Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

suasana jalanan Jakarta

Is Money Everything?

Beberapa minggu yang lalu sebelum Jakarta mengumumkan lockdown, kebetulan salah satu rekan Sales dari Sucor mencoba untuk memberikan donasi di sekitar ibukota. Memang betul, COVID-19 itu sangat berbahaya, tetapi kami pikir efek lockdown mungkin akan sama, atau bahkan lebih berbahaya daripada virus itu sendiri.

Sekitar akhir bulan Maret, pekerja di Jakarta tidak berani lagi datang ke ke kantor. Jalanan umum mendadak terlihat sepi. Tidak banyak angkutan publik beroperasi. Pedagang keliling yang hidup dari keramaian Jakarta pun mulai kehilangan pelanggan.

Missing street economy’. Mungkin kami datang dengan donasi pada saat yang tepat, pikir saya. Dari supir taksi, ojek online, sampai penjual makanan, kami berusaha membagi sedikit sembako untuk keperluan sehari-hari, dan mencoba sekilas bertanya tentang keadaan mereka – tentunya sembari mempraktikkan prinsip social distancing.

Kebetulan, Pak Mamat, salah satu pedagang bakmie ayam di Jakarta Barat berhasil kita hampiri.

Nggak heran, si Bapak juga mengalami hal yang sama… Dagangan sepi, tidak bisa gaji karyawan, sulit bayar hutang dan sebagainya. Boro-boro nabung untuk lebaran. Dari jualan 30 mangkok per hari, sekarang beruntung kalo bisa jual lima mangkok saja.

Banyak cerita keluh kesah Pak Mamat dari beberapa minggu belakangan ini. “Kalau gak jualan, ya keluarga gak makan…,” katanya sambil curhat ke kita. Saya pikir mungkin sedikit sembako dan masker bisa bantu Pak Mamat yang hatinya lagi pusing dengan kondisi sekarang ini.

Pak Mamat bukan salah satunya. Ada lebih dari 20 orang yang kita berhasil temui juga berbicara hal yang sama.

Saya yakin para pembaca sudah mendengar banyak kisah seperti di atas dari teman-teman kita yang kurang beruntung. Tetapi hari ini kami punya pesan singkat untuk pembaca semua yang mungkin sudah disampaikan berulang kali dari berbagai orang di sekitar Anda, yaitu bersyukur.

Kenapa bersyukur? Betul, ini bukan pesan yang baru.

Karena bagi kita yang berada di rumah, dengan masker yang cukup, hand sanitizer, dan mungkin ada beberapa teman-teman gaji yang walaupun di potong sedikit, tidak ada THR, maupun bonus, kita semua masih sangat beruntung bisa hidup sehat. Paling-paling, tidak bisa ganti handphone/ sepatu/ baju baru.

Saya belajar dari Pak Mamat yang walaupun sedang dalam kesulitan sekalipun, bercerita tentang menurunnya usaha bakmie dia sekarang. Ia tetap tersenyum dan yakin sekali ‘this too shall pass’. Saya setuju dengan Pak Mamat.

 

Untuk blog kali ini, saya memilih judul yang mungkin agak janggal, apa lagi bagi profesi seperti saya yang berkerja sebagai stock broker di Bursa – seharusnya uang adalah segalanya di capital market. Dan mungkin agak aneh untuk blog perusahaan investasi yang mempertanyakan bahwa uang itu tidak terlalu penting. Di saat yang kritis seperti sekarang, mungkin ada saatnya kita merefleksikan hal ini.

Saya teringat suatu cerita yang mungkin Anda pernah dengar sebelumnya yang bisa memberikan kita semua persepsi baru…

 

Pada suatu hari, sekelompok alumni yang sangat mapan dalam karier mereka ingin ‘keep in touch’, bersilahturahmi dengan dosen yang dulu pernah mengajar mereka saat kuliah. Alumni-alumni ini pun menghampiri rumah sang dosen.

Tidak lama mengobrol, percakapan tersebut segera berubah menjadi keluhan tentang stres dalam pekerjaan, kehidupan, dan lain-lain.

