Loading... Please wait!

banner

Blog

Sucor Sekuritas

Latest Blog Post

Mari kita gowes!

Cinta Lama Bersemi Kembali

Genap satu bulan terakhir ini, saya menemukan kembali cinta lama yang sudah cukup lama hilang, bersepeda. Ya, dulu semasa kecil, bersepeda adalah salah satu aktivitas favorit saya meski harus puas dengan sepeda BMX lungsuran dari kakak. Namun semenjak bersekolah di SMP, hobi ini harus perlahan saya tinggalkan karena jarak antara rumah dan sekolah yang semakin jauh sehingga cukup memakan waktu bermain. Terlebih ketika beranjak dewasa, cinta saya berpaling ke sepeda motor yang menurut saya, memiliki sensasi yang mirip, tapi tanpa bonus rasa pegal di paha.

Namun kemudian cinta lama saya bersemi kembali. Dengan sedikit paksaan dari istri, akhirnya saya memulai kembali gowes sepeda. Diawali dengan membeli sepeda yang biasa saja, saya kemudian agak menyesal kenapa tidak membeli sepeda dengan fitur-fitur yang lebih mumpuni. Dan hal ini diperparah dengan kenyataan bahwa saat ini, sepeda baru menjadi barang yang sangat langka, baik di toko outlet resmi maupun toko sepeda biasa, seiring tingginya permintaan sepeda di masa pandemi Covid-19.

Masih dengan keinginan mencari sepeda yang lebih baik, saya bahkan sampai melakukan riset on the ground demi menjawab rasa penasaran. Dimulai dari mengunjungi lebih dari 5 toko sepeda hingga bergadang mencari tipe sepeda yang saya inginkan di 3 online platform dan 4 platform marketplace.

Tapi kenyataan ternyata cukup pahit, pilihan di toko sepeda dan online platform sangat terbatas karena stok sepeda mereka hanya tersisa kurang dari 20%. Sementara, pilihan di marketplace cukup beragam, meski dengan harga 30% lebih mahal dan belum termasuk faktor risiko seller fiktif. Saya hanya bisa membayangkan betapa enaknya hidup para pemilik toko sepeda yang melihat stok sepeda mereka laku keras dan inventory days yang tidak lebih dari seminggu untuk stok baru. Akhirnya saya memutuskan untuk berpuas diri dengan sepeda yang saat ini dimiliki, meski dengan konsekuensi berbelanja krim pereda rasa pegal lebih banyak.

Hingga semalam, saya dikejutkan oleh berita yang menyatakan bahwa pemerintah, melalui Kementerian Perhubungan, membuka wacana untuk mengenakan pajak atas sepeda seiring dengan populasi sepeda yang meningkat sangat signifikan dalam 3 bulan terakhir. Saya tak habis pikir, gimana caranya sepeda dipajakin? Tapi setelah mencari tahu, ternyata hal ini pernah diterapkan oleh pemerintah di sekitar tahun 1960-90an yang mengenakan pajak untuk beberapa barang seperti sepeda, dokar (kereta kuda), becak, televisi dan bahkan radio. Plombir istilahnya jaman dahulu, atau Peneng dalam sebutan bahasa Jawa. Mekanismenya, pemilik sepeda harus membeli stiker/plat besi tanda bayar pajak dan kemudian ditempelkan di sepeda mereka agar bisa lolos dari razia petugas yang biasa dilakukan di pasar atau jalan raya. Besarannya tergantung dari nilai sepeda sehingga pajaknya akan makin mahal seiring dengan semakin tingginya nilai sepeda.

Hal ini langsung mengingatkan saya akan salah satu risiko di dunia keuangan yang disebut dengan regulatory risks.

Risiko yang harus dihadapi dan diantisipasi dunia bisnis dalam keterkaitannya dengan regulasi atau aturan dari pemerintah. Telah beberapa kali pelaku bisnis di Indonesia harus berhadapan dengan intervensi dari pemerintah dalam bentuk perubahan atau regulasi baru, seperti misalnya aturan down payment di sektor kredit properti dan kredit kendaraan bermotor, pelarangan ekspor mineral mentah, moratorium pembukaan lahan perkebunan baru hingga aturan baru bea masuk barang impor melalui e-commerce. Hal ini seringkali memberikan dampak signifikan bagi para pelaku bisnis, terutama mereka yang tidak bisa secara luwes mengadaptasi peraturan baru tersebut.

Kembali ke sepeda, saat ini saya merasa lebih bisa berlapang dada karena belum jadi mengganti sepeda dengan yang baru. Saya membayangkan bagaimana kagetnya teman-teman gowes lain yang sudah terlanjur membeli sepeda dengan harga yang sangat mahal, bahkan hingga memesan built-up dari luar negeri. Begitu juga dengan selebriti dan influencer yang sudah mempublikasikan kisah romansa dengan sepeda mereka. Hal ini membuat saya kembali tersadar, ternyata ada gunanya juga waktu itu membeli sepeda bersama istri sehingga menjadi lebih rasional dalam melakukan pembelian.

Ternyata, istri adalah kunci… eh, maksud saya, rasionalitas adalah kunci.. dan tentu harus dipadukan dengan ISO dan SNI. 

Salam gowes paha perih!

 

Ditulis oleh Adrianus Bias, 30 Juni 2020.

Tag

Share :

View All Article

Related Article

Posted by Edward Lowis Sucor Extreme On-the-Ground - Automotive Sector

Sucor Extreme On-the-Ground  berkesempatan un...

Tags : Sekuritas, Saham, Blog Sucor Sekuritas, report,

More Information
Posted by Adrianus Bias Cinta Lama Bersemi Kembali

Genap satu bulan terakhir ini, saya menemukan kemb...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Irwin Saputra What Drives P/E – Popularity Issue?

Teman-teman ada yang pernah nonton film Money...

Tags : Blog Sucor Sekuritas, blog sucor, belajar saham, belajar investasi,

More Information
Posted by Oriana Titisari 13 Reasons Why...

Bagaimana kabar Anda semua? Semoga masih #dirumaha...

Tags : blog sucor, Blog Sucor Sekuritas, belajar saham, belajar investasi,

More Information
about
about

2020 PT. Sucor Sekuritas All Rights Reserved.