Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Menanti di halte bus

Halte Bus Ketiga

Pandemik covid ini adalah krisis ketiga dalam karier saya. Saya melihat krisis itu seperti berada di halte bus. Busnya berhenti di depan, dan semua tergantung kita apakah mau naik atau tidak. Tiap krisis memberi pelajaran tersendiri bagi saya. Kira-kira begini pengalaman saya.

 

Halte Bus Pertama: Krisis tahun 1998

Krisis pertama yang saya hadapi terjadi pada tahun 1997/8. Pada saat itu Sucor baru 9 tahun berdiri. Masih bayi. 

Saya melihat dan merasakan sendiri bagaimana kurs USD/Rupiah bergerak dari Rp 2,500 di tahun 1997 menjadi Rp 16,650 di tahun 1998. Nilainya tersisa 15%. Sementara itu JCI turun dari 740 menjadi 260 (-65%) di saat yang sama. Kombinasi turunnya harga saham dan jatuhnya rupiah tentu sangat terasa bagi investor. 

Pada saat itu tingkat hutang dalam USD di perusahaan-perusahaan Indonesia demikian tinggi. Sebagai anggota baru macan Asia, sentimen positif dan arus investasi ke Indonesia dan Asia Tenggara sedang tinggi-tingginya. Kepercayaan investor dalam dan luar negeri begitu kuatnya terhadap kemampuan negara-negara ASEAN mengelola floating currency terhadap USD. Pinjam USD dengan bunga rendah, investasi di mata uang dan aset ASEAN menjadi mantra, dan banyak yang percaya free lunch memang ada. 

Saking bullish-nya sentimen terhadap macan Asia baru, kita sampai lupa memperhatikan kondisi mitra dagang ASEAN, yaitu Jepang, yang sedang mengalami kemerosotan nilai tukar Yen dari 80 di musim semi tahun 1995 ke 115 mendekati masa krismon 1997/98. Juga lupa memperhatikan geliat pesaing baru ASEAN, yaitu Cina yang mulai menjadi pemain penting di era globalisasi. 

Sampai tiba-tiba kita diingatkan melalui krisis yang melanda, bahwa tidak ada yang namanya free lunch

Ibarat mobil sedang melaju di jalan tol tiba-tiba bannya kempes. Rem mendadak. 

Banyak sekali cerita kebangkrutan perusahaan-perusahaan lokal, harga surat utang pun turun drastis. Bahkan surat utang PLN, perusahaan listrik yang tidak mungkin bangkrut karena dijamin negara, juga turun tajam ke 65%. 

Bank-bank BUMN juga minta restrukturisasi. Bisa dibayangkan bagaimana dengan perusahaan swasta yang lebih kecil dan tidak se-strategis BUMN. Pastinya posisi mereka lebih susah lagi. Saham blue chip seperti Astra International pun seperti tidak ada harganya lagi, turun dari sekitar Rp 4000 di akhir tahun 1997 menjadi Rp 145 pada bulan September 1998.

Yang membuat keadaan semakin parah, krisis mata uang ini memiliki efek domino ke krisis politik, yang dimulai dari demo mahasiswa dan insiden penembakan, kemudian terjadi kerusuhan dan penjarahan.

Pada saat itu, saya merasakan ketakutan saat melihat dari jendela apartemen asap kebakaran di mana-mana, bunyi helikopter dan ambulance menjadi warna yang tidak mungkin terlupakan. Sampai-sampai pintu utama komplek apartemen saya pun dijaga mobil tank. Saya ingat persis, bagaimana saat itu saya sedang menunggu kedua anak pulang dari sekolah. Mereka belum pulang dan tidak bisa dikontak karena itu era sebelum ponsel ada dimana-mana. 

Ketakutan dan kecemasan mendominasi emosi, tidak ada yg lebih penting dari keselamatan anak-anak saya. Setelah tiga jam menanti dengan cemas, akhirnya anak saya tiba di rumah. Sungguh kelegaan yang luar biasa. 

