.000 lapangan kerja. Saya percaya bahwa membaca tulisan Piet Yap akan sangat membantu untuk mem-filter pikiran kita dari noise yang ada.  

Di buku The First Grains, yang ditulis bersama putrinya Wendy Yap, Piet berbagi resep suksesnya. Begitu banyak wisdom yang bisa didapatkan dari buku yang indah ini. Untuk urusan trading dan investasi, resep beliau adalah untuk selalu bisa survive di market yang sulit. Juga untuk mempunyai kesabaran yang tinggi untuk menanti situasi yang lebih kondusif. Elemen yang dibutuhkan adalah keberanian (termasuk untuk urusan cut loss) dan pikiran yang tenang. Quiet brain

Mungkin dengan pikiran yang tenang, kita akan mampu melihat lebih panjang. Dan harga-harga saham yang sedang dan akan ditawarkan di market sebagai harga yang menarik, bukan harga-harga yang menakutkan. Karena kita melihatnya dalam konteks ini era terbaik yang pernah ada bagi manusia.

Kita cuma tidak berdaya untuk menghadapi badai kalau kita tidak mempersiapkan diri dengan baik. Kalau kita siap mental, harga saham yang longsor adalah kesempatan untuk beli lebih murah. Bagaimana cara mempersiapkan mental? Tentu berbeda-beda tiap orang. Kalau buat saya, kombo kopi dan buku adalah salah satu alternatif terbaik. Buku-buku tulisan orang hebat membantu kita untuk lebih siap menghadapi badai. Tinggal dibaca. Karena badai pasti akan berlalu.

 

Ditulis oleh Wuddy Warsono, CFA, 10 Februari 2020

 

“This is the true athlete - the person in rigorous training against false impressions. Remain firm, you who suffer, don’t be kidnapped by your impressions! The struggle is great, the task divine - to gain mastery, freedom, happiness, and tranquility.”

Epictetus, Discourses


 

Share :

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Parasite(s)

Presiden Amerika Serikat Donald Trump barusan biki...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar investasi, belajar saham,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Hari Kasih Sayang

Februari tahun 2018 adalah bulan yang mengubah hid...

Tags : blog sucor, Blog Sucor Sekuritas, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Era Terburuk?

Tahun 2020 ini diawali dengan begitu banyak cobaan...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Pelajaran dari Chikurubi

2 Februari 2012.  Tanggal yang masih saya ...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
about
about

2020 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.