Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Jalan menuju dunia pasar modal

Journey to the Capital Market

“Temen gue main saham, besoknya beli rumah tuh.”

Itu adalah pernyataan yang saya dengar ketika awal mengenal investasi saham. Seolah-olah saham adalah aset yang sangat menggiurkan dan bikin cepat kaya.

Oh iya, sebelumnya perkenalkan, nama saya Hendriko Gani, technical analyst di Sucor Sekuritas. Saya mengenal saham kurang lebih 10 tahun lalu. Tapi ini saya ulik sendiri. Masih belajar namun tidak saya praktikkan. Sekadar tahu saja. Sampai akhirnya tiga tahun lalu saya dapat kesempatan untuk benar-benar mengenal investasi di saham. Saya tertarik mempelajari lebih dalam karena ternyata dunia saham ini menawarkan sesuatu yang lebih daripada sekedar profit.

Saya adalah lulusan dari fakultas teknik salah satu universitas di Jakarta. Saya tidak memiliki background finance, kecuali mendapat pelajaran ekonomi ketika SMA kelas 1 dulu.

Momen yang menarik saya ke dunia investasi saham adalah tiga tahun lalu ketika saya bermain board gamecashflow” dari Robert Kiyosaki. Teman yang mengajak. Di permainan itu saya secara tidak sengaja (karena tidak begitu mengerti) membeli saham yang harganya sedang jatuh. Saya beli saham senilai $5 naik menjadi $40. Dan saya menang. Saat itu saya mulai berpikir, “Ternyata main saham itu gampang ya, cepat untung lagi. Ngapain harus kerja siang malam kalau di belakang komputer saja bisa mendapat penghasilan yang besar?”

Setelah itu saya mulai belajar dan mengambil beberapa kelas yang mengenalkan ke investasi saham. Saya memang terbiasa dengan angka dan matematika sejak kecil. Bahkan bisa dibilang saya menyukainya. Alhasil, saya merasa belajar saham itu sangat mudah.

Di awal-awal, saya mendapatkan profit yang cukup besar. Saat itu memang kebetulan pasar memang sedang sangat mendukung. Saya juga rajin top-up dana investasi karena saat itu saham apapun yang saya beli, harganya pasti naik.

Yah, tapi matahari tak selamanya cerah. Saat pasar berbalik arah, saya malah rugi, bahkan ruginya lebih banyak daripada keuntungan yang pernah didapat. Lalu rasa baper mulai muncul. Saya berpikir bahwa pasar modal hanya mempermainkan saya. Ini seperti judi saja... you win some, you lose some.

Saya tidak menyerah begitu saja. Karena tergolong orang yang amat logis, saya mencoba belajar analisa lebih dalam dan berkonsultasi dengan beberapa praktisi di pasar modal. Pertanyaan dasarnya selalu sama: bagaimana caranya agar saya bisa cuan di pasar modal?

Saya juga makin semangat untuk menceburkan diri di dunia ini. Saya mengikuti banyak kelas investasi, juga menjadi member beberapa komunitas saham. Tidak hanya itu, saya juga mengambil beberapa sertifikasi profesi seperti Wakil Manajer Investasi dan Certified Securities Analyst.

Setelah menjalani semua ini, akhirnya saya mulai memahami bagaimana suatu saham bisa bergerak naik atau turun berdasarkan informasi-informasi yang ada di market. Tapi anehnya saya belum juga dapat meraih profit di pasar modal. Ini sempat membuat saya down. "Apa memang saya tidak berbakat di dunia ini?" pikir saya.

Suatu hari saya bertemu dengan seorang yang juga merupakan praktisi di pasar modal. Beliau banyak cerita tentang pasar modal dan mindset yang benar tentang investasi. Saya sadar bahwa ternyata bukan analisa yang salah, tapi emosi dan mindset yang “ingin cepat kaya”. Saya terlalu banyak mendengar kata orang dan tidak percaya pada analisa saya sendiri.

Memang tidak mudah, tetapi perlahan saya mulai mencoba menguasai emosi dan tenang dalam membuat keputusan trading ataupun investasi. Saya mulai memperbaiki kinerja investasi. Memang tidak mendapat profit sebanyak yang saya kira di awalnya, bahkan kadang harus menutup posisi trading dengan kerugian (cut loss).

Tapi satu hal yang saya pelajari adalah, ketika berinvestasi, ternyata analisa dan alasan membeli saham ternyata lebih penting daripada saham apa yang kita beli. Maksudnya, apakah kita benar-benar mengenal saham yang kita beli, ataukah hanya tergiur untuk membeli karena mendengar rumor atau ikut-ikutan teman. Saat memilih satu emiten, apakah saya sudah benar-benar melakukan analisis fundamental dan melihat teknikalnya? Apakah saya membeli karena benar-benar percaya pada perusahaan tersebut, ataukah membeli kucing dalam karung? 

Selain itu, dengan berinvestasi saham, saya menjadi lebih berkembang secara individu. Saya juga belajar untuk berpikir lebih kritis, me-manage risiko, menerima kesalahan dan yang paling penting, pantang menyerah dan kembali berusaha. Karena kalau kita percaya dengan hasil analisa dan percaya pada perusahaan yang kita beli, apapun hasilnya, itu adalah bahan pembelajaran kita sendiri.

Saya adalah sarjana teknik sipil yang kini berkutat dan hidup dari investasi pasar modal. Dan yang bisa saya simpulkan dari pelajaran selama tiga tahun terakhir adalah, saya baru mulai dan masih ada banyak pelajaran dan petualangan untuk dijalani. Bagaimana dengan Anda?

 

Ditulis oleh Hendriko Gani, CSA 10 Maret 2020

Tag

Share :

View All Article

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Nrimo Musim

Dua minggu working from home, rasanya seperti suda...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Memilih Hidup

Di awal Februari tahun ini, saya sempat menulis me...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Hendriko Gani Journey to the Capital Market

“Temen gue main saham, besoknya beli rumah t...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Serial Keberuntungan?

Waktu jaman kuliah di Surabaya dulu, saya juga sam...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
about
about

2020 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.