Saya jadi teringat apa yang pernah dikatakan tycoon Hong Kong Li Ka Shing: “I believe that a happy family is the most important thing. The ups and downs in a business are trivial matters.”

Banyak yang mengatakan 1998 ini krisisnya group bisnis besar, karena mereka paling banyak punya hutang USD dan jatuhnya nilai tukar rupiah tentu sangat memukul bisnis. 

Teman-teman saya di kota kecil yang memasarkan produk ke luar negeri malah melihat bisnis mereka booming, diuntungkan dengan kurs USD yang sedang berpihak ke mereka. 

Pelatih boxing dan pelatih yoga saya mungkin tidak sadar sedang ada krisis besar. Baru sadar ketika krisis itu bermetamorfosis menjadi krisis sosial politik multidimensi. Mereka tidak punya urusan dengan kurs USD. Life is simple buat teman-teman saya ini. 

Seperti yang kita ketahui, krisis ini berlangsung lama karena tidak ada bailout dan stimulus. Mekanisme pasar dibiarkan berjalan. Tapi seperti hutan yang baru terbakar, tunas-tunas kehidupan baru bermunculan dengan cantiknya. Tentu tidak ada yang suka dengan hutan yang terbakar, tetapi sebenarnya banyak manfaat dari peristiwa ini. 

Hutan yang sehat sekalipun mempunyai banyak anggota pohon yang sebenarnya telah mati. Kebakaran hutan juga memungkinkan matahari untuk menjangkau lantai hutan dan memfasilitasi pertumbuhan tunas-tunas baru yang sehat. Kita tahu bagaimana setelah periode krisis 1998, ekonomi dan pasar saham kita mengalami gairah dan pertumbuhan yang luar biasa. Perusahaan-perusahaan Indonesia menjadi sehat dengan profitabilitas yang bisa menarik investor. Periode 2003-2007 adalah periode yang menyenangkan untuk berkarier sebagai stockbroker

Seandainya pasar modal itu halte bus, siapa yang naik bus di periode krisis 1998 ini menikmati keuntungan yang luar biasa dalam beberapa tahun sesudah krisis berlalu.
 

Halte Bus Kedua: Krisis tahun 2008

Krisis kedua saya alami sewaktu Global Financial Crisis di tahun 2008. Krisis ini bermula dari spekulasi berlebihan di sektor properti di Amerika Serikat. Sektor finansial sangat terpukul karena besarnya eksposur ke sektor properti di sana. 

Krisis ini terjadi di AS dan dampaknya ke Indonesia memang tidak terasa secara langsung. Yang paling merasakan dampak krisis 2008 ini adalah para pelaku pasar modal. Karena sesuai namanya, ini krisis finansial yang skalanya menjadi global. Investor asing berebut keluar dari indonesia, dengan dampak yang sangat besar terhadap JCI. Kita melihat JCI turun dari 2960 (January 2008) menjadi 730 (Oktober 2008), atau minus 75%. 

Margin call investor di perusahaan sekuritas mengalir seperti air bah, banyak sekali. Harga saham sudah turun drastis sampai menyentuh ke auto-reject bawah, tanpa ada bid sama sekali. 

Berbeda dengan krisis 1998, krisis 2008 ini diikuti dengan stimulus besar-besaran hampir di seluruh dunia, dengan AS sebagai ketua kelasnya. Karena sifat krisisnya memang global. Sebagai gambaran, total aset bank-bank sentral utama dunia naik 4x lipat sejak 2007 hingga Februari 2020 (sebelum wabah Covid-19), dari USD 5 triliun menjadi hampir USD 20 triliun. 

Efek domino dari pencetakan uang besar-besaran ini begitu dahsyat. Bull market komoditas yang sempat terinterupsi di tahun 2008 kembali mendapat tenaga pendorong dahsyat. Harga-harga properti di seluruh dunia naik tajam. Di Indonesia sendiri, booming properti dari tahun 2010 hingga 2013 menciptakan bull market properti yang tidak ada tandingannya dalam sejarah modern Indonesia. Saham-saham komoditas dan saham secara umum juga mengalami lonjakan kenaikan tajam. 

