Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Mari lupakan pengalaman negatif kita!

Belajar Lupa

Salah satu keuntungan dari menghadiri Berkshire Hathaway’s shareholders meeting adalah kesempatan membeli buku-buku pilihan selama hari belanja untuk pemegang saham. Hari belanja ini diadakan sehari sebelum shareholders meeting. Boleh dibilang buku-buku yang bisa dibeli di acara itu sudah diseleksi dengan sangat baik. Beli merem-mereman pun aman. 

Salah satu buku yang saya beli dalam rangka menghadiri Berkshire Hathaway meeting di bulan Mei 2019 adalah Shoe Dog. Buku ini adalah sebuah memoar indah yang ditulis oleh Phil Knight, salah satu entrepreneur terhebat yang pernah ada. 

Shoe Dog diterbitkan di bulan April 2016 dan baru sekarang saya sempat baca buku yang ternyata sangat menginspirasi ini. 

Di salah satu bab, ada cerita mengenai pelatih atletik legendaris Bill Bowerman. Bill adalah pelatih atletik di University of Oregon. Kebetulan Bill juga pelatih Phil Knight, yang selama kuliah di kampus tersebut bergabung dalam tim atletik University of Oregon. 

Di bawah kepemimpinan Bill Bowerman, tim University of Oregon menjadi langganan juara, melahirkan 33 atlet Olimpiade, 38 juara conference, dan 64 All-Americans.  

Bill Bowerman adalah pelatih atletik pertama di Amerika yang sangat menekankan pentingnya istirahat. Di matanya, periode recovery itu sama pentingnya dengan periode berlatih. 

Tapi kata Phil Knight: ”When he worked you, brother, he worked you”. Work-life presence. Kerja gas pol, istirahat gas pol juga. Kira-kira begitu. 

Bill Bowerman juga menjadi pelatih pemecah rekor untuk tim estafet 4-mil di tahun 1962. Juga, di dunia ini tidak ada yang melatih atlet elit lari “di bawah 4 menit per mil” sebanyak Bill Bowerman.

Tapi Phil Knight bukan salah satu atlet elit Bill Bowerman. Dan ternyata kegagalan Phil menjadi atlet lari elit di tim Bill ini menjadi keberuntungan Phil. Kok bisa? 

Begini ceritanya. Bill Bowerman ternyata punya obsesi luar biasa terhadap yang namanya sepatu olah raga. Sebagai pelatih, Bill suka menyelinap ke loker atletnya dan “mengoperasi” sepatu lari mereka. Selalu ada desain sepatu baru dari Bill. Obsesi utama Bill adalah membuat sepatu lari itu lebih ringan. 

Hitungan Bill sederhana tapi sangat penting. Pengurangan satu ons (28 gram) berat sepatu akan mengurangi beban sebesar 25 kg per mil (1.6 km) saat lari. Dua puluh lima kg!

Lantas apa hubungan obsesi Bill Bowerman soal sepatu dengan kisah entrepreneurship Phil Knight yang luar biasa?

Karena bukan atlet level elit, margin of error seorang Phil Knight dianggap lebih besar dibanding atlet elit. Bill jauh lebih berani bereksperimen dengan sepatu Phil. Kalau atlet elit kelas Olimpiade, Bill harus ekstra hati-hati.

Dengan kata lain, Phil menjadi kelinci percobaan Bill, dalam urusan desain sepatu. Proses ini juga menularkan obsesi Phil Knight dalam urusan desain sepatu olah raga. 

Obsesi duo pelatih dan atlet ini kemudan membuahkan kerja sama. Keduanya berkongsi melahirkan perusahaan yang bernama Blue Ribbon Sports. Bill fokus ke desain, Phil lebih berurusan dengan aspek komersial. The rest is history. Blue Ribbon ini kemudian kita kenal sebagai Nike, Inc. 

Phil Knight telah menjadi salah satu entrepreneur terkaya di dunia dengan total kekayaan lebih dari 30 miliar USD. Ia juga menjadi salah satu filantropis besar dunia. 

Dari seorang atlet gagal menjadi kisah sukses luar biasa. 

Phil juga bukan seorang salesman yang berbakat. Ia pernah mencoba jualan ensiklopedia dari pintu ke pintu, tapi gagal total. Dengan jujur Phil bilang bahwa ditolak itu tidak mudah baginya. Saya pikir mungkin tidak mudah bagi semua orang.

Mengapa Phil jauh lebih berhasil jualan sepatu olah raga? Karena mungkin dalam kasus sepatu olah raga, Phil tidak sedang berjualan. Phil benar-benar percaya bahwa lari itu baik bagi semua orang. Dalam pandangannya, dunia akan menjadi lebih baik kalau lebih banyak orang yang lari beberapa kilo tiap hari. 

Belief is irresistible. Apa yang kita percayai punya pengaruh yang luar biasa ke kehidupan dan karier kita. Sebagai contoh, di beberapa negara bagian di Amerika Serikat, ada kewajiban bagi penjual kostum Superman untuk mencantumkan peringatan bahwa kostum Superman tersebut tidak akan membantu yang memakainya untuk bisa terbang! Aneh tapi nyata, banyak yang percaya mereka bisa terbang dengan kostum Superman tersebut. The power of belief. 

