Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Rasa takut datang saat tak bisa melihat apa yang ada di depan.

Melihat Apa yang Tidak Kelihatan

Di minggu yang bertema Halloween, saya memilih judul "Melihat Apa yang Tidak Kelihatan”. Rasanya pas banget sama suasana spooky (tapi keren) di setiap akhir bulan Oktober. Pasti akan banyak netizen yang bertanya-tanya, cerita apa nih? Penasaran akankah ada cerita seram di blog Sucor Sekuritas?

Tetapi sedikit ada twist dari tulisan saya kali ini. Kalau kamu mengharapkan cerita hantu, sayang sekali, ini bukan cerita hantu.

Saya ingin membahas sedikit tentang pengalaman, atau lebih tepatnya fobia saya. Mungkin saja ini bisa menjadi pembelajaran untuk semua pembaca, atau, teman-teman investor sekalian.

One thing I want to confess: Saya ini takut gelap.

Jika kamu ingin bilang saya penakut, gak masalah, memang sudah dari sananya begini.

Kalau ditanya sama teman kerja, "Bro, lo udah lihat trailer film 'The Grudge' yang baru belum? atau Annabelle yang terakhir?" Sudah pasti saya geleng-geleng kepala. 

"Belum. Gak suka, Bro!" kata saya. 

"Loh kenapa? Itu gak serem sama sekali. Lebih serem yang versi dulu, sebelum di-remake semua. Ini mah gak ada apa-apanya. Yuk nobar bareng yang lain!"

No, No, thanks, Bro. Hidup gue udah ngeri, gak perlu dibuat tambah seram lagi..." ujar saya sambil sedikit bercanda. 

Jawaban sudah template. Otomatis hampir semua saya jawab seperti itu. Alasannya kuat, walaupun, sebenarnya hidup saya - yah - gak semengerikan itu sih. Tetapi minimal orang lain tidak memaksa saya terus. 

Anyway, mungkin ketakutan saya pada yang 'gak kelihatan' itu sedikit lebay. Pernah gak sih kalian setelah nonton film horor waktu kecil, lagi keramas pakai sampo, terkadang suka memaksa buka mata satu untuk jaga-jaga jangan sampai ada 'hantu' di dalam kamar mandi? Jujur, itu terjadi sama saya. Walaupun mata sampai kemasukan sampo, tetap saja saya paksa buka mata satu.

Tidak dapat mengantisipasi apa yang terjadi di depan itu adalah mimpi buruk saya. Ironisnya, sebagai investor dan pialang saham, you are almost sure to not knowing what will happen to your investment. Ya betul, berkerja di bidang saham ini, bertolak belakang sekali dengan nature saya sebagai individu.

Jumat kemarin, saat tengah berencana menulis blog, saya pulang ke rumah orang tua dan duduk bersama dengan ibu lalu ngeteh bareng sambil ngobrol-ngobrol. Spending some quality time.

Saya lupa membahas apa awalnya, tetapi di tengah-tengah percakapan, ibu bercerita tentang suatu buku yang pernah dia edit (sedikit tambahan info, beliau ini editor buku terjemahan, jadi lumayan ceritanya banyak). Buku itu bercerita tentang pembelajaran untuk semua pebisnis. 'You have to be able to master your fear. If you can't, you won't be successful.’ Begitulah pelajaran yang beliau coba berikan. 

Pernah tidak kalian mendengar seorang bernama Florence Chadwick?

Ms. Chadwick merupakan seorang wanita asal Amerika Serikat yang paling kuat dari fisik maupun mental. Ia sangat terkenal dalam sejarah. Ia ini adalah seorang perenang. 

Apa yang Chadwick lakukan sampai bisa menjadi legenda? Bukan karena menang Olimpiade cabang olah raga renang seperti Michael Phelps. Chadwick ini menang medali saat ia berenang menyeberangi selat Inggris pada tahun 1950. Open Water Swim. Kata-kata itu saja sudah bikin saya merinding. 

Jauh. Dingin. Gelap. Bagaimana kalau ada hiu di tengah laut? Chadwick ini melewati semua yang menjadi fobia saya, berenang melewati laut lepas, selat Inggris-Prancis, dalam waktu 13 jam dan 20 menit. Ia melawan ombak, air yang super dingin, kabut yang tebal, dan kelelahan fisik yang luar biasa untuk bisa mengalahkan rekor itu. 

Superwoman, indeed, pikir saya yang ngos-ngosan setelah 30 menit berenang bolak-balik kolam komplek. 