Di periode krisis yang ini, kebanyakan teman di luar industri keuangan tenang-tenang saja. Pelatih boxing dan pelatih yoga saya tidak tahu krisis ini pernah ada. Pengaruh ke kehidupan sehari-hari minimum, dan banyak yang kemudian terheran-heran nonton The Big Short, kok ada yang seperti itu.

Karena banyaknya stimulus, krisis ini berlangsung relatif singkat. JCI kembali ke level sebelum krisis dalam waktu satu tahun dan rally terus berlangsung hingga tahun 2013.  

Mereka yang naik bus pasar saham di periode ini menikmati keuntungan yang luar biasa pada waktu market mengalami periode pemulihan. 
 

Halte Bus Ketiga: Krisis Covid-19 tahun 2020

Kita semua tahu bagaimana Pandemi Covid membawa korban jiwa yang cukup besar. PSBB menyebabkan banyak bisnis harus tutup. Mal tutup, restoran tutup, hotel tutup, dan masih banyak lagi. 

Ini ibaratnya mobil kita sedang melaju kencang di jalan tol tiba-tiba mobil depan kita berhenti mendadak, sehingga terjadilah tabrakan beruntun yang memakan banyak korban.

Kalau mal tutup maka restoran di dalam mal tutup. Jika restoran tidak membeli bahan makanan dan sayur-sayuran maka petani dan pedagang sayur ikut terpukul. Efek berantai terus berlangsung, hingga saat ini. Akibatnya, banyak perusahaan dan pedagang tidak bisa membayar bunga dan cicilan hutang di bank. 

Kali ini, pelatih boxing dan yoga saya pun mengalami masa yang sangat sulit, karena tidak bisa melatih murid-muridnya. Mendadak stop semua. Efek domino dari krisis kesehatan ini menuju ke krisis ekonomi.

Kalau 1998 adalah krisis konglomerat dan tahun 2008 adalah krisis orang sektor finansial, krisis Covid kali ini jauh lebih merata. Hampir semua kena. Seperti bom atom.

Sama seperti 2008, kali ini dunia dan terutama AS juga memberikan stimulus besar-besaran, jauh melebihi angka 2008. Dalam waktu 2 minggu, di AS sudah dikeluarkan stimulus USD 5 triliun, dibandingkan dengan krisis 2007 yang membutuhkan waktu 2,5 bulan untuk mengeluarkan stimulus USD 800 miliar. Supply uang yang bertambah luar biasa ini terjadi di seluruh dunia. 

Ini halte bus yang ketiga, dan busnya sedang datang. Pertanyaannya apakah kita bersedia memberanikan diri untuk naik? 
 

Mengapa Saham Layak Menjadi Bagian Portofolio Kita?

Belajar dari krisis-krisis sebelumnya, saya meyakini bahwa di balik krisis itu ada kesempatan besar. Kalau supply uang bertambah demikian besar, maka baiknya kita juga menjaga nilai uang dengan melakukan investasi. 

Sama dengan krisis-krisis sebelumnya, saya percaya Indonesia bisa keluar dari krisis ini dengan baik. Kenapa? Karena posisi keuangan negara kita saat ini berbeda jauh dibanding 1998. Rasio hutang/GDP saat ini 35% dibanding 80% di tahun 1997. 

Bagaimana kita bisa menikmati pemulihan ekonomi Indonesia dan menjaga nilai tabungan kita? Saya percaya salah satunya dengan investasi saham. 

Dengan investasi saham, kita bisa memilih menjadi pemegang saham perusahaan perusahaan terbaik di Indonesia. Dengan harga saham yang sedang diskon besar-besaran pula. Isn’t it awesome?

There is always a light at the end of the tunnel. Winners anticipate, not react. 