Sisi negatif dari belief ini adalah kita cenderung overlearn, alias belajar dari pengalaman secara berlebihan. Termasuk overlearn dari pengalaman negatif. 

Penjelasannya sederhana. Ribuan tahun yang lalu, di saat manusia tinggal di gua dan masih dikejar-kejar harimau dengan gigi taring super besar, otak mengirim sebuah alarm yang kemudian membanjiri tubuh kita dengan adrenalin dan hormon stres. Untuk bertahan hidup, kita belajar bahwa “fight or flight” adalah reaksi yang benar untuk banyak hal. Catat: ini adalah reaksi yang tepat untuk zaman itu.

Masalahnya, di zaman di mana harimau yang harus takut ke manusia dan bukan sebaliknya, kita masih memakai naluri “fight or flight” ini. Overlearn. Belajar berlebihan. 

Kita belajar untuk survive, untuk menghindari bahaya. Itu desain default kita. Kita bukan didesain untuk sukses. Kisah sukses Phil Knight dan Nike bukan kisah alami. Karena seorang Phil Knight juga punya nenek moyang yang dikejar-kejar harimau. Lantas apa yang berbeda?

Ini resep sederhana Phil Knight. Dari pengalamannya sebagai atlet, bersaing dengan mereka yang kelas Olimpiade, Phil melatih dirinya untuk melupakan pengalaman negatifnya. Berlatih untuk lupa. Dalam bahasanya “the art of competing is the art of forgetting.” 

 

Lupakan limit.

Lupakan bahwa dia bukan atlet di level elit. 

Lupakan keraguan.

Lupakan kesakitan.

Lupakan masa lalu kita yang kurang baik.

Lupakan suara dari dalam hati yang berteriak “saya sudah lelah”.

 

Kalau tidak mungkin untuk lupa? Kita bernegosiasi. Kalau kita mau sesuatu dan tubuh sudah ingin menyerah, kita jawab “OK, saya dengar pendapat kamu, tapi ayo kita terus mencoba.”

Riset psikologi oleh Richard Wiseman pun mendukung ini. Untuk menjawab pertanyaan mengenai mengapa ada orang yang selalu beruntung dan ada yang selalu kurang beruntung, Wiseman membagi relawan peserta eksperimennya dalam dua kelompok. 

Kelompok pertama, orang-orang yang merasa beruntung dan hal-hal baik terjadi dalam hidup mereka. Kelompok kedua, orang-orang yang selalu merasa tidak beruntung.

Kedua kelompok ini diminta untuk menghitung jumlah foto yang ada dalam satu surat kabar. Kelompok yang merasa beruntung hanya perlu beberapa detik untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara itu, kelompok kedua perlu rata-rata dua menit untuk menyelesaikan tugas ini. Kenapa perbedaannya begitu siginifikan?

Ternyata, di halaman kedua surat kabar ini ada pesan sangat besar yang berbunyi “Berhenti menghitung, ada 43 foto di dalam surat kabar ini”. 

Kelompok tidak beruntung cenderung melewatkan iklan ini, sedangkan yang beruntung cenderung melihatnya. 

Resep sukses Phil Knight, belajar untuk melupakan pengalaman negatif yang telah kita pelajari secara berlebihan, akan membuat kita merasa beruntung. Sebagai konsekuensinya, ini membuka mata kita untuk bisa melihat kesempatan yang ada. 

Sebagai investor di pasar modal, ini mindset yang luar biasa. Teman saya yang investor sukses di pasar modal pernah bilang ke saya, bahwa kunci suksesnya adalah dia tidak pernah mau terlalu mengingat cerita pengalaman buruknya. Bukan karena tidak mau belajar dari kesalahan, tapi semata karena dia tidak mau dipenjarakan oleh kegagalannya di masa lalu, oleh kesalahannya, dan oleh kekalahannya. 

Kita bebas memilih untuk bebas. Untuk berfokus pada hal-hal positif. Tanpa kita sadari, tiba-tiba banyak kesempatan pun mulai terlihat jelas. Tinggal dipungut. 

Dengan kata lain, kita mau mengadopsi beginner’s mind yang percaya akan banyaknya kesempatan dan melupakan harimau-harimau dengan taring besar, yang memang sebenarnya sudah tidak ada lagi. 

 

 

“In the beginner’s mind there are many possibilities, but in the expert’s mind there are few.”

Shunryu Suzuki, Beginner’s Mind

 

Ditulis oleh Wuddy Warsono, CFA, 30 September 2019

 

Share :

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Kisah Dua Bankir

“Wealth is not about having a lot of money; ...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono 258

Dalam rangka menulis report, belum lama ini saya m...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Berbagi Pengalaman Hidup Dengan Putri Saya

Dalam hidup ini, ada beberapa keputusan penting ya...

Tags : blog sucor, Blog Sucor Sekuritas, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Ketika Hening Telah Berlalu

“Conversation enriches the understanding, bu...

Tags : blog sucor, Blog Sucor Sekuritas, belajar investasi, belajar saham,

More Information
about
about

2019 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.