Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Perbincangan hangat dengan anak tercinta

Berbagi Pengalaman Hidup Dengan Putri Saya

Dalam hidup ini, ada beberapa keputusan penting yang harus saya ambil. Untungnya, selalu saja ada teman yang bersedia memberi masukan kalau diminta (ataupun tidak). 

Satu keputusan penting yang sedang saya ambil adalah mengijinkan putri saya, yang baru saja menginjak usia 17 tahun, untuk melanjutkan sekolah di tempat yang jauh, untuk belajar independen dan akses ke orang-orang hebat di bidang yang ingin ia tekuni. 

Juga keputusan penting tentang pelajaran hidup apa yang perlu saya bagikan buat putri saya sebelum ia berangkat sekolah. Bukan karena saya pikir saya smart, apalagi bijaksana. 

Juga amit-amit bukan karena saya merasa mulai masuk usia non-produktif. Tidak ada rencana pensiun di kamus saya (sorry buat tim saya, please bear with me).  

Saya membagikan pengalaman hidup untuk menunjukkan beberapa kesalahan dalam hidup, supaya tidak ia ulangi. Misalnya, saya dulunya berpikir kemauan (willpower) itu modal utama hidup. Perlu beberapa dekade buat saya untuk menyadari bahwa ini salah. Bahwa pakai kostum Superman tidak akan membantu saya untuk bisa terbang. Bahwa power of belief ini ada batasnya. Jadi perlu strategi khusus dan mindset yang benar agar supaya willpower kita selalu terisi. 

Dan perlu beberapa dekade buat saya untuk menyadari bahwa genetika kita tidak didesain untuk sukses. Desain kita lebih untuk survival. Karena kita cenderung overlearn, belajar dari pengalaman secara berlebihan. Termasuk pengalaman nenek moyang yang diteruskan ke kita. 

Ribuan tahun yang lalu, kita masih hidup sebagai hunter-gatherer. Belajar dari film Netflix, The Game Changers, saya jadi tahu bahwa nenek moyang kita ternyata lebih vegetarian daripada pemakan daging. Mungkin sebagai hunter, nenek moyang kita jarang dapat nilai bagus di performance appraisal-nya. Mungkin lebih sering harimau dengan gigi taring besar yang mengejar nenek moyang kita daripada sebaliknya.

Akibatnya, hormon adrenalin dan stres diluncurkan di tubuh nenek moyang kita. Untuk bertahan hidup, “fight or flight” adalah reaksi yang benar. Tapi reaksi yang benar yang hanya  cocok buat jaman itu. Sampai lupa sudah tidak ada lagi harimau dengan taring besar menanti kita di CBD Jakarta. 

Karena desain kita adalah fight or flight, penting sekali untuk memprogram mindset kita untuk tidak menjadikan fight or flight sebagai sikap default kita. Kalau kita desain mindset kita untuk sukses, suatu hari rejeki datang, kita sudah siap menerimanya.

Dua hal di atas, bahwa kemauan  ada batasnya dan bahwa kita tidak secara natural didesain untuk sukses, mungkin sanggup menjelaskan statistik berikut di Amerika Serikat:

•    Di tahun 1989, 1 dari 5 orang Amerika berusia 75 ke atas mempunyai hutang. Di tahun 2016, hampir setengahnya terjebak hutang. 
•    Dua belas persen dari mereka yang mengajukan bangkrut di tahun 2016 berusia 65 tahun ke atas, dibandingkan 2% di tahun 1991.
•    Empat puluh lima persen Baby Boomers tidak memiliki simpanan dana pensiun. Hanya 55% yang memiliki simpanan dan 28% nya memiliki kurang dari US$ 100 ribu. Dalam konteks Amerika, jelas nggak cukup buat bayar biaya kesehatan.
•    Jumlah rata-rata dari Social Security benefit adalah US$1,461 per bulan di tahun 2019. Jauh di bawah jumlah upah rata-rata US$3,600 per bulan.

Secara global, diperkirakan para pensiunan akan hidup lebih panjang dari tabungannya selama satu dekade. Artinya akan ada periode 10 tahun pensiunan akan hidup tanpa tabungan sama sekali.

Ngeri dengan statistik di atas? Serasa dikejar harimau dengan taring besar?

Padahal ini cerita soal generasi Baby Boomers di Amerika. Yang melewati masa kemakmuran yang luar biasa di Amerika. Juga bull market yang dahsyat di pasar sahamnya. Dan ini generasi yang terkenal dengan etika kerja dan disiplinnya. Kalau semua itu tidak cukup, lantas apa yang cukup?