Let's stay positive, tetap semangat. Bersama kita bisa keluar dari pandemi ini dan menjadi lebih kuat. 

Investasi di pasar modal, khususnya saham, adalah posisi strategis dalam portofolio aset saya. Dasar pemikiran saya adalah agar perusahaan bertumbuh, mereka butuh tambahan modal yang dapat disediakan oleh pasar modal. Sebagai contoh, Amazon dan Alibaba tidak bisa menjadi perusahaan besar seperti sekarang kalau mereka tidak mendapatkan dukungan investor. 

Sebagai investor, modal kita bisa bertumbuh bersama dengan modalnya Jeff Bezos di Amazon dan Jack Ma di Alibaba. Bukankah ini suatu kesempatan yang luar biasa? Tidak semua orang bisa membangun perusahaan sukses. Tapi semua orang bisa menjadi investor sukses. Di Indonesia kita juga memiliki banyak perusahaan-perusahaan hebat yang dibangun orang-orang hebat. Kita bisa bertumbuh bersama mereka.

Juga ada beberapa sektor yang hampir tidak mungkin bisa kita replikasi di luar pasar saham. Misalnya kita punya pandangan harga emas akan naik secara luar biasa seperti yang terjadi setelah krisis 2008. Dan kita percaya bahwa mempunyai eksposur ke tambang emas adalah salah satu langkah terbaik. Tentu tidak mungkin buat kita untuk tiba-tiba mau melakukan eksplorasi emas di pekarangan kita misalnya. Tapi sebagai investor kita bisa membeli saham perusahaan tambang emas. Itulah cantiknya dunia pasar saham. Pilihan begitu banyak, sesuai dengan pandangan kita mengenai ekonomi dan dunia. 

Pernah saya ditanya, bukankah amat selfish jika di saat krisis kita malah memikirkan investasi saham. Saya jadi teringat kalau kita naik pesawat terbang. Selalu ada peringatan kalau ada kondisi bahaya, masker oksigen akan muncul dan yang harus kita tolong pertama kali adalah ….. diri kita sendiri dulu. Bukan anak kita, bukan orang tercinta. Diri sendiri terlebih dahulu, supaya kita nantinya berada dalam posisi bisa menolong orang lain. Tidak ada yang selfish atau salah dengan berinvestasi saham di masa krisis, dengan menolong diri kita sendiri terlebih dahulu. Supaya pada saatnya nanti kita dapat menolong sesama yang sedang membutuhkan. 

Soal menolong sesama, ingin saya tambahkan bahwa tentunya tidak semua orang dalam posisi untuk berinvestasi pada saat ini. Banyak yang sedang mengalami masa-masa yang sangat sulit dan prioritas dana yang ada untuk kelangsungan bisnis ataupun biaya rumah tangga. Bagi kita yang lebih beruntung, saat ini adalah waktu untuk compassion dan berbagi. WFH juga berarti pengeluaran kita banyak berkurang. Kelebihan dana ini dapat diinvestasikan, dan sebagian dapat disisihkan untuk berbagi buat sesama. 

Saya sedang berada di halte bus ketiga dalam karier, dan sekali lagi saya memilih untuk naik busnya. Bagi yang bisa, ayo ikut!
 

Ditulis oleh Lindrawati Widjojo, 11 Mei 2020.

Tag

Share :

View All Article

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Tersenyum di Depan Tembok

Kita berada pada titik di mana pandemi Covid-19 me...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Irwin Saputra Inflation is Coming... are you ready?

Sebentar lagi era inflasi akan hadir. Siapkah Anda...

Tags : belajar saham, belajar investasi, Blog Sucor Sekuritas, blog sucor,

More Information
Posted by Lindrawati Widjojo Halte Bus Ketiga

Pandemik covid ini adalah krisis ketiga dalam kari...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Kecanduan Hutang

Kangen WFH?  Berkat WFH, saya jadi rajin b...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
about
about

2020 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.