Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Berani untuk jadi Beda

Brazilian Jiu Jitsu dan Sapi Ungu

Sekitar lima tahun yang lalu, di antara lompatan (jump) dari kuadran profesional ke kuadran entrepreneur, dari hidup dengan dasi ke hidup tanpa dasi, saya mendapatkan kesempatan yang sangat langka. Kesempatan untuk slow down sejenak dari jadwal yang biasanya luar biasa sibuk.

Saya belajar dari pengalaman di periode tersebut bahwa kita mengakses dunia melalui jendela pikiran (mind). Kalau pikiran terlalu ramai dan rumit, dunia kita pun ikutan ramai dan rumit, alias sumpek.

Kalau pikiran damai, dunia kita pun penuh damai. Perlahan tapi pasti, saya mulai memahami yang namanya The Power of Now, buku hebat karya Eckhart Tolle. Buku yang sebelumnya saya pikir tidak lagi sesuai dengan tuntutan zaman yang menuntut eksekusi serba super cepat.

Ketika pikiran mampu memberi hormat yang tertinggi bagi momen di depan kita (present moment), dan tidak lagi tersandera jebakan masa lalu dan angan-angan masa depan, hidup akan jauh lebih menyenangkan dan mudah.

Di periode tersebut, saya belajar untuk tidak lagi dikontrol oleh pikiran tentang bagaimana caranya, supaya besok dan besok lusa dan besoknya lagi, perusahaan yang saya wakili bisa memenangkan perang market share. Begitu fokus kita beralih ke NOW, ke saat ini, saya merasakan kehadiran (presence), kekokohan (stillness), dan damai (peace).

Di periode itu pula, karena belum memulai aktivitas di tempat kerja yang baru, saya dapat melakukan aktivitas favorit tanpa banyak restriksi. Salah satunya, saya mewujudkan impian untuk berlatih martial arts tiap hari. Ini memang salah satu passion dan saya ingin melakukannya seperti anak remaja puber yang carefree.

Awalnya, saya mencoba berlatih di jam-jam yang sepi supaya dapat perhatian dari pelatih dan cepat maju. Saya coba datang sekitar jam 10 pagi. Ternyata itu kelas untuk ibu-ibu. Karena sungkan, akhirnya saya balik lagi ke kelas malam buat orang kantoran dan mixed pria dan wanita.

Dengan awareness berbeda dan pikiran yang sepenuhnya fokus ke sekitar, tiba-tiba ada kesadaran bahwa saya dikelilingi oleh hal-hal yang indah dan menakjubkan.

Kelas Brazilian Jiu Jitsu (BJJ), misalnya. Tadinya saya sangat tidak suka. Tidak bisa melihat keindahan beladiri yang membutuhkan banyak kontak fisik dan saling bersentuhan antara praktisinya. Tentunya dalam konteks penuh keringat pula.

Namun begitu saya mengambil momen untuk mengamati dan menikmati latihan BJJ ini, keindahan demi keindahan mulai bermunculan. Tiba-tiba saya jatuh cinta pada metode latihannya yang rendah hati, di mana senior bukan berarti paling tahu dan selalu benar.

Hari itu, saya melihat bagaimana Coach BJJ Stefer Rahardian, yang juga salah satu fighter aktif Mixed Martial Arts (MMA) di One FC, memberi satu contoh kasus di mana salah seorang muridnya di posisi tertindih di bawah murid yang lain.

Selanjutnya, Coach Stefer bertanya ke murid-murid di sana, apa ide mereka untuk keluar (escape) dari posisi tertindih di bawah tersebut. Menariknya, terjadi debat lumayan hangat untuk mendiskusikan ide.

Debat ini bukan basa-basi. Bukan pula tes bagi murid-murid. Tapi benar-benar asli untuk mendiskusikan segala permutasi kemungkinan escape dari posisi sulit tadi. Yang tidak kalah menarik, ide yang terbaik yang menang. Tidak harus berdasarkan senioritas warna sabuk. Juga tidak harus ide Coach Stefer yang unggul. Demokratis dan egaliter.

Seandainya saja para politikus dunia pernah berlatih BJJ, mungkin dunia akan menjadi lebih baik saat ini. Perang dagang mungkin saja tetap ada, tapi tidak berkembang menjadi perang dingin. Karena perang dingin tentunya bukan ide yang terbaik dan layak menang.

Dengan segala kelebihan mindset yang terbuka ini, tidak heran kalau perwakilan BJJ, yaitu Royce Gracie dari keluarga perintis BJJ the Gracies, pernah menghebohkan dunia di tahun 1993 ketika menjadi juara UFC pertama.

Kemunculan UFC sendiri juga menyentak dunia karena untuk pertama kalinya di era modern, bela diri dari seluruh dunia dipertandingkan secara terbuka. Tanpa basa-basi, langsung ketahuan siapa bosnya. Royce Gracie menang dan BJJ menjadi pembicaraan dunia. Bahkan banyak yang menyebut BJJ sebagai catur manusia (human chess) karena kemiripannya dengan olah raga catur dalam hal berpikir beberapa langkah ke depan. Dianggap beladiri cerdas.