Sebuah pelajaran bagus yang saya dapatkan dari kunjungan saya tahun ini ke meeting tahunan Berkshire Hathaway adalah banyaknya orang tua yang mengajak anak-anak mereka yang masih di bangku SD sampai remaja untuk bisa datang dan mendengar langsung dari duo Buffett dan Munger. Tentang pelajaran hidup, termasuk soal menata keuangan pribadi. 

Buffett dan Munger menjawab dengan serius pertanyaan dari anak-anak, bahkan yang masih berusia 11 tahun sekalipun. Karena mereka tahu sekali pentingnya untuk memulai berinvestasi di usia sedini mungkin. Makin muda kita mulai berinvestasi, makin dahsyat dampak dari the power of compounding

Juga toh kita akan melakukan banyak kesalahan selama berinvestasi. Kostum Superman dan membaca Berkshire letter 100 kali pun tidak akan membuat kita terbebas dari kesalahan. Makin muda kita mulai berinvestasi, makin kita mampu menoleransi kesalahan karena waktu ada di pihak kita. 

Plus, berinvestasi di pasar saham bukan hanya soal uang. Tapi juga soal kematangan dan keterkaitan emosional. Sebagai investor di pasar modal, kita “dipaksa” untuk memonitor perusahaan-perusahaan yang sahamnya kita beli atau kita ikuti. Kita melihat bagaimana mereka tumbuh dan berkembang, bagaimana mereka membuat kesalahan dan beradaptasi kalau mau tumbuh lagi. Ini pelajaran luar biasa dalam hidup. 

Ketika etika kerja dan disiplin ala Baby Boomers di Amerika ternyata tidak cukup untuk hidup nyaman di usia pensiun, mungkin yang diperlukan adalah memulai berinvestasi di usia semuda mungkin. Karena percuma ada bull market kalau kita hanya menjadi penonton. 

Bagaimana caranya agar kemauan (willpower) bisa tetap terjaga, dan kita tetap bisa disiplin menyisihkan uang untuk modal berinvestasi dan membiarkan the power of compounding bekerja? 

Nasihat ke putri saya: kelilingi diri dengan orang-orang yang tepat. Seperti Jim Rohn, yang juga mentor Tony Robbins pernah bilang “You are the average of the five people you spend the most time with.” 

Kita adalah rata-rata dari lima orang yang paling banyak menghabiskan waktu bersama kita. Implikasinya adalah kita seharusnya super selektif dalam memilih orang-orang yang kita perbolehkan masuk dalam hidup. Bukan karena gimana, tapi lebih karena kita mau menjadi lebih baik dan menghindari kesalahan banyak Baby Boomer di Amerika. 

Kita punya pilihan untuk memilih menghabiskan waktu dengan orang-orang yang membuat kita menjadi orang yang lebih baik, atau dengan orang yang menarik kita ke bawah. Pilihan ada di tangan kita, sepenuhnya hak kita.

Kalau Berkshire meeting di Omaha dirasa terlalu jauh, sebenarnya ada beberapa klub-klub investasi di Indonesia dengan growth mindset yang luar biasa, misalnya Ellen May Institute, Investor Muda, Gatherich, dan Jess Investing Club. Klub-klub hebat ini fokusnya ke edukasi, untuk mencapai kemerdekaan finansial.

Daripada kita menghabiskan waktu dan energi untuk khawatir dengan hal-hal yang tidak bisa kita kontrol, seperti mahalnya biaya kesehatan yang berkualitas, lebih baik kita mengisi waktu dengan hal-hal produktif bersama klub-klub di atas. 

Waduh, ribet amat. Gimana kalau menerapkan hakuna matata? Tidak perlu khawatir, dengan filosofi tanpa problem. Bagaimana kalau kita mencoba untuk tidak berpikir soal tantangan hidup?

Masalahnya, mencoba berpikir untuk tidak berpikir itu tidak realistis. Karena berpikir untuk tidak berpikir itu juga berpikir. 

 

“Victims love entertainment. Victors adore education.”
Robin Sharma, The 5 AM Club

 

Ditulis oleh Wuddy Warsono, CFA, 25 November 2019

Share :

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Tersenyum di Depan Tembok

Kita berada pada titik di mana pandemi Covid-19 me...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Kecanduan Hutang

Kangen WFH?  Berkat WFH, saya jadi rajin b...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Kembali ke "Normal"

Kita semua tahu bahwa suatu hari badai Covid-19 ak...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Nrimo Musim

Dua minggu working from home, rasanya seperti suda...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
about
about

2020 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.