Begitu mengagumkannya Chadwick. Jika saja kita punya keberanian sepertinya, pasti bisa melakukan apapun. 

Tetapi keberaniannya itu pun tidak tanpa progress itu sendiri. Chadwick juga pernah merasakan takut. Di salah satu buku biografi, Chadwick mengaku bahwa ketakutan terbesarnya terjadi saat Ia mencoba berenang dari Pulau Catalina ke pesisir California. Ya, California itu terkenal banyak hiunya. “Crazy! There's no way she's going to do that!” pikir saya, dan pastinya, semua orang dizamannya pasti juga berpikir demikian. 

Tapi lalu, ia melakukannya. Chadwick berenang, dikawal oleh kapal feri di belakangnya untuk jaga-jaga siapa tahu ia pingsan atau diserang ikan ganas. 

Tetapi bukan predator laut yang Chadwick takutkan. Ia ternyata takut merasakan 'kesepian' atau loneliness. Takut bahwa di tengah laut yang begitu luas, air yang begitu dingin, tidak bisa melihat ke depan karena kabut tebal, ia benar-benar sendirian ditelan alam. Chadwick menahan teriakan di dalam hatinya, dan terus berenang satu jam lagi. Masih belum sampai. Terus, berenang, dan terus berenang. Akhirnya ia mengangkat tangan ke kapal pengawas di belakangnya, dan menyerah.

Ya, Chadwick tidak tahu berapa jauh lagi dia harus berenang. Ia kembali naik ke kapal, menyelimuti tubuhnya dengan handuk hangat, dan menangis. 

Sama seperti kita semua, tantangan untuk menghadapi ketidakpastian pasti sangatlah berat. Terkadang terjadi di sosok investor yang ketakutannya adalah kehilangan uang investasinya, ataupun pebisnis yang baru saja rugi besar. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Saat melihat ke depan, kabut terlihat sangatlah tebal.

Tetapi itulah hidup. Kita harus tetap maju apapun yang terjadi. Untuk mempunyai keberanian saat kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan, itulah yang membuat hidup lebih berarti.

Kisah tentang Chadwick sudah diceritakan ratusan, mungkin ribuan kali oleh para motivator dunia. 

Untuk kalian yang sudah pernah membaca tentangnya, kalian pasti tahu, tidak lama setelah menangis karena ketakutan yang menusuk tulangnya, ia melihat ke depan dan perlahan kabut mulai hilang. Sekarang semua menjadi jelas. Tidak jauh di depan sana, ternyata ada pantai. 

Mendengar cerita ini, saya jadi teringat kutipan dari Jack Ma, "Most people give up precisely before dawn..."

Jika saja Chadwick berenang 20 menit lagi, dia pasti akan memenangkan rekor dunia yang tidak satupun orang berani lakukan, menyeberangi laut lepas Pulau Catalina Island ke pesisir California.

Kamu pasti tahu apa yang terjadi setelah ini. 

Dua bulan berikutnya, Chadwick akhirnya mencoba kembali dan berhasil. Saking pede-nya, ia melakukannya dua kali!

Tentu ia tidak bisa berenang seperti itu seumur hidupnya. Di masa tuanya, Chadwick akhirnya pensiun dan berkerja sebagai stock broker. Ironis bukan? 

"Mungkin sedikit rahasia dari cerita ini,” kata ibu saya, "Chadwick tidak bisa melihat apa yang akan terjadi di depan. Tidak ada satupun dari kita yang bisa menebak future. Yang lebih penting adalah apa yang akan kamu lakukan saat kamu tidak tahu apa yang akan terjadi. "Will you give up? or will you keep swimming?"

 

"Courage is not the absence of fear but action in spite of it."

- unknown -

 

Ditulis oleh Irwin Saputra, 4 November 2019

 

Tag

Share :

View All Article

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Ketika Hening Telah Berlalu

“Conversation enriches the understanding, bu...

Tags : blog sucor, Blog Sucor Sekuritas, belajar investasi, belajar saham,

More Information
Posted by Irwin Saputra Melihat Apa yang Tidak Kelihatan

Di minggu yang bertema Halloween, saya memilih jud...

Tags : blog sucor, Blog Sucor Sekuritas, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Nasionalisme yang Merayakan 100% ke-Indonesiaan Kita

Senam Kesegaran Jasmani (SKJ), lengkap dengan musi...

Tags : blog sucor, Blog Sucor Sekuritas, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Dua Puluh Tiga Tahun yang Lalu

Kalau saya ditanya pekerjaan mana yang paling berk...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar investasi, belajar saham,

More Information
about
about

2019 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.