Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Acara Trend Digital Society di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta.

Financial Breakthrough Ala Anak Rantau Ibukota

“Udah tanggal 24 nih! Asik, besok gajian!”

Begitu sorak teman sekantorku dengan bahagia ke temanku yang lain.

“Yah, lumayan lah. Bisa buat bayar cicilan iPhone terbaruku, ga kerasa tinggal 3 bulan lagi nih!” sahut temanku yang lain.

Begini lah behind the scene dari kehidupan sebagian besar para eksekutif muda di Jakarta.

Mungkin, sahutan temanku itu terdengar aneh buat sebagian orang yang tinggal di luar ibukota. Dengan bangganya, dia membeli iPhone terbaru dengan cara dicicil ke teman sekantornya. Namun, hal itu bukan lah sesuatu yang aneh buat aku seorang perantau yang kini menjadi seorang eksekutif muda di salah satu perusahaan ternama di Indonesia.

Pakaian rapi. Sepatu Kinclong. Rambut Klimis. Smartphone model terbaru. Tentengan clutch branded ala selebritas papan atas di ibukota. Namun siapa sangka, di balik kemewahan eksekutif muda tersebut, ada penderitaan yang mungkin tidak banyak orang tahu, yaitu CICILAN KARTU KREDIT!

Aku pun pernah mengalami kisah di atas. Beginilah kisahku.

Jumat, 17 Mei 2019

Hari ini, usiaku genap menjadi dua puluh delapan tahun. Ucapan syukur aku panjatkan kepada Sang Pencipta karena setelah enam tahun di Jakarta, akhirnya, aku menemukan passion dan visi hidup untuk terus berkarier di industri keuangan. Namun, siapa sangka jika aku pernah mengalami struggle yang nyaris menghancurkan masa depan, yaitu mengenai pengelolaan keuangan pribadi.

Pada event Trend Digital Society yang diselenggarakan di Main Hall Bursa Efek Indonesia tanggal 11 Mei 2019 lalu, aku menyampaikan bahwa era digital yang sedang berkembang saat ini bisa menjadi pedang bermata dua, terutama untuk para milenial. Di satu sisi, era digital ini membuka banyak lapangan pekerjaan baru, seperti selebgram, youtuber, maupun digital marketer. Namun di sisi lain, era digital ini membuat para milenial mudah terpengaruh gaya hidup konsumtif dan hedonisme.

Bernadus Wijaya ketika menjadi pembicara di acara Trend Digital Society

Enam tahun lalu, aku memulai karir di bank asing dengan gaji layaknya seorang banker pada waktu itu. Namun, selama tiga tahun berkarir di perusahaan ini, aku sama sekali tidak bisa mengumpulkan aset. Yang terjadi malah sebaliknya, tiap bulan gajiku terserap untuk cicilan kartu kredit. Bahkan, tiap weekend aku pun harus terpaksa bekerja part-time sebagai Wedding MC atau pun Wedding Singer untuk memenuhi kebutuhan hidupku.

Hal ini terjadi karena aku tidak bisa mengendalikan diri untuk hidup secukupnya, namun terpengaruh oleh gaya hidup konsumtif dan hedonisme khas ibukota. Nongkrong-nongkrong di restoran mewah, belanja barang-barang mahal, dan liburan ke luar negeri, menjadi gaya hidup yang lumrah buat saya.

Gaya hidup ini terus berlanjut hingga aku mendapatkan pencerahan dari Ibu Lindrawati Widjojo, Founder Sucor Sekuritas, sekitar dua tahun yang lalu.

 “Bernard, kamu hidup jangan boros-boros ya. Sisihkan sebagian gaji kamu untuk diinvestasikan masa kerja di Sekuritas ga investasi buat diri kamu sendiri. Ini buat masa depan kamu lho.” ujar beliau.

Masa depan? Ternyata, zaman sekarang masih ada sosok yang peduli tentang masa depan orang lain, dan ia adalah bosku sendiri. Mengapa aku malah tidak memikirkan masa depanku sendiri? Dari sini aku pun mulai berpikir. Aneh juga ya, aku kerja di Sekuritas tapi tidak memahami konsep investasi.

Aku pun mulai mencari tahu dan belajar bagaimana investasi saham itu bekerja. Workshop demi workshop pun aku jalani demi meningkatkan pengetahuan tentang pasar modal. Akhirnya, setelah memiliki pengetahuan yang cukup, aku pun memberanikan diri untuk mulai berinvestasi di pasar modal.

Investasi yang aku lakukan dimulai dari instrumen saham dan reksadana. Sejak itu, aku tidak hanya mendapatkan capital gain, namun mindset ku akan pengelolaan keuangan pribadi juga berubah. Tiap bulan, aku pasti membuat budget bulanan untuk membatasi berapa jumlah uang yang boleh dikeluarkan dan berapa jumlah uang yang diinvestasikan.

Bahkan, karena aku sudah mulai berinvestasi di pasar modal, kebiasaan lama makan di restoran mewah dan beli barang branded sudah pupus. Jika ada uang berlebih, pasti ujung- ujungnya ingin langsung dibelikan ke saham yang secara trend atau valuasi sedang bagus.

Hal ini sangat sesuai dengan konsep delayed gratification yang juga merupakan salah satu pilar penting untuk mencapai kemerdekaan finansial (simak blog sebelumnya di On Delayed Gratification). Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

Ini hidup aku yang baru. Hidup yang berorientasi pada masa depan. Bagaimana dengan hidupmu?

Ingin mengenal lebih lanjut mengenai serunya berinvestasi di pasar modal? Tunggu tulisanku selanjutnya atau kalian bisa ikuti instagram kami di @sucorsekuritas

Happy Investing!

 

Ditulis oleh Bernadus Wijaya, 17 Mei 2019

Tag

Share :

View All Article

Related Article

Posted by Wuddy Warsono Setelah Melompat, Belajar dari Nyai Ontosoroh

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatn...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor,

More Information
Posted by Oriana Titisari Mari Lompat!

Pagi ini saya tengah menikmati kemacetan biasa di ...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Balada Mati Air

To pee or not to pee? Pertanyaan ini yang ...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Wuddy Warsono Memilih Untuk Menghitung Berkat

“The ancestor of every action is a thought&r...

Tags : blog sucor, Blog Sucor Sekuritas, belajar saham, belajar investasi,

More Information
about
about

2019 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.