Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Keindahan bunga tulip di Bloemenmarkt, Amsterdam.

Gelembung Bunga Tulip

Baru-baru ini, saya menjejakkan kaki di kota Amsterdam untuk pertama kalinya. Harus diakui, ibu kota mantan penguasa Nusantara itu memang cantik. Relatively small but super charming.

Kanal-kanal yang tertata rapi di tengah kota, taman kota yang rapi dan menawan, lalu- lalang kebanyakan penduduk yang bersepeda dan restoran-restoran Indonesia yang menjajakan Rijsttafel (nasi campur yang dimodifikasi ala Belanda) amatlah berkesan.

Tidak seperti New York, Paris atau London, objek-objek menarik di kota Amsterdam bisa dijelajahi dalam waktu yang relatif singkat karena kotanya sendiri tidak terlalu besar dan transportasi publiknya sangatlah efisien.

Banyak hal unik yang pertama kali baru saya saksikan di Amsterdam, salah satunya adalah pasar terapung bunga tulip di Bloemenmarkt yang usianya sudah sangat tua. Pasar tulip ini telah ada sejak tahun 1862. Belanda bukanlah yang pertama kali dengan masif membudidayakan bunga tulip, melainkan Turki. Akan tetapi, bunga tulip sudah amat lekat dengan Belanda. Bunga tulip membawa kebahagiaan dan kebanggaan kepada orang-orang Belanda.

Siapa sangka, ternyata ada masa ketika bunga tulip membawa kesedihan luar biasa di Belanda. Peristiwa ini bernama Tulip Mania dan terjadi sekitar empat abad yang lalu.

Tulip Mania adalah peristiwa financial bubble pertama di dunia dimana harga bunga tulip yang awalnya meroket akhirnya jatuh terhempas di bulan Februari 1637. Di puncak harganya dalam periode bubble, harga bunga tulip setara dengan sepuluh kali pendapatan pekerja terampil di Belanda ketika itu!

Ternyata financial bubble memang telah ada sejak dahulu dan Tulip Mania bukan satu- satunya contoh peristiwa bubble yang lawas.

Yang juga tak kalah terkenal adalah South Sea Bubble di awal abad ke-18 yang terjadi di Inggris. Tak tanggung-tanggung, orang sekaliber Isaac Newton, fisikawan legendaris nan genius saja kehilangan uangnya dalam jumlah yang sangat signifikan dalam peristiwa tersebut.

I can calculate the motion of heavenly bodies, but not the madness of people...” ujar Newton dengan lirih ketika itu.

Jika orang sepintar Newton saja bisa terjebak dalam bubble pasar finansial, lalu apakah masih ada harapan bagi yang lainnya?

Ratusan tahun telah berlalu sejak Tulip Mania dan South Sea bubbles, dan financial bubbles telah terjadi berulang kali. Dengan pengalaman yang ada kita mengetahui bahwa financial bubbles dapat terjadi karena emosi manusia. Kenyataan ini telah dipelajari dengan cukup seksama dalam bidang ilmu Behavioral Finance, yaitu cabang ilmu keuangan yang turut memasukkan kecenderungan emosional manusia untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi dalam dunia finansial.

Robert Shiller, ekonom terkemuka dari Yale University, menyatakan bahwa financial bubble terjadi ketika investor dilanda rasa optimisme yang menular. Rasa optimisme yang menular seperti wabah membuat investor sulit untuk mempertanyakan asumsi-asumsi yang ada dengan kepala dingin dan membuat kesimpulan berdasarkan kalkulasi yang rasional.

Jika demikian, maka dapat pula kita simpulkan bahwa salah satu kunci untuk menghindari financial bubbles atau spekulasi yang berlebihan adalah kemampuan investor untuk selalu berkepala dingin. Kecerdasan emosi menjadi kunci.

Warren Buffet, investor yang melegenda menyatakan dengan sederhana : “If you cannot control your emotion, you cannot control your money...”

Jadi jelas bahwa dalam dunia investasi, tidak hanya dibutuhkan kecerdasan kognitif semata. Kecerdasan emosi juga menjadi salah satu kunci dalam suksesnya pengelolaan investasi. Saya tidak percaya bahwa Warren Buffet jauh lebih pintar dibanding Isaac Newton. Namun bisa jadi Buffet mempunyai kecerdasan emosi lebih dibandingkan Newton.

Bunga tulip memang indah... Bayangan agar investasi kita mempunyai keuntungan berlipat ganda dalam waktu singkat juga memang indah (dan mungkin).

Sayangnya, sesuatu yang indah kadang membuat kita terbawa emosi dan melupakan kalkulasi sehingga terjebak oleh kejadian-kejadian yang sebenarnya dapat dihindari. Jadi, tetaplah berinvestasi tanpa terbuai emosi...

 

Ditulis oleh Syaiful Adrian, CFA, 19 Juli 2019

Tag

Share :

View All Article

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Membagikan Kebahagiaan

Awal Agustus lalu, dalam kunjungan ke Las Vegas, s...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, Blog Sucor, Belajar Investasi, Belajar Saham,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Merdeka Untuk Memilih

Baru-baru ini saya berkunjung ke Los Angeles, Amer...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, Blog Sucor, Investasi, Belajar Investasi, Belajar Saham,

More Information
Posted by Irwin Saputra Lesson from NBA Player

Pernahkah kita bertanya mobil apakah yang dikendar...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, Blog Sucor, Investasi, Belajar Investasi, Belajar Saham,

More Information
Posted by Oriana Titisari STalk: Strategi Sukses Investasi Saham dan Fundamental Analisis

Sucor Sekuritas tak henti-hentinya berbagi ilmu se...

Tags : SPOT, STalk, Belajar Investasi, Belajar Saham, Blog Sucor Sekuritas, Blog Sucor,

More Information
about
about

2019 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.