Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Kegagalan jarang terlihat.

Orang Ynag Tidak Melakukan Kesalahan, Tidak Akan Pernah Berhasil

Tentunya, banyak orang sukses di dunia ini.

Beberapa hari lalu, saya sempat ikut forum bisnis di Jakarta digelar pada akhir pekan, saya menyaksikan rombongan pengunjung dari level pengusaha, professional sampai perintis start-up muda hadir. Kami semua datang untuk membentuk sebuah komunitas dan bertukar pikiran.

Semua yang datang punya tujuan sama, ingin termotivasi untuk jadi sukses. Saya, tentu salah satunya yang penasaran juga jadi ikut-ikutan.

Pada acara tersebut, saya teringat percakapan bagus sekali dimana pengunjung mulai group session, hadirin dibagi menjadi beberapa kelompok. Pemimpin grup tersebut membuka topik dengan meminta semua anggota berkenalan, menyebutkan nama masing-masing bergantian, ditambah dengan menyebutkan “siapakah orang yang paling Anda kagumi?” Atau kata lain-nya Admired Figure.

Jawabannya bervariatif. Dari pengusaha sukses, seperti Jeff Bezos pendiri Amazon, atlit pembasket Kobe Bryant, pengusaha dan sekarang Menteri Pendidikan Indonesia, Nadiem Makariem, atau sampai figur yang paling personal seperti “orang tua saya sendiri.”

Saya terkesan, semua jawaban tersebut punya satu kesamaan, kebanyakan Admired Figure tersebut di sertai cerita tentang seberapa tinggi sukses yang mereka capai. Admiration gak jauh dari success. Tetapi pemimpin grup pun lanjut bertanya dengan sedikit twist, “Dari setiap orang yang Anda kagumi, apa kalian tahu cerita tentang masa-masa kegagalan mereka?”

Ternyata belum tentu semuanya tahu. Kegagalan jarang dilihat.

Mungkin pada blog kali ini, ada baiknya jika kita rubah sedikit sudut pandang. Cerita tentang titik balik dari kegagalan seseorang yang saya pun juga admire. Namanya, Ray Dalio. Saya rasa, ada hal yang bisa dipelajari dari kegagalan sekalipun.

Mungkin, untuk Anda yang belum tahu tentang Ray, dan mencoba Googling, kebanyakan artikel akan bercerita tentang seberapa sukses Ray Dalio mendirikan Bridgewater, hedge fund terbesar di dunia dengan pencapaian return tertinggi berturut-turun dalam sejarah. Sedikit sekali artikel bercerita tentang perjalanan yang ditempuhnya untuk mencapai hal itu.

Kegagalan demi kegagalan. Ternyata nilai GPA yang hampir sempurna dan lulusan Harvard tidak selalu berarti karirnya mulus. Ray Dalio di berhentikan dari pekerjaan pertamanya di Dominick & Dominick, perusahaan sekuritas, karena amblesnya pasar saham.

Tidak lama kemudian, Shearson, perusahaan lain tempat Ia berkerja juga memecatnya setelah setahun berkerja.

Tahun 1975, ditengah masa penganggurannya, Ray Dalio memutuskan untuk mendirikan Bridgewater Associates dengan teman sekamarnya, di apartemen kecil. Usahanya pun sempat perlahan maju. Dengan memanfaatkan koneksi klien dari perusahaan tempat Ia dulu bekerja, ditambah nasihat topcer darinya dan prinsip analisa yang sangat hati-hati, Bridgewater pun mulai mendapat perhatian dari investor pada zaman itu.

Tetapi ternyata kegagalan selanjutnya pun terjadi. Dan merupakan yang paling berat.

Di awal tahun 80an, Ray Dalio terlalu pede memperkirakan terjadinya krisis global, dimana pada saat itu Amerika Serikat memberikan terlalu banyak hutang ke negara-negara berkembang. Ia mengambil posisi trade dengan membayar mahal instrumen untuk memproteksi dirinya dari penurunan pasar.

Secara arogan dan closed minded, (Ray mengaku di interview Ted Talk hari ini), Ia berbicara didepan media pada tahun 1982 bahwa krisis akan datang. Dan semua uang dari investornya pun ia cemplungi ke asset untuk persiapan krisis, tentunya, dengan sangat cepat, hal itu menggerus semua dana kelolanya.

“I can say with absolute certainty because I know how markets work.” Bahwa musibah PASTI akan datang.

Tetapi Ray pun salah total. Pasar saham malah semakin naik.

