Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Teori Basketball

Hot Hand Fallacy

Pada tahun 1985, seorang matematis dari California bernama Amos Tverskey mempublikasikan riset yang sangat menarik untuk kita pelajari sebagai investor. Judulnya yaitu “The Hot Hand in Basketball.”

Ya betul, Basketball. Salah satu teori tentang market yang sangat menarik datang dari olahraga ini.

Beginilah teorinya. Dalam permainan Bola Basket, dimana objektif untuk menang yaitu melempar bola ke ring dan mencetak skor sebanyak-banyaknya pada waktu yang singkat, secara tidak sadar pemain yang baru saja mencetak skor dari lemparan jarak jauh akan lebih berani untuk melakukannya lagi karena lemparan sebelumnya berhasil.

Padahal, melempar bola dari jauh, apa lagi diluar garis three point, sangatlah beresiko dan jarang sekali berhasil. Bola bisa meleset dan jatuh ke tangan lawan.

Uniknya, hot hand fallacy mengatakan bahwa tingkat PD dari pemain tersebut akan jauh lebih tinggi, jika sebelumnya ia berhasil. Menarik bukan? Padahal logikanya belum tentu.

Lebih unik lagi, rekan tim dari pemain yang ‘tangannya sedang wangi’ (istilah orang Indonesia), juga akan lebih sering mengoper ke shooter tersebut, karena ia percaya bahwa rekannya sedang beruntung. Pelatih, dan Penonton, juga sama. Mereka akan berpikir, shooter yang sedang hoki itu pun pasti akan berhasil scoring lagi.

Teori dari Tverskey ini menjadi sangat terkenal di beberapa tahun kemudian, apa lagi saat pasar saham menjadi booming (Bull Market Rally). Investor yang dahulu sangatlah mengacu kepada teori Benjamin Graham, dimana value sangatlah penting dalam analisa nilai suatu saham, tiba-tiba menjadi dongeng masa lalu.

Pasar saham yang terus naik membuat investor percaya bahwa statistik atau probabilitas berbicara lebih keras dalam hati para pelaku pasar. Hot Hand Fallacy. Seakan-akan chart harga dari suatu instrumen investasi akan terus naik. Mengapa? Karena chart kemarin naik!

Besok harga naik karena kemarin sudah naik. Lalu besoknya lagi. Terus menerus seperti itu.

Begitu juga sebaliknya.

Alhasil, saham yang sudah mahal menjadi jauh lebih mahal. Dan saham yang sudah murah menjadi tambah murah.

Suatu studi di pasar Amerika Serikat menunjukan bahwa. Jika pasar hari ini naik ... ada kemungkinan 73% dari pasar besok juga naik, dan probabilitas 27% bahwa pasar besok akan tutup menurun.

Jika pasar saat ini turun ... ada kemungkinan 62% bahwa pasar besok juga akan turun, dan hanya probabilitas 38% bahwa pasar akan ditutup lebih tinggi.

Ujung-ujungnya, kita sebagai investor menjadi sangat aggresif untuk mengejar saham yang sedang rally 10%, 20% atau bahkan lebih, dalam sehari. Lalu apa akibatnya?

Suatu market behavior atau perilaku pasar yang sederhana ini memakan banyak sekali korban. Dot Com bubble tahun awal tahun 2000 misalnya, dan collapse pasar saham Amerika Serikat tahun 2008 adalah contoh lainnya. Dan mungkin BitCoin rally tahun 2017 masih menjadi memori segar di benak para investor.

Sebagai investor di Indonesia, Hot Hand Fallacy juga punya suatu cerita sendiri. Kasus investasi bodong yang terkait sekali dengan saham terbilang “gorengan” atau terus naik “auto reject” setiap hari merupakan salah satu contohnya. Tidak sedikit investor yang terbuai dengan sebuah saham dengan chart yang naik menukik keatas.

100% atau bahkan 300% dalam satu tahun. Istilahnya dalam satu tahun bisa menjadi 3 kali lebih kaya, chart yang menukik keatas membuat para investor bahkan yang tergolong expert sekalipun gelap mata. Lupa sudah semua analisa value atau timbang hasil risk reward dalam membeli saham.

Kita semua mungkin sudah tahu persis apa yang terjadi kemudian. Semua saham yang naik, tidak selalu naik di kemudian hari.

Di kisah yang sederhana ini, saya jadi teringat oleh perkataan Warren Buffet yang semustinya dipegang erat sebagai prinsip investor zaman ini. “Just Looking At The Chart Is Not Investing.”

 

Tambahan sedikit short story dari saya.

A man wakes up and looks at his clock. It is 7:07 am.

He gets out of bed, goes downstairs and glances at his calendar. It says it is July 7, the seventh day of the seventh month.
As he steps outside he notices Bus #7 going by. He walks to a coffee shop and orders a coffee and a bite to eat and the bill comes to $7.77.

The man thinks "hmmmm... all these sevens... I think the universe is trying to tell me something."

So feeling that maybe this is his lucky day, the man cuts out early from work and goes to the race track. He reads the racing schedule and sees that in the seventh race horse # 7 is called "Lucky Universe". The man can't believe it. He runs up to the teller and bets all his money on the horse.

The horse came in seventh.

 

Ditulis oleh Irwin Saputra, 15 Januari 2020

Tag

Share :

View All Article

Related Article

Posted by Oriana Titisari Belajar Berserah

Saat menulis blog ini, saya sedang duduk di kantor...

Tags : Investasi,

More Information
Posted by Irwin Saputra Orang Ynag Tidak Melakukan Kesalahan, Tidak Akan Pernah Berhasil

Tentunya, banyak orang sukses di dunia ini. Beb...

Tags : Investasi, Sekuritas, Sucor Sekuritas, Blog Sucor Sekuritas, blog sucor,

More Information
Posted by Irwin Saputra Hot Hand Fallacy

Pada tahun 1985, seorang matematis dari California...

Tags : Saham, Investasi, SPOT, Onine Trading, Sekuritas,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Brazilian Jiu Jitsu dan Sapi Ungu

Sekitar lima tahun yang lalu, di antara lompatan (...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, Investasi,

More Information
about
about

2020 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.