Saya bertanya ke Coach Stefer Rahardian dan di kemudian hari ke Coach MMA kelas dunia Martin de Jong dari Tatsujin Dojo: Apa yang membuat BJJ maju dengan sangat pesat dan menjadi salah satu komponen wajib buat mereka yang ingin serius menjadi atlet MMA?

Ada dua kunci sukses utama. Yang pertama adalah banyaknya kompetisi untuk mengasah skill. Yang kedua adalah open mindedness atau keterbukaan terhadap ide baru, seperti dalam contoh di atas, adalah salah satu DNA BJJ.

Dalam bahasa guru marketing Seth Godin, kemunculan BJJ (dan UFC itu sendiri) adalah “remarkable”.

BJJ adalah purple cow, atau sapi berwarna ungu yang menarik perhatian di antara sapi-sapi coklat. BJJ adalah ide yang remarkable. Ide yang tersebar seperti virus, menular dan dibicarakan di mana-mana. Ideavirus.

Ideavirus ini menjadi lebih relevan di zaman defisit perhatian di era smartphone ini. Kita tahu attention span manusia sekarang semakin lama semakin pendek.

Berbeda dengan banyak beladiri yang takut kehilangan muka dan takut menyinggung praktisinya karena berinovasi, BJJ memilih jalan yang dianggap tidak umum dan tidak aman. Dengan rajin berkompetisi (termasuk dengan beladiri lain, bahkan sebelum era UFC) dan terus belajar, BJJ dapat mempelajari kesalahannya dan terus berinovasi. Filosofinya “if it works, it works”, kalau berguna, pakai saja.

Dalam karier, sering kita takut untuk berinovasi dan memilih jalan yang “aman”, walaupun jalan ini membosankan dan hampir tidak mungkin menghasilkan sesuatu yang remarkable.

Mengapa memilih aman? Karena kita takut berubah dan takut orang menertawakan. Kita seringkali memberi terlalu banyak bobot bagi pendapat orang lain, yang belum tentu peduli.

Jalur aman ini juga sering ditempuh pelaku industri pasar modal. Fenomena ini, misalnya, menjelaskan mengapa analis suka memilih untuk setia pada konsensus. Salah tidak apa-apa, asal jangan sendirian.

Di awal karier sebagai analis saham, saya mendapatkan kesempatan untuk wawancara kerja dengan salah satu analis ternama di masa itu (dan salah satu pemegang kualifikasi CFA pertama di Indonesia), Goei Siauw Hong. Karena tidak tahu apakah saya akan mendapatkan pekerjaan impian ini, saya sempatkan bertanya apakah yang membedakan dirinya dengan analis-analis lain sehingga dia menjadi legenda.

Jawabannya saya masih ingat persis: “berani berbeda”. Remarkable. Sapi ungu, bukan sapi coklat.

Untuk menjadi remarkable, hasil karya kita perlu menjadi ideavirus. Ide yang tersebar seperti virus, menular dan dibicarakan di mana-mana.

Belajar dari kisah sukses BJJ, resepnya adalah kompetisi (praktek, kalah menang, salah benar itu biasa, tidak perlu khawatir hilang muka) dan selalu terbuka ke perbaikan siapapun sumbernya (open mindedness). Juga bahwa senior tidak selalu berarti yang paling benar. Plus, takut salah dan takut terlihat bodoh adalah hambatan besar dalam berinovasi.

Mengenai “karir” BJJ saya, masa jeda di antara periode wajib pakai dasi dan periode tanpa dasi memang telah lama berakhir. Konsekuensinya, sudah tidak memungkinkan untuk terlalu aktif berlatih BJJ lagi. Meski demikian, ini bukanlah akhir love affair saya dengan BJJ. Saya sangat bersyukur pernah berlatih BJJ dan belajar banyak hal dan menyerap wisdom-nya.

Seperti kata karakter Brad Pitt di film Fight Club “This is your life and it’s ending one minute at a time”. Sayang bukan kalau karier kita tidak remarkable?

 

When everything around me is moving so fast, I stop and ask, “Is it the world that’s busy, or is it my mind?” 

Haemin Sunim, The Things You Can See Only When You Slow Down

 

Ditulis oleh Wuddy Warsono, CFA, 15 Juli 2019

Share :

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Membagikan Kebahagiaan

Awal Agustus lalu, dalam kunjungan ke Las Vegas, s...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, Blog Sucor, Belajar Investasi, Belajar Saham,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Merdeka Untuk Memilih

Baru-baru ini saya berkunjung ke Los Angeles, Amer...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, Blog Sucor, Investasi, Belajar Investasi, Belajar Saham,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Super Kreatif Tanpa Sekolah Formal

Salah satu bagian perjalanan karier saya adalah pe...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, Blog Sucor,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Circuit Breaker

Di awal Mei tahun ini, saya beruntung bisa menghad...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, Blog Sucor,

More Information
about
about

2019 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.