Tidak saja transaksi tersebut sangat gegabah, Ray Dalio ada di posisi yang salah saat pasar Amerika mencatat kenaikan Bull Run tertinggi sepanjang sejarah. Ia tidak tahu bahwa analisa keliru tersebut alhasil menarik semua kondisi finansialnya ke titik nol. Bangkrut total.

Tidak hanya gagal diam-diam, Ia gagal didepan banyak orang, media, klien, dan sampai mempengaruhi kehidupan keluarganya sendiri.

Akibat dari kesalahannya, Ia terpaksa memulangkan 70 staf yang berkerja untuknya, pindah rumah, bahkan harus menjual mobil keluarga hanya untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari istri dan anaknya. Statusnya menjadi jatuh miskin dan hampir bangkrut. Mengingat, seorang lulusan Harvard sekalipun.

Momen itu sekilas terasa sangat sakit. Ada saat dimana seorang Ray Dalio terpaksa tidak pergi terbang keluar kota untuk meeting dengan klien karena tidak mampu membeli tiket pesawat, yang padahal, komisi klien tersebut cukup untuk menutupi ongkos perjalanan.  

“Saya harus meminjam $4,000 ke ayah saya agar bisa makan, sampai saya berhasil menjual mobil saya,” Ray bercerita di dalam buku yang ditulisnya ‘Principle’.

Belajar dari kesalahan dan membuka pikiran.

Ya, investor legendaris seperti Ray Dalio pun tidak luput dari jatuh bangun. Tetapi respon setelah jatuh itulah yang membedakan seorang pemenang dengan orang lainnya.

Mungkin jika Ray hanya menyesali dirinya pada saat itu dan menghukum diri, Bridgewater tidak akan berdiri hingga saat ini. Salah itu bukan berarti gagal, tetapi tidak belajar dari kesalahan itu barulah menjadi kegagalan.

Ternyata, pelajaran inilah yang membantu Ray untuk menyusun strategi investasi yang lebih akurat untuk bangkit kembali. Bagaimana cara kita menularkan budaya ‘intropeksi diri’ dan terus membuka pikiran pada opini yang baru?

Dilain hal belajar untuk lebih teliti, Ray Dalio juga mencatat apa saja sih yang terjadi pada pribadinya yang membuatnya salah mengambil keputusan. Karena analisa saham saja tidak cukup, analisa tersebut harus di stress test. Artinya, terus menanyakan honest feedback dari sekitar kita. “Because as a human, we rarely do realize when we are wrong,” kata Ray.

Kegagalan itulah yang membuatnya juga terinspirasi untuk menulis bukunya, ‘Principle’. Buku tersebut bercerita tentang setiap intropeksi dari kesalahan yang Ia lakukan selama menjalani usahanya.

Setiap kegagalan, dan kesalahan demi kesalahan, ia mencatat ada prinsip apa yang bisa dipelajari agar kesalahan itu tidak terulang lagi. Learning dari baby steps, walaupun sudah dewasa. Menurut saya pribadi, itulah yang saya kagumi dari Ray Dalio. Tidak pernah terlalu tua untuk belajar.

Banyak perjalanan yang Bridgewater tempuh, tetapi mentalitas perusahaan pun menjadi berbeda sejak Ray Dalio memberikan prinsip yang baru untuk semua staffnya – untuk mempunyai perspektif positif terhadap kesalahan, dan berani gagal.

Seberapapun pintarnya pun kita berinvestasi atau berbisnis, kapan terakhir kali kita bertanya orang lain soal feedback apa kali ini kita benar atau tidak?

Sekarang dana kelola mereka $160 miliar. Terbesar di dunia. Bridgewater Pure Alpha menjadi fund tersukses yang paling terkenal selama beberapa dekade. Semua karena rumus yang simpel. Intropeksi.

Mungkin Anda sadar judul blog kali ini ada kesalahan penulisan. Itu tidak disengaja. Tetapi mungkin saya biarkan seperti itu agar cocok untuk spirit dari blog kali ini. Jangan pernah takut untuk salah.

‘Fail, Fail Again, Fail Better.’ – Samuel Beckett

 

Ditulis oleh Irwin Saputra, 3 Februari 2020

Tag

Share :

View All Article

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Nrimo Musim

Dua minggu working from home, rasanya seperti suda...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Memilih Hidup

Di awal Februari tahun ini, saya sempat menulis me...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Oriana Titisari Belajar Berserah

Saat menulis blog ini, saya sedang duduk di kantor...

Tags : Investasi,

More Information
Posted by Hendriko Gani Journey to the Capital Market

“Temen gue main saham, besoknya beli rumah t...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
about
about

2020 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.