“Wah saya stres penjualan saya meleset 10 miliar tahun ini. Seharusnya bisa dapat lebih” curhat alumni pertama.

“Saya baru kehilangan klien karena salah bicara saat meeting” kata yang lain.

“Kalau saya lagi pusing sebentar lagi ada event besar, belum ada persiapan matang…”

Dari yang dulu hanya murid dan sekarang menjadi pimpinan, alumni tersebut pun banyak bercerita tentang dunia korporat mereka.

Sembari menyimak, dosen mereka pun berdiri sejenak dan pergi ke dapur, kembali dengan sepoci besar kopi, lalu menawarkannya ke murid-murid tersebut. “Sambil curhat sambil ngopi,” kata sang dosen.

Tentunya Ia juga membawa cangkir-cangkir dari dapurnya. Kebetulan cangkir tersebut ada berbagai macam: ada yang cangkir plastik, keramik, kristal, adapun cangkir tua yang tidak terlalu bagus.

Beberapa cangkir tampak sederhana, beberapa mahal, beberapa indah – pak dosen pun segera menjamu tamunya “silahkan tuang sendiri ya.”

Sang murid pun langsung mengambil cangkir masing-masing.

Ketika semuanya sudah memegang secangkir kopi di tangannya, dosen itu pun berkata: "Coba kita semua perhatikan… Cangkir mahal yang terlihat bagus sudah kalian ambil. Memang ada tertinggal beberapa cangkir yang sederhana dan murah, yang plastik ini contohnya.

Sangatlah normal bagi kita semua untuk menginginkan hanya cangkir yang terbaik untuk diri kita sendiri. Jangan-jangan itulah mungkin sumber masalah dan stres kalian. Kita semua terlalu fokus untuk mencari yang terbaik dalam kehidupan dan melupakan hal yang lebih penting - ingatlah bahwa cangkir itu sendiri tidak menambah kualitas kopi.

… beberapa cangkir ini kebetulan hanya lebih mahal dan seringkali kita lupa dengan apa yang kita minum. Malahan kita terlalu sering terpana dengan bagusnya cangkir tersebut.

Ketahuilah, apa yang sebenarnya kalian semua inginkan adalah kopi, bukan cangkir, walaupun secara sadar kalian mencari cangkir, atau bahkan piala terbaik.

... Dan tidak hanya mengamati cangkir masing-masing, bahkan kita semua melirik kiri dan kanan cangkir disebelah kita.

 

Mungkin saya sarankan kalian untuk mempertimbangkan hal ini: Hidup adalah kopi; pekerjaan, uang, dan posisi dalam masyarakat adalah cangkir.

Cangkir kalian hanyalah aksesori untuk menampung kehidupan, dan jenis cangkir yang kita miliki tidak mendefinisikan atau mengubah kualitas hidup yang kita jalani.

Alhasil, sering kali kita gagal menikmati kopi. Orang yang paling bahagia tidak memiliki terbaik dari semuanya. Mereka hanya melakukan yang terbaik dari semuanya.

Mungkin disaat yang cukup sulit sekarang, beberapa dari kita terpaksa untuk berpindah ke cangkir yang tidak terlihat begitu bagus. Tetapi bersyukurlah, kopi yang kita hirup sekarang masih senikmat seperti biasa, asalkan kita terus menghargainya.

 

Ditulis oleh Irwin Saputra, 30 April 2020

Tag

Share :

View All Article

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Tersenyum di Depan Tembok

Kita berada pada titik di mana pandemi Covid-19 me...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Irwin Saputra Inflation is Coming... are you ready?

Sebentar lagi era inflasi akan hadir. Siapkah Anda...

Tags : belajar saham, belajar investasi, Blog Sucor Sekuritas, blog sucor,

More Information
Posted by Lindrawati Widjojo Halte Bus Ketiga

Pandemik covid ini adalah krisis ketiga dalam kari...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Kecanduan Hutang

Kangen WFH?  Berkat WFH, saya jadi rajin b...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
about
about

2020 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.